Malang (beritajatim.com) – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) menegaskan komitmennya dalam mendukung program Smart Green Campus (SGC). Langkah itu dimulai dengan rapat koordinasi perdana yang digelar pada Senin (20/4/2026).
Langkah ini menjadi titik awal keseriusan FTP UB dalam mewujudkan kampus berkelanjutan sekaligus menjawab tantangan global Sustainable Development Goals (SDGs). Dekan FTP UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.TP., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa komitmen terhadap SGC harus dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh sivitas akademika.
Ia mencontohkan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah sebagai langkah awal yang konkret dan mudah diterapkan. “Dulu kita hanya terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Sekarang, dengan adanya komitmen Smart Green Campus, kebiasaan tersebut harus ditingkatkan dengan memilah sampah berdasarkan jenisnya, seperti organik, nonorganik, kertas, plastik, sisa makanan, hingga residu,” ujar Prof. Yusuf Hendrawan pada beritajatim.com, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, kebiasaan kecil tersebut memiliki dampak besar terhadap sistem pengelolaan limbah di masa depan. Dengan pemilahan yang tepat sejak sumbernya, proses pengolahan sampah akan menjadi lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan.
Dalam implementasinya, Smart Green Campus memiliki lima komponen utama, yakni pengelolaan limbah (waste), pengelolaan air (water), energi dan perubahan iklim (energy & climate change), tata ruang dan infrastruktur (setting & infrastructure), serta transportasi (transportation). Namun demikian, FTP UB menetapkan fokus awal pada tiga aspek utama, yaitu waste, water, serta energy & climate change.
“Kami memilih fokus pada parameter yang cepat terlihat, mudah diukur, dan mudah dibuktikan. Dengan demikian, dampaknya bisa segera dirasakan dan dievaluasi,” jelas Prof. Yusuf.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa komitmen ini bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan (OB), melainkan harus melibatkan seluruh elemen kampus. Mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan didorong untuk berperan aktif dalam setiap program yang dijalankan.
“Partisipasi aktif seluruh sivitas akademika, terutama mahasiswa, menjadi kunci keberhasilan program ini. Ini bukan sekadar kebijakan, tetapi gerakan bersama,” tegasnya.
Sebagai langkah nyata dalam waktu dekat, FTP UB akan menggelar berbagai program pendukung, di antaranya sosialisasi dan pelatihan terkait pengelolaan lingkungan, penambahan lubang biopori sebagai sumur resapan, serta pengembangan sistem penampungan air hujan yang akan dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman.
Selain itu, fakultas juga berencana memperluas penerapan vertikal garden yang telah menjadi salah satu keunggulan FTP UB dibandingkan fakultas lain di lingkungan Universitas Brawijaya. Keberadaan taman vertikal ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas udara dan efisiensi penggunaan lahan.
Upaya lain yang akan dilakukan meliputi pemasangan kran hemat air serta implementasi smart lighting untuk mendukung efisiensi energi di lingkungan kampus. Langkah-langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kampus yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Menariknya, FTP UB yang kini juga dikenal dengan nama baru Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) menjadi salah satu pionir di Universitas Brawijaya dalam pengembangan konsep kampus hijau berbasis teknologi dan inovasi. Bahkan, bisa dikatakan keberadaan vertikal garden yang dimiliki FTP masih terbatas jumlahnya di lingkungan UB. (dan/kun)






