Harry Kane berjongkok. Pandangannya terpaku pada rerumputan. Kosong. Seharusnya ia menjadi pahlawan Inggris. Seharusnya. Semestinya ia berpeluang membawa ‘pulang sepak bola’ sebagaimana dilakukan Geoff Hurst pada 1966. Semestinya.
Menit 54, kapten tim Inggris itu berhasil menaklukkan Hugo Loris, kiper Prancis yang juga rekannya di Tottenham Hotspur, melalui titik putih penalti. Setengah jam kemudian, peluang itu kembali terbuka. Namun entah apa yang ada dalam pikiran Kane. Bukannya mengarahkan bola ke salah satu sudut gawang dan menyamakan kedudukan, dia malah menembakkannya ke langit.
Selamat tinggal Inggris. Mereka ditaklukkan Prancis 1-2 di babak perempat final Piala Dunia 2022 Qatar. Menyakitkan. Ini kali ketujuh Tim Tiga Singa tersisih di perempat final Piala Dunia. Kali ini mereka tidak gagal dalam adu penalti. Namun sebagian kekalahan Inggris di fase gugur terjadi dalam adu penalti.
Tendangan penalti memang seperti hantu, dengan puncak kengeriannya bernama adu penalti. Banyak yang mengatakan: dengan jarak hanya 11 meter dari gawang selebar 7,32 meter yang dijaga seorang kiper, bola seharusnya 99 persen melesak masuk. Tinggal tempatkan di pojok gawang, susah bagi kiper segesit kijang sekalipun menaklukkan bola yang melesat dengan kecepatan tinggi.
Namun apa yang diomongkan orang tak selamanya mudah dilakukan. Sejak dilakukan pertama kali pada Piala Dunia 1982 hingga babak perempat final Piala Dunia 2022, tercatat 34 pertandingan diakhiri dengan adu penalti. Tidak semua tim unggulan berhasil melewatinya dengan mulus. Sebagian terjungkal. Tidak semua pemain hebat melakukannya dengan baik. Sebagian gagal.
Adu penalti adalah peluang terbaik tim underdog untuk menjadi pemenang. Korea Selatan membuktikannya pada Piala Dunia 2002 dengan mengalahkan Spanyol 5-3 setelah bermain imbang 0-0 hingga waktu ekstra. Kosta Rika, negeri yang tak pernah masuk dalam peta sepak bola, berhasil lolos ke babak perempat final Piala Dunia 2014 setelah memaksa hasil 1-1 selama waktu normal, dan menggebuk Yunani 5-3 dalam adu penalti.
Dua kejutan besar terjadi pada Piala Dunia 2022, saat Maroko mengalahkan Spanyol 3-0 dalam adu penalti Babak 16 Besar, dan Kroasia menggebuk Brasil 4-2 di babak perempat final setelah sempat bermain imbang 1-1 hingga 120 menit.
[berita-terkait number=”5″ tag=”piala-dunia”]
Menjadi pahlawan dalam adu penalti di Piala Dunia juga bisa meningkatkan reputasi setelah pensiun. Sergio Goeycoechea, penjaga gawang Argentina dalam Piala Dunia 1990, menjadi bintang televisi dan bintang iklan pakaian dalam terkenal di negaranya, setelah memenangi adu penalti melawan tuan rumah Italia di semifinal. Dia berhasil menggagalkan tendangan Roberto Donadoni dan Aldo Serena.
Sebaliknya, gagal mengeksekusi adu penalti bisa membawa trauma terhadap pemain sepanjang hidup. Pemain Prancis, Didier Six, yang gagal dalam adu penalti melawan Jerman Barat pada Piala Dunia 1982 menjadi pariah di masyarakat. “Saya susah cari kerja, karena mereka bilang, ‘orang itu tidak stabil’. Dan semuanya gara-gara gagal menendang penalti,” katanya.
Daftar pemain bintang yang gagal dalam adu penalti sangat panjang. Pemain legendaris Brasil Socrates dan gelandang Prancis Michel Platini gagal menyarangkan bola saat keduanya berhadapan di babak perempat final Piala Dunia 1986.
