Lumajang (beritajatim.com) – Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Selasa pagi, 12 Agustus 2025. Pos Pantau Gunung Api (PPGA) Semeru melaporkan bahwa telah terjadi empat kali letusan yang dimuntahkan dari kawah Jonggring Saloko. Erupsi pertama dan kedua terjadi pada pukul 05.17 WIB dan 06.31 WIB, meski tidak teramati visual letusan tersebut.
Pada pukul 07.30 WIB, erupsi ketiga teramati dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter. Kolom abu yang terbentuk berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, mengarah ke barat daya.
Erupsi terakhir terjadi pada pukul 07.44 WIB, dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 900 meter di atas puncak. Kolom abu yang terbentuk kembali berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang yang mengarah ke barat daya.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Selasa 12 Agustus 2025 pukul 07.44 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 900 meter di atas puncak,” kata Liswanto, petugas PPGA Semeru, dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang.
Meskipun erupsi ini cukup signifikan, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan terkait kerusakan ataupun korban jiwa.
Yudhi Cahyono, Kabid Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Lumajang, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti rekomendasi dari petugas PPGA Semeru. “Untuk dampak sementara tidak ada laporan, tapi tetap harus waspada dengan semua potensi dan mematuhi rekomendasi dari petugas,” ujar Yudhi.
BPBD Lumajang juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara Gunung Semeru, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, yang terletak sejauh 8 km dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat yang berada di luar radius 8 km diminta untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 13 km dari puncak.
Pihak BPBD juga memperingatkan agar masyarakat menghindari aktivitas dalam radius 3 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru, karena kawasan ini rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar.
Potensi awan panas, guguran lava, dan lahar juga dapat mengancam di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru, khususnya di Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
“Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” tambah Yudhi.
Seiring dengan situasi yang terus berkembang, masyarakat diharapkan tetap mengikuti perkembangan informasi terkait aktivitas Gunung Semeru melalui sumber resmi dan tetap mengutamakan keselamatan pribadi serta keluarga. [has/suf]






