Surabaya (beritajatim.com) – APJI (Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia) menggelar musyawarah Daerah (Musda) yang ke-empat periode 2024 sampai 2029. Dalam Musda kali ini, APJI masih menekankan pentingnya sebuah sertifikasi dimiliki oleh pengusaha kuliner.
Ketua umum APJI Tashya Megananda Yukki mengatakan dalam Musda akan dilanjutkan dengan pelantikan
kepungurusan baru masa periode 2024-2029. Tashya berharap, dalam Musda ke 4 ini apa yang menjadi program APJI berjalan lancar dan bisa merangkul semua penguasaha-pengusaha jasa boga yang menengah maupun UMKM.
” Untuk anggota APJI saat ini secara nasional ada sekitar empat ribu, kita berharap agar ada penambahan lagi bagi para pengusaha kuliner lainnya untuk bergabung dengan APJI,” ujarnya.
Tashya juga berpesan agar semua pengusaha kuliner diharapkan untuk bersertifikasi. Dibentuknya APJI salah satu tujuannya adalah memberikan pelatihan dan ada kedekatan dengan pemerintah daerah supaya memudahkan para anggota untuk mengurus sertifikasi untuk menaikkan usaha mereka sendiri mulai dari UMKM sama Mikro naik menengah hingga besar.
Dorongan dari APJI untuk sertifikasi anggota adalah menjadi kerja keras dari para ketua dan pengurus DPC dan DPD setempat.
” Memang para ketua terus menggaet anggota-anggota atau sebelum menjadi anggota untuk masuk di APJI. Nanti di APJI inilah mereka belajar dan diberikan pelatihan untuk mendapat sertifikat tersebut,” ujarnya.
APJI sendiri anggotanya 80 persen sudah sertifikasi, dan para pengurus terus menggaet para pengusaha kuliner untuk menjadi anggota APJI dan bersertifikasi. Sertifikasi sendiri terdiri dari macam-macam dan syaratnya berawal dari dapur. Contoh sertifikasi halal dan lainnya.
Sementara ketua bidang UMKM Kadin Jatim Idris Yahya sangat mendukung adanya APJI Jatim ini sebab keberadaan APJI karena pelaku dari asosiasi ini langsung menyentuh masyarakat.
“Jadi catering ini dibutuhkan disetiap acara, bukan hanya perkawinan saja tapi acara apapun sunatan, pemerintahan, perkantoran, swasta semua pakai catering. Sudah menjadi kebutuhan.l,” ujarnya.
Untuk itu, Idris menghimbau agar APJI ini untuk masuk Kadin. Sebab dengan bergabung dengan Kadin maka bisa mengakomodir masalah. Setiap asosiasi itu induknya di Kadin. Yang menjembatani persoalan-persoalan ada di dunia usaha antara pemerintah dengan pengusaha itu adalah Kadin.
“Jadi rugi sebuah asosiasi kalau tidak menjadi anggota Kadin. Sejauh ini belum ada organisasi yang sejenis yang masuk ke Kadin,” ujarnya.
Yeni dari dinas kesehatan Jawa Timur yang hadir dalam Musda tersebut mengatakan bicara APJI selaras dengan program dinas kesehatan terutama jasa boga. Karena jasa boga ini menjadi salah satu hal yang memang dibina dan awasi.
“Dengan adanya APJI ini sangat membantu dalam proses pengawasan dan pembinaan kami terutama dalam meningkatkan jasa boga ini untuk lebih perduli peraturan atau kebijakan terbaru dan nantinya agar mereka lebih memudahkan untuk memberikan info tentang sertfikasi,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh perwakilan dari Dinas pertanian Jatim Bayu Ferindra. Dia mengatakan, acara seperti ini harus sering dilakukan untuk mengundang para stekholder. Dari dinas pertanian sendiri harapannya adalah Kadin maupun APJI ini sering berkoordinasi dengan pihaknya agar bisa membantu menyelesaikan apa yang menjadi masalah Kadin maupun APJI mungkin terkait rekomendasi sehingga pihaknya bisa mempermudah apa yang dibutuhkan.
Ketua APJI Jatim terpilih Indah K Nugrowibowo menyampaikan APJI sebagai asosiasi boga menaungi seluruh anggota akan memberikan kemudahan bagi anggotanya. Dengan bergabungnya mereka di ABJI yang kesulitan untuk mendapat sertifikasi berkaitan dengan ijin halal dan kelayakan usaha yang lainnya.
“Dengan bergabung dengan APJI maka pihaknya akan memberikan kemudahan memberi fasilitas yang kemungkinan sulit diraih di luar. Kedua, berkaitan dengan rencana gabung dengan Kadin maka diharapkan juga bisa memberikan kesempatan pada para pengusaha catering untuk mengembangkan usaha lebih baik lagi,” ujarnya.
Untuk sertifikasi halal sendiri lanjutnya biayanya berbeda dengan UMKM, kalau UMKM bisa mendapat sertifikat gratis sementara pengusaha catering itu biayanya luar biasa karena penghitungan biayanya sangat banyak.
“Dengan bergabung ke asosiasi maka kita bisa menembus. Untuk pengawasan untuk anggota juga dilakukan APJI seperti bagaimana proses mengolah makanan dari hulu ke hilir bagaimana mengolah makanan tetap menjadi sehat itu menjadi tugas kami. Dan kami dalam organisasi APJI ada bidang-bidangnya, kalau hal semacam itu masuk ke bidang kualitas. Bahkan APJI juga melakukan kunjungan ke tempat usaha anggotanya sambil menunjukkan ini dapurnya misalnya, dapur yang bersih itu seperti ini jadi saling memberikan info. Selayaknya seperti ini, dan apa yang kurang maka bisa saling support,” bebenya.
Adapun keuntungan yang bisa didapat apabila bergabung dengan APJI, akan mendapat informasi yang pengusaha kuliner lainnya belum dapat karena APJI bersinergi dengan pemerintah dengan Kadin dengan dinas kesehatan, dinas pariwisata. Berkaitan dengan soal informasi yang berkaitan dengan sertifikasi maka langsung terkonek. Meski pesaing dalam usaha namun semua anggota APJI masih saling bersinergi.
“Misalnya ada pengusaha ayam madu nah catering lain butuh ayam madu maka kita bisa saling support,” ujarnya. [uci/suf]






