Kehadiran Direktur Teknik (Dirtek) PSSI, Alexander Zwiers diharapkan banyak melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas pola pembinaan sepak bola Indonesia. Tugas seorang Dirtek jauh lebih kompleks dibandingkan dengan pelatih kepala Tim Nasional karena harus merancang roadmap sepak bola Indonesia mulai dari sepak bola akar rumput hingga Tim Nasional.
Langkah penting untuk mengawali tugasnya, lelaki asal Belanda itu harus memahami kultur sepak bola Indonesia yang sesungguhnya. Perlu melakukan identifikasi terhadap potensi dan permasalahan sepak bola Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak yang dipandang memahami problematika sepak bola di Indonesia, termasuk para Dirtek yang berada di setiap Asosiasi Provinsi PSSI.
Hasil dari proses tersebut selanjutnya bisa dijadikan sebagai pijakan dalam menentukan program dan kebijakan yang akan diterapkan. Sektor kepelatihan, pembinaan usia dini dan usia muda, tata kelola wadah pembinaan, kompetisi dan panduan dalam bentuk kurikulum harus menjadi perhatian serius dari seorang Alexander Zwiers. Kondisi tersebut pada tataran kabupaten/kota belum tersentuh secara maksimal.
Sementara kita tahu bahwa sumber daya pemain, pelatih dan instrumen sepak bola lainnya berawal dari sana. Berapa banyak Asosiasi kabupaten PSSI (Askab) atau Asosiasi kota PSSI (Askot), bahkan Asosiasi Provinsi PSSI (Asprov) sebatas papan nama dan tidak bisa menjalankan fungsi organisasinya secara maksimal.
Penyebabnya, selama ini PSSI terlalu berkutat pada sepak bola berskala nasional, sementara di level Askab/Askot terabaikan. Pendapatan dana PSSI yang diperoleh dari bantuan FIFA, sponsor, hak siar dan berbagai sumber tidak sampai ke tataran organisasi terbawah, sehingga untuk menjalankan roda organisasi pada level tersebut sangat tergantung pada kemampuan finansial figur ketuanya.
Indonesia memiliki 514 wilayah administratif, 416 kabupaten dan 98 kota diharapkan menjadi ujung tombak dalam membangun sepak bola nasional. Belum lagi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 286 jutaan. Pertanyaan yang sering muncul di masyarakat, “masak mencari 11 pemain dari sekian banyak jumlah penduduk tidak bisa”. Jawabannya bukan tidak bisa, tetapi penyebabnya karena tata kelola sepak bola kita belum bisa memaksimalkan potensi yang ada dan mengurusnya secara sungguh-sungguh.
Nampaknya kita perlu belajar ke Islandia dalam mengelola sepak bola. Negara kecil ini, berada di kawasan Eropa dengan jumlah penduduk tidak sampai 400 ribu jiwa dan hanya memiliki luas 103.000 km persegi. Namun, pada tahun 2018 lolos ke Piala Dunia yang digelar di Rusia. Begitu juga kepada Slovenia, yang luas negaranya hanya 20.271 km persegi dengan jumlah penduduk kurang lebih 2 juta jiwa. Negara ini ternyata sudah dua kali tampil di Piala Dunia pada tahun 2002 (Brazil) dan 2010 (Afrika Selatan).
Peran Dirtek memang sangat menentukan, seperti halnya Michel Sablon, sang pencetak generasi emas dan dijuluki sebagai bapak revolusi sepak bola Belgia. Ketika Tim Nasional Belgia gagal di Piala Eropa 2002 dengan status Belgia sebagai tuan rumah bersama Belanda, Michel Sablon ditunjuk untuk melakukan evaluasi terkait kegagalan tersebut.
Sablon melakukan kerjasama dengan segenap stakeholders sepak bola, termasuk dengan kalangan dari Perguruan Tinggi seperti Profesor Werner Helsen untuk mendapatkan informasi empirik tentang kelemahan sepak bola Belgia sekaligus Solusi yang harus dilakukan. Upaya Sablon ternyata tidak sia-sia karena terbukti dari apa yang dilakukan akhirnya lahir generasi emas sepak bola Belgia, seperti Romero Lukaku, Eden Hazard, De Bruyne, Thibaut Courtois, Divock Origi dan Jeremy Doku.
Melihat profil Alexander Zwiers memiliki pengalaman yang cukup bagus dalam kapasitasnya sebagai Dirtek di tempat lain. Terakhir dipercaya sebagai Dirtek federasi sepak bola Jordania, 2019-2025 dengan prestasi meloloskan negeri tersebut ke Piala Dunia 2026 dan menaikan peringkatnya di FIFA dari 90 ke 60. Prestasi ini merupakan sejarah dalam persepakbolaan Jordania. Tentunya menjadi harapan masyarakat sepak bola Indonesia, bahwa kehadirannya dapat memperbaiki pola pembinaan dan prestasi sepak bola Indonesia di level dunia.
Lolosnya Indonesia ke putaran 4 kualifikasi Piala Dunia 2026 dan meningkatkan ranking Indonesia di FIFA disadari banyak disebabkan oleh kehadiran pemain Naturalisasi. Kendati langkah yang diambil PSSI ini menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan karena dinilai banyak mengorbankan kiprahnya pemain lokal. Begitu juga di sektor kepelatihan, yang terlalu banyak menempatkan pelatih asing pada Tim Nasional.
Simon Tahamata, pelatih asal Belanda yang ditunjuk PSSI sebagai Kepala Pemandu Bakat untuk Tim Nasional menyatakan ketidaksetujuannya, jika Indonesia terus menerus mengandalkan pemain Naturalasi, khususnya dari Belanda. “Jika untuk kepentingan Piala Dunia 2026 tidak masalah, namun setelah itu Indonesia harus mau mengembangkan potensi pemain muda untuk masa depan sepak bola Indonesia,” kata Simon diberbagai media.
Alexander dan Simon akan menjadi figur sentral di dalam pengembangan sepak bola Indonesia ke depan. Kendati demikian, PSSI harus bijak dengan banyak melibatkan teknokrtat sepak bola lokal untuk bersama-sama menjalankan program yang telah dicanangkan oleh PSSI. Kesempatan transfer knowledge tentang keilmuan dan tata kelola sepak bola kekinian dari pelatih negara maju perlu diperoleh oleh semua pihak yang terlibat secara langsung dalam proses pembinaan sepak bola Indonesia. (*)
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya






