Malang (beritajatim.com) – Ketika banyak orang pusing mencari kerja, sekelompok warga di Kelurahan Bunulrejo, Kota Malang, justru diajarkan cara menciptakan pabrik uang mereka sendiri langsung dari dapur rumah. Ini bukan program bantuan sosial biasa. Ini adalah gebrakan yang mendobrak pakem, Politeknik Negeri Malang (Polinema) tidak lagi sekedar memberi ikan, tapi menyerahkan seluruh ekosistem bisnis untuk dikelola.
Berbekal kelapa dan smartphone, warga RT 05 RW 07 kini dipersiapkan menjadi juragan baru di industri Virgin Coconut Oil (VCO), sebuah produk premium yang pasarnya terus tumbuh. Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dipimpin oleh Dr. Yanty Maryanty, S.T., M.Si. ini menolak pendekatan konvensional. Mereka tidak hanya mengajar, mereka mentransfer formula bisnis lengkap yang seringkali menjadi rahasia perusahaan besar.
“Kami tidak mau warga hanya jadi penonton atau pekerja. Era sekarang menuntut mereka menjadi pemilik usaha. Karena itu, kami berikan semua senjatanya: dari produksi, hitungan profit, sampai cara menaklukkan pasar digital,” tegas Dr. Tri Yulistyawati Evelina, SE, MM, salah satu dosen dalam tim.
Jika pelatihan lain hanya menyentuh permukaan, program Polinema ini membongkar rahasia dapur bisnis. Dimulai dari, ilmu produksi anti gagal. Warga tidak hanya diajari cara membuat VCO, tetapi juga cara menghasilkan produk berkualitas konsisten. Puncaknya, mereka langsung diberi ‘modal perang’ berupa alat pemeras santan modern yang dihibahkan untuk memulai produksi massal.
“Kedua, rahasia menghitung profit, banyak usaha kecil tumbang karena tidak paham hitungan,” jelas Mochammad Agung Indra Iswara, S.T., M.T., yang menjelaskan soal cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual agar keuntungan maksimal, bukan sekadar balik modal
Ketiga, senjata pemasaran digital Ini adalah pembedanya. Tim mahasiswa Polinema membimbing warga untuk mengubah akun media sosial mereka menjadi mesin penjualan. Mereka diajarkan cara membuat konten yang ‘menjual’ dan menjangkau pelanggan di luar batas kampung mereka.
Kegiatan ini secara gamblang menunjukkan sebuah pergeseran paradigma. Pemberdayaan bukan lagi soal memberi sumbangan, melainkan menciptakan kemandirian radikal. Warga tidak lagi pasif menunggu, tetapi aktif menjemput bola dengan produk yang relevan dan strategi pemasaran yang modern.
Inisiatif Polinema ini seolah menjadi ‘tamparan’ bagi cara pandang lama tentang ekonomi kerakyatan. Bunulrejo telah membuktikan, untuk menjadi pengusaha sukses, yang dibutuhkan bukanlah gedung megah atau modal triliunan, melainkan keberanian, ilmu yang tepat, dan kemauan untuk mengubah sumber daya lokal menjadi emas. (dan/ian)






