Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan komitmennya terhadap inovasi teknologi melalui pengembangan Smart Forest di UB Forest. Dalam acara Bincang dan Obrolan Santai (BONSAI) yang digelar Divisi Informasi dan Kehumasan UB mengusung tema “Inovasi Teknologi IoT untuk Pengelolaan Hutan” menjadi sorotan utama.
Tiga narasumber utama berbagi pandangan mereka tentang masa depan pengelolaan hutan berbasis teknologi. Pertama, Rachmad Andri Atmoko, S.ST., M.T., MCF – Kepala Laboratorium Internet of Things (IoT) & Human Centered Design, Fakultas Vokasi UB.
Kedua, Rifqi Rahmat Hidayatullah, S.Hut., M.Si – Koordinator KJF/Manajer Pendidikan dan Pelatihan UPT Pengelola Kawasan Hutan (PKH). Ketiga, Dr. Muchammad Roviq, SP., MP – Kepala UPT PKH.
Rifqi Rahmat Hidayatullah menyoroti tantangan pengelolaan hutan modern. Ia melihat kebutuhan alat yang dapat memantau biofisik, iklim, dan keamanan hutan secara real-time.
“Teknologi monitoring berbasis satelit sering kali terlambat karena keterbatasan dalam pengiriman data. Oleh karena itu, kami mengembangkan perangkat yang lebih cepat, tahan cuaca, anti-pencurian, dan memiliki daya tahan baterai yang lama,” ujarnya saat acara pada Rabu (11/12/2024).
Pengembangan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) ini didukung kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). AI dirancang untuk mendeteksi aktivitas satwa liar, manusia, kendaraan, hingga potensi kebakaran hutan.
Rachmad Andri Atmoko menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama penerapan IoT di hutan adalah keterbatasan jaringan internet. Untuk mengatasi hal ini, UB Forest memanfaatkan teknologi jaringan LoRa (Long Range), yang memungkinkan pengiriman data meski berada di daerah tanpa sinyal.
“Kami mencoba memanfaatkan jaringan LoRa untuk mengirim gambar meskipun bandwidth-nya kecil. Meskipun proses transfernya lebih lambat dibandingkan 3G atau 4G, teknologi ini sangat relevan untuk pengelolaan hutan yang minim akses internet,” jelas Rachmad.
Teknologi ini juga dilengkapi dengan camera trap yang mampu mendeteksi keberadaan hewan langka, manusia, hingga kendaraan. Bahkan, sensor AI dapat mendeteksi getaran untuk memitigasi potensi kebakaran hutan.
Sebagai kawasan pembelajaran, UB Forest tidak hanya berfungsi untuk studi kehutanan dan pertanian tetapi juga menjadi laboratorium pengembangan teknologi informasi. Dengan koleksi tumbuhan langka yang dimilikinya, UB Forest menjadi model keberlanjutan yang memadukan sains dan teknologi.
“Melalui inovasi ini, Universitas Brawijaya berupaya melindungi hutan dan lahan masyarakat sekitar UB Forest. Informasi yang dikumpulkan dari perangkat ini akan dikirimkan ke pusat kontrol untuk ditampilkan dalam dashboard berbasis web, mempermudah pengambilan keputusan,” kata Rachmad menutup.
Dengan langkah revolusioner ini, Universitas Brawijaya menjadi pelopor dalam pengelolaan hutan berbasis teknologi. UB menawarkan solusi modern yang dapat diterapkan di seluruh Indonesia. (dan/but)






