Setiap kali Inggris mengikuti perhelatan turnamen sepak bola dunia, slogan ‘Football’s Coming Home’ alias sepak bola sedang pulang kampung senantiasa digemakan publik di sana. ‘Football’s Coming Home‘ adalah petikan lirik lagu berjudul ‘Three Lions‘ bikinan kelompok musik The Lighting Seeds dan dua komedian, David Baddiel dan Frank Skinner. Three Lions adalah julukan tim nasional Inggris.
Lagu ini dipopulerkan menjelang Piala Eropa 1996 digelar di Inggris. Kebetulan turnamen itu digelar tepat 30 tahun setelah Inggris terakhir kali menjuarai Piala Dunia, yang saat itu bernama trofi Jules Rimet, di kandang sendiri. “Three lions on a shirt, Jules Rimet still gleaming,” demikian salah satu petikan lirik lagu itu.
Lagu ini refleksi kerinduan publik Inggris terhadap kembalinya trofi elite sepak bola ke negeri mereka. Selama puluhan tahun pula kerinduan itu bertepuk sebelah tangan.
Inggris selalu gagal di fase-fase krusial Piala Dunia dan Piala Eropa. Terakhir, anak-anak asuhan Gareth Southgate gagal menjadi juara Piala Eropa di rumah sendiri, Stadion Wembley, pada 2020 setelah kalah adu penalti dari Italia yang dilatih Roberto Mancini.
Bagi publik Inggris, Piala Dunia dan Piala Eropa tak sekadar trofi. Dua trofi itu sinonim dengan sepak bola itu sendiri. Jadi keberhasilan tim nasional Inggris menjuarai salah satu atau kedua turnamen tersebut sama dengan mengembalikan sepak bola ke rumah asalnya.
Ini arogansi (atau bahkan mungkin sindrom?) khas sebuah negeri yang merasa menemukan sepak bola, dan menjadi imperialis dengan membentuk koloni-koloni di bawah bendera ‘gold, glory and gospel‘ di berbagai belahan dunia selama ratusan tahun silam.
Banyak literatur yang memperdebatkan asal-muasal sepak bola. Luciano Wernicke, seorang jurnalis Argentina, dalam buku Why Is Soccer Played Eleven Against Eleven?, menyebutkan bahwa sepak bola ditemukan pada masa Dinasti Han di China pada abad ke-2 dan ke-3 sebelum masehi dengan nama Ts’uh Kuh atau Cuju.
Bahkan, menurut Wernicke, Cuju mungkin sudah ditemukan sejak 2000 atau 2500 sebelum masehi. Sementara itu di Jepang, ada permainan mirip sepak bola bernama Kemari, dan di Romawi, ada seseorang yang tewas dengan tenggorokan tersayat karena bola mengenai pisau yang digunakan untuk mencukurnya.
Sementara di Inggris, sepak bola yang kecampuran dengan rugby, justru sempat dilarang keras oleh otoritas Kota London pada 1314 karena memunculkan kekacauan di jalan dan taman. Raja Edward III menerbitkan puluhan aturan yang melindungi warga dari sepak bola. Raja Henry IV menghukum dan mendenda siapapun yang bermain sepak bola pada 1410.
Namun di Inggris pula, sepak bola menjadi lebih beradab. Aturan sepak bola dibuat dan diperkenalkan pertama kali oleh para mahasiswa di Universitas Cambridge pada 1848. Sepuluh tahun kemudian, klub sepak bola pertama di dunia bernama Sheffield Football Club yang berdiri pada 24 Oktober 1857 membuat aturan yang dikenal dengan nama ‘Sheffield Rules‘.
Salah satu aturannya adalah membedakan dua tim yang bertanding dengan dua warna kostum, yakni flannel merah dan flannel biru gelap. Aturan Sheffield juga melarang penggunaan tangan, dan memperkenalkan tendangan sudut, lemparan ke dalam, tendangan bebas, dan penggunaan mistar gawang selain tiang gawang sisi kiri dan kanan.
Setelah Football Association, nama federasi sepak bola di Inggris, terbentuk, pada 26 Oktober 1863, semua aturan yang tersebar di sejumlah tempat di Inggris dibakukan dalam satu aturan. Bolanya kini berbentuk bulat, berbeda dengan rugby yang menggunakan bola berbentuk lonjong. Belakangan di Amerika Serikat, rugby lebih dikenal dengan nama football (sepak bola), dan sepak bola sebagaimana pengertian di Inggris disebut soccer.