Empat tahun kemudian, Diego Maradona gagal mengeksekusi bola dalam adu penalti melawan Yugoslavia di perempat final Piala Dunia di Italia. Namun orang melupakannya, karena Argentina menang atas tuan rumah di semifinal. Sementara itu, dua jagoan Italia Franco Baresi dan Roberto Baggio membuat tim mereka kalah 2-3 di final Piala Dunia 1994 dari Brasil.
Piala Dunia 2006 menjadi saksi kegagalan bintang Ukraina Andriy Shevechenko dan dua bintang klub Liverpool yang memperkuat Inggris, Steven Gerrard dan Jamie Carragher, dalam adu penalti. Frank Lampard, bintang Inggris asal Chelsea, melengkapi kegagalan Gerrard dan Carragher dalam babak perempat final saat bertemu Portugal.
Seperti kutukan yang tak terputus, kapten tim nasional Spanyol Sergio Busquets dan kapten tim nasional Belanda Virgil Van Dijk harus menundukkan kepala, setelah masing-masing gagal mencetak gol saat adu penalti dalam Piala Dunia 2022. Empat tahun sebelumnya kapten Liverpool Jordan Henderson gagal mencetak gol saat Inggris mengalahkan Kolombia 4-3 dalam adu penalti Babak 16 Besar di Rusia.
Sejarah penalti diawali di Inggris pada 1891 berdasarkan usulan penjaga gawang Irlandia William McCrum. Namun adu tendangan penalti pertama kali diusulkan wasit asal Jerman, Karl Wald, gara-gara Italia mengalahkan Uni Soviet di semifinal Piala Eropa 1968 melalui undian koin. Kedua tim sebelumnya selama waktu normal bermain imbang 0-0. Adu tendangan penalti ini kemudian digunakan pertama kali dalam final Piala Eropa 1976 yang mempertandingkan Jerman Barat melawan Cekoslowakia.
Dari 34 kali pertandingan yang berakhir dengan adu penalti dalam Piala Dunia, Kroasia dan Jerman adalah tim yang paling susah dikalahkan. Dalam empat kali adu penalti, Jerman tak pernah kalah. Begitu juga Kroasia, yang selalu menang dalam tiga kesempatan adu penalti.
Argentina adalah negara yang paling banyak menang dalam adu penalti. Dari enam pertandingan, Tim Tango menang lima kali. Ini berbeda dengan Brasil yang menang tiga kali dari lima pertandingan.
Inggris selalu sial. Dari empat kali adu penalti, Tiga Singa hanya menang sekali atas Kolombia pada Piala Dunia 2018. Spanyol sama apesnya dengan Inggris. Mereka menderita empat kali kekalahan dari lima kali adu penalti. Fans Belanda jelas membenci adu penalti. Dari empat pertandingan, Tim Oranje hanya menang sekali atas Kosta Rika pada Piala Dunia 2014. Sisanya, mereka dikalahkan sekali oleh Brasil dan dua kali oleh Argentina.
Penalti adalah absurditas dalam ketidakpastian hasil akhir sepak bola.Selama 90 menit waktu normal plus 30 menit waktu ekstra, sebelas pemain bahu-membahu saling oper untuk mencetak gol ke gawang lawan. Mereka bisa saling mengandalkan. Bahkan pelatih pun masih bisa berdiri memberikan instruksi di tepi lapangan.
Itu semua hilang saat adu penalti. Sepak bola sebagai kolektivitas tim dirampas dan bertransformasi menjadi urusan personal. Beban bersama beralih menjadi urusan individu. Seorang penendang penalti menghadapi bola, penjaga gawang, dan gawang berjarak sebelas meter, di bawah tatapan mata puluhan ribu penonton di stadion dan jutaan lainnya yang menyaksikan melalui televisi.
Seorang eksekutor penalti merasakan kesunyian. Kesendirian. Dia tidak saling bicara dengan pemain lainnya. Gareth Southgate mengaku kepada Geir Jordet, mantan pemain klub Norwegia Strommen yang kini menjadi profesor di Norwegian School of Sport Sciences, bahwa saat itulah pikiran negatif mempengaruhi performanya. Southgate gagal mengeksekusi penalti dalam semifinal Piala Eropa 1996 melawan Jerman.
