Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Indri Yulia Mariska menilai masih ditemukannya kasus HIV pada anak menjadi indikasi bahwa sistem pencegahan di Jatim belum berjalan optimal. Kondisi ini terjadi meski secara umum tren penemuan kasus HIV menunjukkan penurunan hingga Oktober 2025.
“Penurunan jumlah kasus memang patut diapresiasi, tetapi munculnya kasus HIV pada anak harus menjadi alarm keras. Ini berarti masih ada celah serius dalam pencegahan penularan dari ibu ke anak,” tegas Indri, Senin (15/12/2025).
Data Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat penemuan kasus HIV sebesar 10.671 pada 2023, turun menjadi 10.556 pada 2024, dan kembali menurun menjadi 8.962 hingga Oktober 2025. Indri menilai angka tersebut perlu dibaca lebih dalam, terutama terkait kualitas pencegahan.
“Penemuan kasus adalah indikator kinerja, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sistem mampu mencegah kasus baru muncul, terutama pada kelompok paling rentan seperti anak dan remaja,” ujarnya.
Indri menyebut konsentrasi kasus di sejumlah daerah seperti Surabaya, Jember, dan Sidoarjo membutuhkan pendekatan berbasis wilayah. Dia menilai strategi pencegahan perlu disesuaikan dengan karakter dan risiko lokal.
“Wilayah dengan angka tinggi harus diperlakukan sebagai prioritas khusus. Harus ada intervensi yang terukur, berkelanjutan, dan dievaluasi secara berkala,” katanya.
Kasus HIV pada anak, menurut Indri, mayoritas dipicu penularan dari ibu yang tidak menjalani pengobatan. Hal ini mengindikasikan layanan penapisan HIV pada ibu hamil melalui antenatal care belum merata.
“Jika ANC berjalan optimal, seharusnya hampir tidak ada bayi yang lahir dengan HIV. Dinkes Jatim perlu memastikan skrining HIV menjadi standar wajib dan diawasi di seluruh fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Kelompok remaja usia 15–19 tahun juga menjadi perhatian karena masih mencatat ratusan kasus baru. Indri menilai pendekatan edukasi harus lebih relevan dengan dunia remaja.
“Program sosialisasi harus menyentuh sekolah, keluarga, dan komunitas, serta memanfaatkan media digital secara serius,” tegasnya.
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim mendorong penguatan koordinasi lintas sektor dan kesinambungan pengobatan. Indri menyebut perlu fokus pada perlindungan anak sebagai prioritas.
“Target eliminasi HIV-AIDS 2030 hanya tercapai jika ada evaluasi internal yang berani dan perlindungan anak ditempatkan sebagai prioritas utama,” pungkasnya.[asg/aje]