Pertandingan sepak bola yang menghadirkan sebelas orang melawan sebelas orang resmi pertama kali dilangsungkan di lapangan Battersea Park, pada 31 Maret 1866, antara London melawan Sheffield FC. Selain itu FA memutuskan durasi pertandingan 90 menit terdiri atas dua babak, yang masing-masing 45 menit.
Inggris pula yang pertama kali menyelenggarakan turnamen sepak bola resmi bernama Challenge Cup yang diikuti 15 tim dengan sistem gugur pada 1871. Tim-tim ini kemudian patungan satu pound untuk membeli piala, dan belakangan turnamen ini disebut FA Cup.
Sepak bola menjadi tontonan sekaligus permainan kelas pekerja di Inggris. David Goldblatt dalam buku The Ball is Round menyebut kolonisasi sepak bola kelas pekerja bertepatan dengan semakin matang dan berkembangnya industrialisasi maupun urbanisasi di sana. “The connections between football and industrialism were always more than mere coincidences, parallels or reflections,” tulisnya.
Selain didirikan jemaat gereja dan pelajar sekolah, klub-klub sepak bola juga didirikan kaum pekerja seperti Arsenal dan Manchester United. Bahkan, industrialisasi ikut menyebarkan sepak bola modern dengan aturan baku dari Inggris ke seluruh penjuru dunia melalui serangkaian perdagangan dan penaklukan militer.
Koloni-koloni Inggris di São Paulo, Rio, Lima, Buenos Aires, Porto, dan Lisbon membentuk masyarakat kelas menengah dan mengirimkan anak-anak mereka pulang kampung untuk bersekolah. Tentu saja mereka dipulangkan bukan hanya untuk bermain sepak bola. Namun begitu masa pendidikan usai, anak-anak ini yang kembali ke negara-negara jajahan dan membentuk klub-klub sepak bola.
Tahun 1870-an, resimen tentara Inggris memainkan sepakbola pertama kali di Belfast, Irlandia, yang kemudian berkembang sangat pesat di kalangan kelas pekerja. Satu dekade kemudian, Asosiasi Sepak Bola Irlandia dibentuk.
Angkatan darat Inggris menaklukkan Afrika Selatan, membentuk pemerintahan kolonial di sana, sekaligus mengajarkan cara bermain sepak bola, kriket, hoki, dan rugbi kepada warga setempat. Namun pada akhirnya sepak bola tak hanya menjadi olahraga, tapi digunakan sebagai instrumen organisasi sosial, alat ekspresi diri kultural, sekaligus tolok ukur untuk menunjukkan keterbatasan dan kerapuhan otoritas penjajah oleh masyarakat setempat.
Perkembangan sepak bola Italia berutang budi pada orang-orang Inggris. AC Milan didirikan saudagar tekstil Inggris berusia 21 tahun bernama Herbert Kilpin. Dia pindah dari Nottingham ke Turin, dan mendirikan AC Milan di Italia. Tidak hanya ikut mendirikan, Kilpin juga ikut tiga kali membawa Milan juara kejuaraan nasional sebagai pemain dan dua kali sebagai pelatih.
Setali tiga uang, klub sepak bola Napoli didirikan pada 1904 oleh William Poths, seorang pekerja Inggris di perusahaan maskapai perkapalan Cunnard Lines. Sebelum terbentuk, para pelaut Britania sudah terbiasa bermain sepak bola bersama warga Napoli. Semula nama klub ini adalah Napoli Football and Cricket Club, yang kemudian berganti menjadi Societa Sportiva Calcio Napoli.
Klub Sao Paulo di Brasil didirikan Charles Miller, seorang Inggris kelahiran Brasil, setelah menyelesaikan masa sekolah di negeri moyangnya. Sementara itu klub Penarol diprakarsai para pekerja jawatan kereta api asal Inggris yang beroperasi di Uruguay pada 1891.
