Jember (beritajatim.com) – Ganjarian Jawa Timur, kelompok relawan pendukung Ganjar Pranowo, menyerukan kepada seluruh elemen bangsa lintas ideologi politik dan sosial agar bersatu dalam menghadapi FIFA dan Israel. Problem utama ada pada ketidakadilan dan standar ganda yang diterapkan FIFA di dunia sepak bola.
Hal ini dikemukakan Komandan Ganjarian Teritorial Jatim Agus Hadi Santoso, Senin (3/4/2023). “Indonesia harus melawan diskriminasi FIFA yang sepihak membatalkan penyelenggaraan Piala Dunia U20 di sini,” katanya.
FIFA membatalkan penyelenggaran Piala Dunia U20 di Indonesia, menyusul munculnya penolakan terhadap kehadiran tim sepak bola Israel U20. Penolakan tak hanya dari kelompok politik Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera dan Muhammadiyah, tapi juga kalangan nasionalis seperti PDI Perjuangan. Bahkan Gubernur Bali I Wayan Koster dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menolak kehadiran Israel.
Semua alasan penolakan sama, yakni memprotes tindakan sewenang-wenang Israel terhadap rakyat Palestina. Bahkan elite PDI Perjuangan mengacu pada sikap Presiden Soekarno yang menolak Israel dalam Asian Games 1962.
Begitu FIFA membatalkan penyelenggaraan Piala Dunia U20 di Indonesia, warganet ramai-ramai menghujat Ganjar, Koster, PDI Perjuangan, dan kelompok-kelompok yang menentang kehadiran Israel. Mereka dianggap lebih mementingkan kepentingan bangsa lain daripada kepentingan bangsa sendiri.
Menanggapi suara-suara protes itu, Agus menyerukan kepada seluruh elemen bangsa Indonesia agar tak saling menyalahkan. “Jangan mencari kambing hitam bangsa sendiri. Jangan salahkan PSSI. Jangan salahkan pemerintah. Jangan salahkan PDI Perjuangan, Ganjar, Koster, maupun teman-teman PKS,” katanya.
“Pembatalan ini terjadi karena FIFA memberlakukan standar ganda. Kalau tidak pakai standar ganda, Israel tidak bisa hadir di Indonesia, sebagaimana Rusia dalam perhelatan sepak bola internasional,” katanya.
Penolakan terhadap Israel adalah bagian dari menjaga konstitusi. “Apalagi regulasi pemerintah sendiri melarang bendera dan lagu kebangsaan Israel berkibar dan diperdengarkan di Indonesia. Kalau masih tetap menerima Israel, bisa-bisa Indonesia dianggap melanggar konstitusi sendiri,” kata Agus.
Ganjarian Jatim mengajak warganet Indonesia untuk ‘membombardir’ akun media sosial FIFA dengan kritik keras dan kecaman terhadap penerapan standar ganda. “Saatnya kita bersatu menghadapi FIFA dan Israel,” katanya.
Ganjarian mengingatkan FIFA agar tidak menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia. “Masa statement dua gubernur dianggap melangggar, Mereka bukan presiden. Itu alasan mengada-ada. Kalau FIFA menjatuhkan sanksi berat kepada Indonesia, lebih baik Indonesia pindah ke Conifa,” katanya.
Conifa adalah Konfederasi Sepak Bola Independen yang beranggotakan seluruh asosiasi sepak bola yang di luar naungan FIFA. Conifa didirikan pada 7 Juni 2013 dan menggelar Piala Dunia pertama pada Juni 2014 di Ostersund, Swedia. Di situs resminya disebutkan, Conifa merepresentasikan lebih dari 700 juta orang di seluruh dunia.
Anggota Conifa adalah negara atau minoritas di negara dan kawasan budaya yang terisolasi. Sebagian nama anggota Conifa tak asing seperti Kashmir, Kurdistan, Papua Barat, dan Tibet di Asia, atau Hawai’i di Oceania. Namun sebagian besar terdengar asing seperti Padania, Kepulauan Elba, Cyprus Utara di Eropa, atau Aymara di Amerika Selatan. Total ada 39 anggota Conifa yang tercatat. [wir]






