Jember (beritajatim.com) – Harga tetes tebu pada musim panen tahun ini anjlok dibandingkan tahun lalu. Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Pabrik Gula Glenmore di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mendesak pemerintah pusat bertindak.
“Harga tetes tebu jauh dari harapan petan. Pada 2024, tetes tebu laku terjual Rp 3 ribu per kilogram, naik dari angka Rp 2.400 per kilogram. Ini anjlok parah, terjun payung, pada kisaran seribu rupiah per kilogram pada Mei 2025,” kata Ketua APTR PG Glenmore Siswono, Kamis (5/6/2025).
Persoalan ini sudah dibahas oleh jajaran manajemen PG Glenmore dan pengurus APTR di Rumah Makan Lestari, Jember, 2 Juni 2025. “Kualitas tetes semakin turun kalau ditahan lama (tidak segera dijual dan diolah, red). Ketika kualitas turun, harga pasar semakin sulit,” kata Siswono.
Akhirnya disepakati tetes tebu segera dilepas walau dengan harga rendah. “Ini dilema bagi kami. Kami berharap Menteri Perdagangan dan DPR RI bisa memfasilitasi dan memberikan solusi. Kenapa harga ini kok tiba-tiba terjun payung di luar dugaan petani?” kata pria yang juga anggota DPRD Jember ini,
Manajemen PG dan APTR juga sepakat melayangkan surat ke Kementerian Perdagangan, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APTR dan APTR Provinsi Jawa Timur untuk memperkuat suara petani tebu. “Kami berharap dengan mengadukan masalah ini ke berbagai pihak, suara kami didengar dan ada tindakan nyata untuk memperbaiki situasi ini,” kata Siswono.
Siswono mengingatkan, gula juga bagian dari komoditas ketahanan pangan. Petani tebu perlu kebijakan dari pemerintah untuk mencegah permainan spekulan tetes tebu. “Informasi yang kami tangkap, ini permainan elite. Kami mohon wakil rakyat di DPR RI memanggil para pihak untuk mengurai anjloknya harga tetes,” katanya.
“Kalau pada akhirnya tidak menemukan solusi, ini patut kita curigai. Jangan sampai dalam situasi kondusif ini petani melakukan upaya yang tidak kita inginkan,” kata Siswono, menegaskan komitmen APTR untuk mendukung program ketahanan pangan. [wir]






