Ringkasan Berita:
- Menara Masjid Induk PPBU Tambakberas Jombang menyimpan misteri empat huruf hijaiyah kha, ra, ta, dan mim
- Tulisan empat huruf tersebut dikaitkan dengan pesan KH Hasbullah Said yang dibuka KH Abdul Wahab Hasbullah pada 1948 dan dimaknai sebagai simbol “kemerdekaan sempurna”.
- Menara tua Tambakberas memiliki filosofi persatuan, perjuangan, dan keteguhan yang menjadi representasi nilai warga Nahdliyin menjelang Muktamar NU ke-35.
Jombang (beritajatim.com) – Empat huruf hijaiyah yang tertulis di menara Masjid Induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menyimpan kisah panjang yang sarat makna.
Huruf kha, ra, ta, dan mim tersebut bukan sekadar tulisan di bangunan tua, tetapi menjadi bagian dari sejarah spiritual pesantren dan kini menjadi simbol yang diabadikan dalam logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Menara Masjid Induk PPBU Tambakberas merupakan bangunan tertua di lingkungan pesantren yang dibangun sebelum Indonesia merdeka. Keberadaannya menjadi saksi perjalanan sejarah ulama dan santri, sekaligus menyimpan kisah misterius tentang pesan yang ditinggalkan KH Hasbullah Said, ayah dari salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Hasbullah.
Karena nilai sejarah dan filosofi yang melekat, menara tersebut dipilih menjadi ikon dalam logo Muktamar ke-35 NU yang akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026. Menjelang pelaksanaan agenda besar warga Nahdliyin tersebut, menara bersejarah ini kini dipercantik sebagai bagian dari persiapan penyambutan Muktamar.
Kisah misteri empat huruf hijaiyah itu bermula dari perjalanan spiritual KH Hasbullah Said. Dalam buku Masterpiece Islam Nusantara – Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) karya Zainul Milal Bizawie, disebutkan bahwa setelah menjalani tirakat panjang, KH Hasbullah Said menuliskan sebuah pesan di menara Masjid Induk PPBU Tambakberas.
Usai menulis pesan tersebut, Kiai Hasbullah Said menutupnya menggunakan kain satir dan meminta para santri untuk tidak membuka penutup tersebut. Pesan itu disimpan hingga waktu yang telah ditentukan.
Menjelang wafatnya, Kiai Hasbullah Said kembali menyampaikan pesan kepada para santri agar tulisan di menara tersebut dibuka oleh putranya, KH Abdul Wahab Hasbullah.
“Lek misale aku mati omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menoro tahun 1948. (Kalau misalnya aku sudah meninggal, katakana kepada Wahab untuk membuka tulisan di Menara tahun 1948)”.
Beberapa bulan setelah pesan itu disampaikan, KH Hasbullah Said wafat. Kepemimpinan PPBU Tambakberas kemudian diteruskan oleh KH Wahab Hasbullah. Para santri pun menyampaikan amanat tersebut kepada Kiai Wahab.

Dengan didampingi para santri dan sambil mengumandangkan shalawat burdah, KH Wahab Hasbullah membuka kain satir yang menutupi tulisan di menara masjid. Setelah dibuka, tampak empat huruf hijaiyah kha, ra, ta, dan mim yang masih terlihat jelas hingga sekarang.
Setelah memperhatikan tulisan tersebut, Kiai Wahab memahami makna dari rangkaian huruf tersebut. Jika disambungkan, empat huruf hijaiyah itu terbaca sebagai hurun taamun yang memiliki arti kemerdekaan sempurna.
Makna tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi Indonesia pada tahun 1948, ketika kemerdekaan Indonesia mulai mendapatkan pengakuan dunia. Pada masa itu, perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk agresi militer Belanda yang akhirnya berhasil dipukul mundur.
Sebelumnya, KH Wahab Hasbullah juga meminta para santri untuk melakukan itikaf di Masjid Induk PPBU Tambakberas selama sehari penuh sambil membaca shalawat burdah yang merupakan ijazah dari KH Hasbullah Said.
Ketua Umum Yayasan PPBU sekaligus Ketua Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh, membenarkan bahwa menara tersebut memiliki nilai sejarah dan filosofi yang kuat bagi pesantren maupun warga Nahdliyin.
Menurut Gus Rozaq, sapaan akrab KH Abdurrozaq Sholeh, bentuk arsitektur menara yang melingkar menggambarkan semangat persatuan, kebersamaan, dan keutuhan.
“Menara ini dibangun sebelum Indonesia merdeka. Bentuknya yang melingkar menggambarkan persatuan, bahwa dalam kondisi apa pun kita harus tetap bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan,” ujar cicit dari KH Hasbullah Said ini, Jumat (24/7/2026).
Selain bentuk melingkar yang merepresentasikan persatuan, menara yang menjulang tinggi juga dimaknai sebagai simbol semangat perjuangan dan keteguhan masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan pada masa penjajahan.
Hingga kini, tulisan empat huruf hijaiyah kha, ra, ta, dan mim masih dapat terlihat jelas di menara Masjid Induk PPBU Tambakberas. Keberadaannya menjadi pengingat tentang perjalanan panjang pesantren, perjuangan para ulama, serta nilai perjuangan yang diwariskan kepada generasi penerus Nahdlatul Ulama.
Dengan menjadi bagian dari identitas visual Muktamar ke-35 NU, menara Tambakberas tidak hanya berdiri sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga sebagai simbol persatuan, perjuangan, dan harapan bagi warga Nahdliyin. [suf]