Seorang penendang penalti bertugas dengan tekanan lebih besar daripada seorang penjaga gawang. Tak akan ada yang menyalahkan penjaga gawang jika gagal menahan laju bola. Pilihan seorang penjaga gawang lebih sederhana: jika sukses menahan bola, namanya tercatat dalam sejarah sebagai legenda.
Namun bagi seorang eksekutor penalti, pilihan yang tersaji hitam putih: berhasil atau gagal. Berhasil, bisa menjadi pahlawan yang dipuja. Gagal, bakal menjadi pecundang yang dinista dengan dosa yang mungkin tak akan dilupakan selama bertahun-tahun. Seperti Didier Six.
Itulah kenapa bisa dipahami jika disuruh memilih, pemain akan menampik tugas sebagai eksekutor. Dalam adu penalti, terutama di babak-babak menentukan, latihan ribuan jam tak menjamin kesuksesan di lapangan. “Ini soal di bawah tekanan,” kata Ben Lyttleton, penulis buku Twelve Yards – The Art and Psychology of The Perfect Penalty Kick.
Alain Giresse, pencetak gol Prancis dalam semifinal Piala Dunia 1982, bercerita soal bagaimana rekan-rekannya berlomba menolak tugas menjadi eksekutor penalti saat menghadapi Jerman Barat. “Masalahnya bukan di kaki, tapi di isi kepala,” katanya.
Apalagi tak semua kiper mudah ditaklukkan. Sebagian pandai membaca arah bola dengan berbekal takhayul seperti Sergio Goeycoechea yang mengencingi gawang. Sebagian tampil menakutkan, seperti kiper Jerman Barat Harald Schumacher. Dia seorang penjaga gawang yang keras dan pemberang. Bruno Bellone, penyerang Prancis, mengaku gentar melihat sosok Schumacher. “Matanya merah. Saya sangat takut,” katanya dalam film dokumenter Long Walk.
Syahdan, saat lift di hotel macet, Schumacher membuka paksa dengan dua tangannya yang kokoh. Saat pertandingan, dia menghantam Patrick Battiston sampai pemain Prancis itu semaput dan harus digotong keluar lapangan.
Berbeda dengan pemain Prancis yang gamang, Schumacher antusias menghadapi adu tendangan penalti melawan Prancis. “Saya seekor harimau dan bola adalah mangsa saya,” katanya.
Giresse menjadi penendang pertama dan melakukan hal ganjil. Bukannya menghadap gawang Jerman Barat, dia memilih berdiri membelakanginya sebelum menendang bola. “Saya tidak mau menatap mata Schumacher. Di matanya seperti ada dinamit,” katanya.
Giresse tak mau terintimidasi. Hasilnya: gol. Dia berhasil.
Namun tidak dengan Didier Six. Dalam bukunya, Lyttleton bercerita bagaimana Six menolak maju menendang bola karena merasa belum gilirannya. “Saya giliran kelima, bukan ketiga,” katanya kepada wasit Charles Corver.
Rupanya Michel Platini sebagai kapten yang mengubah nomor urut eksekutor tim Prancis. Six pun terpaksa mengeksekusi bola dengan marah. Konsentrasinya kacau. Bisa ditebak: dia gagal.
Kegagalan Six mempengaruhi Bellone, yang menjadi penendang ketiga Prancis saat menghadapi Brasil dalam adu penalti babak perempat final Piala Dunia di Meksiko empat tahun kemudian. “Jika gagal, mereka akan menggantung saya tanpa pengadilan. Saya akan balik ke Prancis dari Meksiko naik perahu,” pikirnya.
Subangkit, mantan pemain Persebaya Surabaya, menyebut kesiapan mental memang berpengaruh dalam adu tendangan penalti. Sebagaimana Six, Giresse, Bellone, ia juga enggan jika disuruh maju mengeksekusi penalti. “Kalau tidak masuk pasti akan jadi perbincangan,” katanya kepada beritajatim.com, Minggu (11/9/2022) malam.
