Surabaya (beritajatim.com) – Anggota DPRD Jawa Timur, Dr. Freddy Poernomo, berkolaborasi dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Surabaya menggelar seminar bertajuk “Toleransi dan Keberagaman dalam Bingkai Kebangsaan Indonesia”. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (2/3/2026) ini bertujuan untuk merawat nilai-nilai nasionalisme serta mempererat persatuan di tengah kemajemukan masyarakat.
Seminar strategis ini melibatkan lintas akademisi dari Komisariat Fakultas Hukum, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, hingga Fakultas Kedokteran Ikatan Alumni Universitas Surabaya. Diskusi panel tersebut menghadirkan pakar Prof. Drs.ec. Sujoko Efferin, M.Com (Hons)., M.A., Ph.D., serta tokoh muda lintas agama Gus Aan Ansory dengan panduan moderator Inayah Sri Wardhani, S.Psi.
Freddy Poernomo menegaskan bahwa konstitusi Indonesia telah menjamin keberagaman dan hak yang setara bagi seluruh warga negara tanpa kecuali. Ia menekankan bahwa kelompok etnis Tionghoa merupakan bagian integral dari bangsa yang memiliki kedudukan hukum yang sama di tanah air.
“Keberagaman sudah dijamin konstitusi. Termasuk kelompok etnis Tionghoa, mereka adalah warga negara Indonesia dengan hak yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi atau pengkotak-kotakan berdasarkan latar belakang,” kata Freddy Poernomo, Senin (2/3/2026).
Agenda ini dirancang sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pendiri bangsa yang telah meletakkan fondasi Indonesia sebagai negara majemuk. Semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi pengikat utama yang harus terus dijaga demi stabilitas dan kemajuan nasional di masa depan.
“tugas generasi saat ini adalah memperkuat solidaritas dan membangun bangsa tanpa sekat ras, suku, maupun agama,” imbuhnya.
Acara ini semakin semarak dengan rangkaian Bazar Perayaan Imlek serta penyediaan layanan pemeriksaan kesehatan dan akupuntur secara gratis bagi masyarakat umum. Berbagai atraksi budaya mulai dari hadrah, wayang potehi, tarian Sin Cia, barongsai, hingga wushu turut ditampilkan sebagai simbol akulturasi yang harmonis.
Panitia juga membagikan angpao kepada 125 peserta sebagai simbol kebersamaan dalam momen perayaan budaya yang inklusif tersebut. Ketua Panitia, Muljo Hardijana, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan momentum refleksi bagi etnis Tionghoa untuk terus berperan aktif dalam dinamika sosial.
“Perbedaan itu bukan untuk dijauhkan, tetapi dirawat dalam kebersamaan. Yang terlihat seharusnya adalah kemampuan dan kontribusi, bukan latar belakang. Jangan membuat jarak, tetapi masuk dan terlibat di tengah masyarakat,” ujarnya.
Muljo menambahkan bahwa program ini sekaligus menjadi wadah regenerasi bagi PSMTI untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam aksi solidaritas sosial. Transformasi organisasi diarahkan agar para pemuda semakin aktif berkontribusi nyata dalam membangun fondasi kemasyarakatan yang kuat.
Melalui kolaborasi lintas etnis ini, seminar tersebut diharapkan menjadi penguat komitmen bahwa kedaulatan Indonesia berdiri di atas prinsip kesetaraan yang mutlak. Persatuan yang hakiki akan tercipta ketika sekat-sekat diskriminasi runtuh dan berganti menjadi kekuatan kolektif untuk kesejahteraan bersama. [ang/beq]






