Pacitan (beritajatim.com) – Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Kelurahan Sidoharjo, Pacitan, kini beralih fungsi menjadi tempat penyelenggaraan sementara Sekolah Rakyat (SR).
Fasilitas ini dimanfaatkan menyusul penambahan kuota gelombang kedua yang mencapai 100 siswa. Sambil menanti pembangunan gedung permanen, Pemerintah Kabupaten Pacitan menggunakan gedung BLK sebagai alternatif lokasi belajar-mengajar bagi para siswa.
Kontraktor pelaksana dari Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Timur, Ino Sukawardhana, menjelaskan bahwa percepatan renovasi gedung terus dilakukan. Hingga pertengahan Juli, progres pembangunan telah mencapai sekitar 25 persen sejak dimulai awal bulan. Target penyelesaiannya dipatok dalam 30 hari kalender.
“Pekerjaan renovasi meliputi pengecatan ruang kelas, dapur, ruang makan siswa, serta pembangunan asrama di sisi utara gedung. Asrama dibuat dengan sistem precast, yaitu dirakit di pabrik dan dipasang di lokasi,” jelasnya saat ditemui beritajatim.com, Rabu (16/7/2025).
Ia memastikan bahwa renovasi yang dilakukan bersifat minor, tanpa mengubah struktur utama gedung. Fokus pekerjaan adalah perbaikan ringan dan penambahan fasilitas pendukung. Beberapa bagian yang mengalami kerusakan juga ikut diperbaiki agar siap dipakai dalam waktu dekat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, mengungkapkan bahwa tambahan kuota 100 siswa pada gelombang kedua ini diprioritaskan untuk Anak Tidak Sekolah (ATS) atau anak yang putus sekolah. Berdasarkan data Dinas Sosial, jumlah ATS di Pacitan masih cukup tinggi, yakni mencapai 1.187 anak.
“Sekolah Rakyat gelombang kedua difokuskan untuk menjangkau anak-anak yang sebelumnya putus sekolah atau tidak pernah mengenyam pendidikan. Pendaftaran sudah dibuka dan ditutup pada 17 Juli (hari ini),” terang Khemal.
Dengan tambahan peserta ini, total siswa Sekolah Rakyat angkatan pertama kini berjumlah 200 orang. Pada gelombang pertama sebelumnya, sebanyak 100 siswa telah diterima dan mulai mengikuti proses pembelajaran.
Menurut Khemal, program ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen Bupati Indrata Nur Bayuaji dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui pendidikan. “Kami berupaya memastikan bahwa anak-anak Pacitan, terutama yang selama ini tercecer dari sistem pendidikan formal, mendapat kesempatan yang sama,” pungkasnya. [tri/suf]