Setali tiga uang, Divaldo Alves, pelatih berkebangsaan Portugal yang saat ini melatih Persik Kediri, menyebut masalah mental jadi kunci dalam adu tendangan penalti. Kekalahan tim-tim unggulan dalam adu penalti karena keliru membaca kemampuan lawan. “Mungkin mereka terlalu meremehkan. Padahal tim seperti Maroko memiliki materi pemain yang bagus, bermain di Eropa, dan bisa menyewa tenaga kepelatihan asal Eropa untuk membangun kualitas,” katanya.
Lantas bagaimana kunci memenangi adu penalti? Arsene Wenger mengatakan, 90 persen kesuksesan penalti tergantung pada kondisi psikologi pemain. “Pemain harus tetap berkonsentrasi dan tak terlalu merisaukan hasil tendangannya,” jelasnya, sebagaimana dikutip James Horncastle dalam Majalah Four Four Two.
Pemilihan giliran menendang bola dalam adu penalti ikut menentukan. Ignacio Palacios-Huerta, penulis buku Beautiful Game Theory – How Soccer Can Help Economics mengatakan, tim dengan penendang pertama dalam adu penalti memiliki kesempatan lebih baik untuk menang. Berdasarkan penelitiannya, keberhasilan mengeksekusi penalti lebih dulu akan memberikan kepercayaan diri pada penendang berikutnya dan memberikan tekanan kepada lawan.
Namun teknik tendangan harus diperhatikan. “Penendang harus mengambil lari awalan lima atau enam langkah dari tepi kotak penalti, mendekati bola dengan sudut antara 20-30 derajat. Bola harus ditendang keras agar meluncur dengan kecepatan lebih dari 104 kilometer per jam dan bersarang setengah meter di bawah mistar gawang dan setengah meter dari tiang samping, sebuah wilayah yang yang disebut sebagai pojok atas gawang,” tulis Horncastle.
Pep Lijnders, asisten pelatih Liverpool dalam buku Intensity menulis, bagaimana sebaiknya bola ditendang saat penalti tergantung pada kepercayaan diri pemain. Jika pemain sangat percaya diri, ia akan menyarankan untuk menyasar pojok atas gawang. Kiper lawan lebih sulit menjangkaunya. Jika pemain tidak cukup percaya diri, ia akan menyarankan agar bola ditendang sekeras mungkin ke salah satu sisi.
Ada teknik yang membutuhkan kepercayaan diri tinggi, yakni Panenka. Teknik ini mengandalkan kemampuan mengelabui kiper yang memiliki insting bergerak ke salah satu sisi gawang, dengan jalan mencungkil bola pelan ke arah tengah gawang. Teknik ini pertama kali diperkenalkan pemain Cekoslowakian, Antonin Panenka.
Panenka melatih tekniknya selama dua tahun, dan baru memperkenalkannya ke dunia saat final Piala Eropa 1976 antara Ceko melawan Jerman Barat. Ivo Viktor, kiper Ceko yang juga kawan sekamarnya, melarangnya untuk melakukan teknik itu. Namun Panenka merasa inilah saatnya dunia melihat sesuatu yang keren dan baru.
Panenka berhasil. Tekniknya mencetak gol lewat titik penalti membangkitkan kepercayaan diri teman-temannya. Hari itu Ceko merebut Piala Eropa. Seorang politisi mendatangi Panenka. “Jika tadi gagal, kamu akan dihukum,” katanya.
Rezim komunis Cekoslowakia tentu tidak main-main soal hukuman. “Apa sanksinya?” Panenka penasaran.
