Menjelang pertandingan pekan kedelapan Liga 1 2023-24 melawan Persita Tangerang di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (12/8/2023), Pelatih Persebaya Uston Nawawi menyinggung ‘GBT-Phobia’. “Jangan sampai pemain mengalami GBT-phobia, sehingga keberaniannya terpengaruh untuk bermain di kandang,” katanya sehari jelang pertandingan.
GBT-Phobia tentu saja tidak ada dalam kamus ilmu psikologi. Ini hanya sebutan Uston untuk menggambarkan kondisi mental pemain Persebaya yang tidak nyaman saat bertanding di kandang sendiri. Sebelumnya, dalam kompetisi Liga 1 musim 2023-24, Persebaya menuai dua hasil seri dan sekali kekalahan di Gelora Bung Tomo (GBT).
GBT-Phobia kurang lebih sama dengan Kuip-phobia yang dialami pemain Feyenoord di Liga Belanda. Ruud Gullit menyebut, ekspektasi yang sangat sangat tinggi dari fans saar bermain di Stadion De Kuip membuat pemain terbebani. Satu hasil buruk membawa tim masuk ke pusaran hasil buruk berikutnya. “Situasi ini dialami Feyenoord selama 15 tahun,” kata Gullit.
GBT-Phobia sebenarnya tidak hanya dialami pemain, namun juga Bonek, sebutan suporter Persebaya. Dalam tiga kali pertandingan kandang, jumlah total penonton yang datang ke GBT hanya 22.843 penonton. Jika dirata-rata, satu pertandingan kandang Persebaya hanya disaksikan 7.614 penonton. Padahal kapasitas GBT adalah 46.806 penonton.
Minimnya penonton kembali terjadi pada pertandingan kandang keempat melawan Persita. Hanya 3.012 orang penonton yang datang. Ketua Panitia Pelaksana Persebaya Ram Surahman tak bisa berkata banyak. “Kami tidak bisa begini terus,” keluhnya.
Ada banyak alasan soal sepinya penonton dalam laga kandang Persebaya yang muncul di media sosial. Jadwal yang tak bersahabat adalah satu di antara beberapa alasan. Tiga pertandingan kandang Persebaya dijadwalkan di luar hari Minggu dan peluit sepak mula dibunyikan pada pukul tiga sore. Jadwal ini dinilai tidak bersahabat, karena sebagian besar penonton baru bersiap hendak pulang kerja.
Padahal jadwal pertandingan sore hari untuk Persebaya adalah keinginan Bonek sendiri, saat berunjuk rasa di depan kantor stasiun televisi Indosiar Biro Surabaya, Selasa (9/8/2022). Saat itu, Bonek menolak pertandingan digelar terlalu malam, karena rawan dan berpotensi membahayakan penonton.
Lokasi GBT pun dinilai terlalu jauh, karena berada di garis perbatasan dengan Kabupaten Gresik. Butuh waktu bagi seorang penonton yang baru pulang kerja untuk bisa datang tepat waktu ke stadion dan pulang tidak terlalu larut malam usai pertandingan.
Namun kambing hitam terhadap jadwal ini praktis teranulir, jika melihat jumlah penonton yang datang ke stadion menyaksikan pertandingan melawan Rans Nusantara, Minggu (23/7/2023). Panitia hanya berhasil menjual 9.060 lembar tiket. Jumlah ini lebih sedikit daripada pertandingan kandang sebelumnya melawan Barito Putra yang digelar pada Sabtu (8/7/2023) sore yang berhasil menyedot 12.182 orang penonton.
Kambing hitam lainnya adalah soal harga tiket yang dianggap terlampau mahal, yakni Rp 100 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp 250 ribu untuk Super Fans. Namun Surahman menduga harga tiket bukan faktor utama. “Terbukti di dua laga pramusim lawan Bali United dan Persija Jakarta tiket selalu sold-out,’” katanya.
Tak pelak, belum memuaskannya penampilan Persebaya di atas lapangan akhirnya dianggap banyak orang sebagai faktor utama sepinya pertandingan kandang di GBT. Ini disadari Andre Oktaviansyah, gelandang asal Depok, Jawa Barat. “Mungkin kemarin kondisinya kurang mendukung, jadi jumlah penonton yang datang ke stadion sedikit, dan kami mengerti akan hal ini,” katanya.
Sepinya penonton di GBT adalah paradoks sosok Bonek yang digambarkan sebagai kelompok suporter sepak bola paling fanatik di Indonesia. Kisah-kisah fanatisme ini sudah kerap diberitakan media massa arus utama dan menjadi perbincangan di media sosial.
Saya suatu kali pernah ditanya seorang teman jurnalis soal sebutan untuk pendukung klub sepak bola yang datang ke stadion: apakah fans atau suporter. Saya menyebut fans. Karena kehadirannya di stadion menunjukkan sebuah fanatisme pada level tertentu. Ketika datang ke stadion, seorang fan tak hanya meluangkan waktu dan membuang uang untuk membeli tiket, namun juga menyediakan diri untuk kecewa.
