Kediri (beritajatim.com) – Harga telur ayam di Kediri, Jawa Timur, mengalami lonjakan signifikan pada akhir September 2025. Harga telur yang sebelumnya berada di kisaran Rp25.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp27.000. Kenaikan ini mempengaruhi konsumen dan peternak, dengan peternak merasa dampak terbesar akibat naiknya harga pakan ternak.
Helmi Aulia, pemilik Peternakan Telur Nusantara Agrenesia yang terletak di Senowo, Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama kenaikan harga telur adalah meningkatnya biaya pokok produksi di tingkat peternak. “Harga pakan memang jadi beban utama,” ujar Helmi, Minggu (28/9/2025).
Peningkatan biaya pakan ternak, seperti jagung dan bekatul, menjadi sorotan utama dalam permasalahan ini. Harga jagung kering yang sebelumnya Rp5.500 per kilogram kini naik menjadi Rp6.700 per kilogram, sedangkan harga bekatul melonjak hingga 30 persen dari Rp3.500 menjadi Rp5.000 per kilogram.
Peternakan Telur Nusantara Agrenesia, yang telah beroperasi sejak 2019, merasakan betul dampak kenaikan harga pakan ini. Meski produktivitas telur tetap stabil, biaya produksi yang semakin tinggi membuat peternak terpaksa mengurangi populasi ayam mereka. Akibatnya, suplai telur di pasar berkurang, meskipun permintaan tetap tinggi.
Dinas Perdagangan Kabupaten Kediri, melalui Kepala Dinas Tutik Purwaningsih, mengonfirmasi adanya kenaikan harga telur di pasar. Tutik menjelaskan bahwa kenaikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti peningkatan kebutuhan masyarakat, naiknya harga pakan ternak, dan musim pancaroba yang turut memengaruhi produktivitas ayam petelur.
Sebagai respons terhadap lonjakan harga ini, Peternakan Telur Nusantara Agrenesia mencoba menerapkan strategi efisiensi pakan dan pemasaran langsung. Helmi Aulia mengungkapkan bahwa dengan memangkas rantai distribusi dan menjual telur langsung ke kios atau toko, peternak dapat memperoleh margin keuntungan yang lebih baik.
“Kalau fokus hanya pada pakan, penghematan paling sekitar Rp200-Rp500 per kg. Tapi kalau peternak bisa jual langsung, margin yang didapat bisa Rp500 hingga Rp2 ribu. Itu lebih signifikan,” ujarnya.
Meskipun demikian, kondisi ini menunjukkan rapuhnya rantai pasok pangan. Selama harga pakan, terutama jagung dan bekatul, tidak dapat dikendalikan, harga telur akan terus menjadi ancaman bagi stabilitas pangan di Kediri dan sekitarnya.
“Kelangkaan bukan berarti telur tidak ada, tapi jumlahnya di pasar menurun. Sementara permintaan tetap tinggi, bahkan cenderung meningkat,” tambah Helmi. [nm/suf]






