Surabaya (beritajatim.com) – Harga plastik di pasar Surabaya mengalami lonjakan yang signifikan, mencapai 40 persen sejak lebaran Idul Fitri 2026.
Fenomena ini memicu kekhawatiran para pelaku usaha, terutama di sektor industri kecil dan menengah (IKM) serta UMKM yang masih bergantung pada bahan baku plastik. Namun, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya melihatnya sebagai peluang untuk melakukan transformasi industri menuju bahan baku yang lebih berkelanjutan.
Ketua Umum Kadin Surabaya, Ali Affandi, menilai kenaikan harga plastik bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berinovasi. Menurutnya, sektor IKM dan UMKM seharusnya mulai beralih ke bahan pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan.
“Bagaimanapun keberlangsungan atau sustainability itu perlu. Jadi, dengan harga plastik yang naik, harapannya muncul inovasi baru di mana UMKM bisa beralih ke sektor pengganti plastik atau mencari produk komplementernya,” kata Ali, Jumat (10/4/2026).
Ali Affandi juga menekankan pentingnya menggunakan bahan yang lebih mudah terurai oleh tanah sebagai alternatif plastik konvensional. Ia optimis bahwa inovasi lokal dapat mengatasi tantangan ini, mengingat banyaknya bahan baku alami yang tersedia di sekitar kita.
“Bahan pengganti plastik itu sudah banyak dari inovasi lokal. Entah itu dari tanaman, entah itu dari kertas dan lain sebagainya yang bisa lebih mudah terurai. Intinya, setiap tantangan pasti memiliki peluang menuju perubahan,” ungkap Ali.
Meski demikian, Kadin Surabaya belum mengeluarkan imbauan resmi kepada anggotanya terkait peralihan bahan baku. Ali menjelaskan bahwa pihaknya masih melakukan pemantauan intensif untuk melihat dampak riil dari kenaikan harga plastik terhadap industri.
“Kami masih mengecek kondisi di lapangan karena kenaikan ini tentu berdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung, terhadap industri yang masih bergantung pada bahan baku plastik,” katanya.
Meskipun data mengenai pengusaha yang sudah beralih ke bahan ramah lingkungan belum lengkap, Kadin Surabaya berkomitmen untuk melakukan verifikasi dan memberikan data yang akurat. “Data terbaru saya belum cek, tapi nanti saya cek. Datanya akan kami provide secara akurat,” tutup Ali.
Sementara itu, para pedagang plastik di Surabaya juga mengungkapkan keluhan mereka akibat lonjakan harga yang terus meningkat. Mimin, seorang supplier plastik di Toko Plastik Laksono di Pasar Pucanganom, menyatakan bahwa harga plastik sudah naik sekitar 40 persen sejak Maret 2026.
“Sudah pokoknya berbicara harga plastik itu, kita (pedagang) tidak bisa polah-polah. Dari harga Rp9 ribu itu tiba-tiba naik menjadi Rp15 ribu, semua jenis plastik naiknya hampir 40 persen,” ujar Mimin.
Kenaikan harga ini disebabkan oleh tersendatnya pasokan bahan baku plastik akibat ketegangan konflik di Timur Tengah. “Katanya biji plastik ini dibuatnya dari minyak bumi,” tambah Mimin, yang menambahkan bahwa pasokan energi dari minyak yang masuk ke Indonesia terganggu akibat konflik yang belum mereda. [rma/suf]






