Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, menargetkan layanan homecare akan menyasar 25 ribu hingga 50 ribu keluarga miskin. Program ini menjangkau masyarakat di daerah pinggiran, terutama warga miskin yang sakit berkepanjangan.
“Keluarga miskin juga berhak punya dokter pribadi atau dokter keluarga. Negara harus hadir, pemerintah harus hadir, dan kami akan berikhtiar sekuat mungkin,” kata Bupati Muhammad Fawait kepada wartawan, usai peluncuran program homecare bagi warga miskin, di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, Jumat (24/7/2026).
Homecare adalah layanan kesehatan jemput bola yang dilakukan 50 puskesmas dan tiga rumah sakit daerah di Kabupaten Jember. Kurang lebih 1.200 orang petugas kesehatan dikerahkan mendatangi rumah pasien untuk melakukan pemeriksaan dasar dan memfasilitasi layanan telemedis dengan dokter umum, dokter spesialis, dan bahkan dokter subspesialis tanpa harus meninggalkan rumah.
Pemkab Jember sudah memiliki kriteria dan daftar keluarga miskin yang bisa menikmati layanan homecare. Namun pemerintah juga membuka ruang bagi usulan masyarakat “Kami ada hotline-nya lewat WhatsApp dan nanti kita akan tambahi,” kata Fawait.
Pemkab Jember juga sudah memetakan pasien miskin di daerah-daerah terpencil yang perlu layanan homecare tanpa mempengaruhi layanan puskesmas. “Ada sekitar 4.000-5.000 nakes kita, yang 1.200 orang di antaranya bisa kita pakai untuk homecare. Kita akan berkolaborasi dengan kepala desa kalau ada daerah-daerah yang sangat sulit ditembus,” kata Fawait.
Fawait menyadari program ini bakal memiliki sejumlah kelemahan di sana-sini. “Kita membutuhkan saran dan masukan dari masyarakat, dari semua pihak untuk menyempurnakan kebijakan ini,” katanya/
Fawait tidak menyebutkan anggaran yang disiapkan untuk program ini. “Anggarannya saya pikir bisa kita bareng-bareng. Jadi kayak mobil yang baru 10 unit, yang 40 unit kita mengambil OPD-OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Masalah nakesnya nanti ada perjalanan dinas dalam (kota) dan lain sebagainya,” katanya.
Soal anggaran, Fawait tak terlampau risau. “Saya pikir ini anggarannya bisa kita tekan seminimal mungkin, seefektif mungkin termasuk bagaimana penggunaan kendaraan yang sudah ada,” katanya.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus ingin menjadikan program homecare bagi warga miskin di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebagai progran percontohan nasional.
Dokter spesialis paru ini meminta Bupati Fawait segera menyiapkan presentasi yang terukur di Kementerian Kesehatan dalam waktu dekat untuk diterapkan di provinsi lainnya. “Kita buat role modelnya, kita laporkan presiden, sehingga 2027-2028 bisa jadi program nasional,” katanya.
Permintaan ini membuat Fawait gembira. “Kami bangga dan kami mohon waktu mudah-mudahan sebulan dua bulan ini berjalan dengan lancar. Nanti akan kami presentasikan,” katanya.
Fawait berharap program ini bisa diterapkan di seluruh Indonesia. “Karena ini sesuai dengan semangat Presiden, bagaimana Presiden memberikan perhatian khusus dan lebih kepada masyarakat yang tidak mampu,” katanya. [wir/ian]