“Tiga puluh tahun bekerja dalam tambang,” sahut Si Politisi. [wir/kun]
Daftar Adu Penalti di Piala Dunia
1982:
1. Jerman vs Prancis 3-3 (5-4) semifinal
1986
2. Belgia vs Spanyol 1-1 (5-4) perempat final
3. Prancis vs Brazil 1-1 (4-3) perempat final
4. Jerman vs Meksiko 0-0 (4-1) perempat final
1990
5. Irlandia vs Rumania 0-0 (5-4) 16 Besar
6. Argentina vs Yugoslavia 0-0 (3-2) perempat final
7. Argentina vs Italia 1-1 (4-3) semifinal
8. Jerman vs Inggris 1-1 (4-3) semifinal
1994
9. Bulgaria vs Meksiko 1-1 (3-1) 16 Besar
10. Swedia vs Rumania 2-2 (5-4) perempat final
11. Brasil vs Italia 0-0 (3-2) final
1998
12. Argentina vs Inggris 2-2 (4-3) 16 Besar
13. Prancis vs Italia 0-0 (4-3) perempat final
14. Brasil vs Belanda 1-1 (4-2) semifinal
2002
15. Spanyol vs Irlandia 1-1 (3-2) 16 Besar
16. Korsel vs Spanyol 0-0 (5-3) perempat final
2006
17. Ukraina vs Swiss 0-0 (3-0) 16 Besar
18. Jerman vs Argentina 1-1 (4-2) perempat final…
19. Portugal vs Inggris 0-0 (3-1) perempat final
20. Italia vs Prancis 1-1 (5-3) final
2010
21. Paraguay vs Jepang 0-0 (5-3) 16 Besar
22. Uruguay vs Ghana 1-1 (4-2) perempat final
2014
23. Brazil vs chile 1-1 (3-2) 16 Besar
24. Kosta Rika vs Yunani 1-1 (5-3)16 Besar
25. Belands vs Kosta Rika 0-0 (4-3) perempat final
26. Argentina vs Belanda 0-0 (4-2) semifinal
2018
27. Rusia vs Spanyol 1-1 (4-3) 16 Besar
28. Kroasia vs denmark 1-1 (3-2) 16 Besar
29. Inggris vs Kolombia 1-1 (4-3) 16 Besar
30. Kroasia vs Rusia 2-2 (4-3) perempat final
2022
31. Kroasia vs Jepang 1-1 (3-1) 16 Besar
32. Maroko vs Spanyol 0-0 (3-0) 16 Besar
33. Kroasia vs Brasil 1-1 (4-2) perempat final
34. Argentina vs Belanda 2-2 (4-3) perempat final
Daftar pemain top yang gagal dalam adu penalti
1. Socrates (Brasil) dalam Prancis vs Brazil 1-1 (4-3), Piala Dunia 1986
2. Michel Platini (Prancis) dalam Prancis vs Brazil 1-1 (4-3), Piala Dunia 1986
3. Diego Maradona (Argentina) dalam Argentina vs Yugoslavia 0-0 (3-2), Piala Dunia 1990
4. Roberto Donadoni (Italia), Argentina vs Italia 1-1 (4-3), Piala Dunia 1990
5. Aldo Serena (Italia), Argentina vs Italia 1-1 (4-3), Piala Dunia 1990
6. Franco Baresi (Italia) dalam Brasil vs Italia 0-0 (3-2), Piala Dunia 1994
7. Roberto Baggio (Italia) dalam Brasil vs Italia 0-0 (3-2), Piala Dunia 1994
8. Paul Ince (Inggris) dalam Argentina vs Inggris 2-2 (4-3), Piala Dunia 1998
9. Ronald de Boer (Belanda), dalam Brasil vs Belanda 1-1 (4-2) Piala Dunia 1998
10. Andriy Shevchenko (Ukraina), dalam Ukraina vs Swiss 0-0 (3-0), Piala Dunia 2006
11. Frank Lampard (Inggris), dalam Portugal vs Inggris 0-0 (3-1), Piala Dunia 2006
12. Steven Gerrard (Inggris), dalam Portugal vs Inggris 0-0 (3-1), Piala Dunia 2006
13. Jamie Carragher (Inggris), dalam dalam Portugal vs Inggris 0-0 (3-1), Piala Dunia 2006
14, David Trezeguet (Prancis), dalam Italia vs Prancis 1-1 (5-3), Piala Dunia 2006
15. Jordan Henderson (Inggris), dalam Inggris vs Kolombia 1-1 (4-3), Piala Dunia 2018
16. Sergio Busquets (Spanyol) dalam Maroko vs Spanyol 0-0 (3-0), Piala Dunia 2022
17. Virgil van Dijk (Belanda), dalam Argentina vs Belanda 2-2 (4-3), Piala Dunia 2022