Seorang fan sepak bola yang selalu hadir ke stadion untuk menyaksikan tim idolanya menjadi pecundang adalah sejenis manusia idiot penikmat masokisme. Dia tahu tidak ada yang nikmat dari sebuah kekalahan. Hanya kepedihan yang terasa saat pemain lawan mencetak gol dan menengok posisi klub kesayangannya terdampar di posisi bawah papan klasemen sementara.
Seorang fan jenis ini adalah seorang Sisifus yang dikutuk para dewa untuk melakukan perbuatan sia-sia: berkali-kali mendorong batu besar ke puncak gunung untuk kemudian membiarkannya menggelinding kembali ke ngarai. Filsuf Prancis yang sangat mencintai sepak bola, Albert Camus, menyebut: tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada pekerjaan yang tak berguna dan tanpa harapan itu.
Namun itulah definisi fans sejati. “Sisifus mengajarkan kesetiaan lebih tinggi yang menyangkal para dewa dan mengangkat batu-batu besar… Perjuangan ke puncak gunung itu sendiri cukup untuk mengisi hati seorang manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia,” kata Camus dalam esainya Mite Sisifus.
Dan dari ratusan ribu Bonek, hanya ribuan orang yang bersedia menjadi Sisifus dengan tetap datang ke stadion dalam situasi Persebaya terpuruk sekalipun. Catatan terakhir: hingga pertandingan melawan Persita, hanya 25.855 orang penonton yang hadir dalam empat pertandingan kandang Persebaya.
Sebenarnya sepinya penonton di GBT ini adalah refleksi dari tulisan Presiden Persebaya Azrul Ananda yang dilansir laman resmi klub pada 16 Maret 2018. Dalam artikel berjudul ‘Terima Kasih Sudah Mendukung Semampunya’, Azrul menyamakan suporter dengan customer atau konsumen.
“Supporter, di dunia mana pun, dalam definisi bisnis apa pun, adalah customer. Ada customer yang membalas jasa/barang menggunakan uang, ada yang tidak perlu menggunakan uang. Saya lebih bangga Persebaya ditonton oleh 20.000 penonton yang membayar secara real, daripada klub-klub lain yang mengklaim punya 40.000 penonton tapi ternyata tidak mendapatkan pemasukan real,” tulisnya.
CEO Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke mengatakan kepada Majalah FourFourTwo, memperlakukan fans sebagai customer terjadi pada sepak bola Inggris. “Namun bila Anda berkata kepada seorang fan sepak bola Jerman bahwa ia cuma seorang customer, dia akan membunuh Anda. Dia memiliki perasaan yang terhubung dengan klub,” katanya.
Melihat reputasi Bonek dalam memperjuangkan eksistensi Persebaya saat melawan PSSI, ucapan Azrul yang menganggap Bonek tak ubahnya customer adalah sebuah kecerobohan. Dukungan Bonek terhadap Persebaya sejak masa breakaway league pada 2011 hingga diakui PSSI kembali pada 2016 bukanlah gambaran seorang customer atau konsumen biasa.
Mentalitas customer melihat sebuah klub sepak bola tak ubahnya komoditas yang dengan mudah diganti dengan komoditas serupa yang lebih bermutu dan menjanjikan kepuasan. Seorang customer lebih memperhatikan fungsi komoditas tersebut untuk kepentingan dirinya daripada sekadar nama. Bonek memilih tidak meninggalkan Persebaya di bawah PT Persebaya Indonesia kendati PSSI mendukung klub dengan nama yang sama di bawah naungan badan hukum yang berbeda. Mereka memilih setia.
Namun loyalitas khas fans itu mendadak lenyap tak berbekas saat Persebaya mengalami krisis performa. Tiba-tiba apa yang dikatakan Azrul benar adanya.
Mendadak Bonek menyodorkan alasan khas customer untuk menjelaskan fenomena sepinya GBT: mulai dari soal harga tiket yang terlalu mahal dan tak sebanding dengan penampilan Persebaya yang buruk, hingga masalah jarak GBT yang terlalu jauh dari pusat kota.
Kali ini Bonek dan Azrul Ananda menemukan satu titik kesepakatan soal sebutan customer untuk suporter sepak bola.
Beruntung, Sho Yamamoto mengakhiri tren negatif di GBT setelah mencetak gol dari luar kotak penalti Persita pada menit 55. Gol tunggal ini membawa kemenangan perdana Persebaya di kandang sendiri.
Kemenangan ini membawa keceriaan bagi customer untuk kembali membeli tiket pertandingan Persebaya melawan PSM Makassar, Jumat (18/8/2023). Informasi di akun twitter resmi Persebaya pada 13 Agustus 2023, menyebutkan tiket presale 1 dengan harga Rp 80 ribu telah habis terjual.
Pertandingan itu digelar pada hari kerja. Kita tidak tahu berapa ribu tiket yang bakal terjual. Namun seorang fans yang menolak disebut customer mungkin perlu mendengar kata-kata Uston. “Saya berharap energi positif dari suporter ini bisa kembali, mensupport tim kebanggaannya. Dengan datang ke GBT mendukung langsung, kami berharap bisa memberikan hasil yang baik untuk Kota Surabaya.”
Saatnya menghilangkan fobia.[wir]






