Malang (beritajatim.com) – Di tengah tantangan krisis iklim global yang semakin mendesak, seorang akademisi dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) membawa gagasan inovatif ke panggung dunia. Prof. Ir. Ratih Indri Hapsari, S.T., M.T., PhD., IPM, menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam konferensi internasional bergengsi, ATU-Net INVENT 2025, yang digelar di Filipina pada 23 Juni 2025 lalu.
Dalam forum yang diselenggarakan oleh Asia Technological University Network (ATU-Net) di University of Science and Technology of Southern Philippines (USTP) tersebut, Prof. Ratih menyuarakan pentingnya transformasi pendidikan vokasi untuk menjawab tantangan zaman.
Melalui paparannya berjudul Pendidikan Responsif Iklim untuk Mendorong Keberlanjutan, Prof. Ratih menekankan peran krusial pendidikan vokasi. Menurutnya, institusi vokasi tidak cukup hanya menanamkan kesadaran lingkungan, tetapi harus membekali generasi muda dengan tiga pilar utama, yaitu keterampilan teknis yang relevan, nilai-nilai etika, dan kemampuan berpikir sistemik untuk menghadapi krisis iklim.
“Perubahan iklim bukan hanya isu ilmiah. Ini adalah isu pendidikan, etika, dan tanggung jawab bersama,” tegas Prof. Ratih, yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Polinema di hadapan peserta dari berbagai negara.
Ia berpendapat bahwa lulusan vokasi harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan solusi nyata. Mulai dari teknologi energi terbarukan hingga infrastruktur yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Sebagai bukti komitmen, Prof. Ratih membagikan bahwa gagasan tersebut bukanlah sekadar wacana, melainkan telah menjadi denyut nadi di kampusnya. Polinema secara aktif telah mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam kurikulum wajib di berbagai program studi, memastikan setiap mahasiswa memiliki pemahaman mendasar tentang tantangan lingkungan.
Komitmen ini diperkuat dengan pengembangan konsep kampus hijau (green campus) untuk mengurangi jejak karbon dan mengelola sumber daya secara efisien. Tidak berhenti di situ, semangat keberlanjutan juga mendorong berbagai riset terapan di bidang energi bersih dan manajemen limbah.
Hasil riset ini kemudian dibawa langsung ke tengah masyarakat melalui program pengabdian yang berfokus pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Hal itu untuk menciptakan dampak nyata di luar dinding kampus. Kehadiran Polinema dalam ATU-Net INVENT 2025 bukan sekadar partisipasi, melainkan implementasi nyata dari kerja sama strategis. USTP, sebagai tuan rumah, merupakan mitra internasional Polinema yang telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pada awal tahun 2025.
Keterlibatan aktif ini memperluas jejaring kolaborasi internasional Polinema, membuka peluang emas untuk pengembangan riset bersama, program pertukaran dosen dan mahasiswa, serta peningkatan kapasitas institusi.
“Hal ini menegaskan posisi Polinema sebagai institusi vokasi yang siap menjawab tantangan global melalui inovasi pendidikan,” ujar Prof. Ratih Indri Hapsari yang menjadi Guru Besar di Jurusan Teknik Sipil, Polinema. Sebelumnya Prof Ratih memiliki rekam jejak internasional sebagai peneliti di International Research Center for River Basin Environment, University of Yamanashi, Jepang, dan sebagai Visiting Associate Professor di Research Center for Urban Safety and Security, Kobe University, Jepang. [dan/aje]