Sepak bola di India dimainkan secara sporadis oleh para pelaut dan tentara Inggris, di pelabuhan-pelabuhan dan kota-kota besar kurang kebih sejak abad ke-19. Sepak bola semula jadi pembeda dengan orang-orang terjajah sekaligus merawat ikatan orang-orang Inggris dengan kampung halaman. Namun dinamika politik kolonial, menurut Goldblatt, membuat upaya mengeksklusi warga setempat dari sepak bola menjadi mustahil.
Kendati menjelajah dunia demi ‘gold, glory, gospel, goals/games‘, Inggris relatif tak banyak berjaya dalam turnamen sepak bola antarbangsa. Setelah sempat merebut medali emas cabang sepak bola dalam Olimpiade 1900, 1908, dan 1912, Inggris yang tampil dengan nama Britania Raya tidak pernah lagi tampil di podium teratas. Mereka kalah bersaing dengan negara-negara bekas jajahan tempat sepak bola disebarkan dan diajarkan.
Begitu juga dalam Piala Dunia. Inggris justru baru pertama kali ikut serta pada 1950 di Brasil. Itu pun mereka dipermalukan Amerika Serikat 0-1 dalam pertandingan grup, sehingga gagal lolos ke fase berikutnya. Geoffrey Doulglas, dalam buku The Game of Their Lives, mengabadikan peristiwa itu sebagai peristiwa bersejarah yang bahkan diremehkan oleh orang Amerika Serikat sendiri.
Dari empat ratusan reporter dari berbagai negara yang meliput Piala Dunia di Brasil, hanya ada satu orang jurnalis AS, Dent McSkimming dari St. Louis Post-Dispatch. Dia sebenarnya tidak mendapat tugas resmi ke sana, karena tidak bisa meyakinkan redakturnya bahwa Piala Dunia adalah berita penting.
Saat itu, bursa taruhan di London mengunggulkan Inggris 3:1 untuk bisa menjuarai Piala Dunia, melampaui Italia, Uruguay (yang kemudian menjadi juara), dan Spanyol (yang satu grup di Grup B). Namun apa yang di atas kertas tak bisa diwujudkan. Setelah kalah dari AS, Inggris kalah 0-1 dari Spanyol.
Setelah itu perjalanan Inggris di Piala Dunia dari waktu ke waktu tak membaik. Mereka terhenti di babak perempat final 1954, tersisih di fase grup Piala Dunia 1958, dan rontok di babak perempat final pada 1962
Optimisme merekah setelah menjadi juara dunia pada 1966. Namun empat tahun kemudian mereka kembali gagal di Meksiko. Bahkan Tiga Singa gagal lolos kualifikasi Piala Dunia 1974 dan 1978.
Sejarah mencatat Inggris akrab dengan kegagalan pada rangkaian Piala Dunia 1982 hingga 2022. Bahkan dengan cara yang sangat menyakitkan, seperti dipermalukan dengan gol ‘tangan Tuhan’ dan atraksi solo Maradona saat melawan Argentina pada perempat final Piala Dunia 1986, atau, dikalahkan Jerman Barat di semifinal Piala Dunia 1990 melalui adu penalti.
Kegagalan Inggris di Piala Eropa lebih parah. Mereka tak pernah menjuarai turnamen ini. Satu-satunya peluang terbesar mereka untuk memperoleh trofi itu untuk pertama kali adalah saat Stadion Wembley menjadi tuan rumah final pada 2020. Namun ketidakbecusan Marcus Rashford, Jardon Sancho, dan Bukayako Saka mengeksekusi bola dalam adu penalti membuat mimpi ‘sepak bola pulang kampung’ kembali buyar, dan lirik lagu ‘Three Lions‘ kembali bergema.
Songs in the street
it was nearly complete
it was nearly so sweet
Setelah berakhirnya dominasi militer Kerajaan Inggris pasca Perang Dunia II, sebenarnya praktis hanya sepak bola yang bisa diandalkan untuk merawat ingatan orang-orang Inggris tentang kehebatan imperium mereka pada masa lampau.
Bahkan, Orwell mengibaratkan sepak bola adalah ‘perang tanpa tembakan bedil’. Maka tak heran jika kemudian pertandingan sepak bola selalu diidentikkan dengan kisah-kisah pertempuran, seperti pertempuran Falkland atau Malvinas saat bertanding melawan Argentina pada 1986, dan kisah Perang Dunia II saat menghadapi Jerman.
Suporter Inggris sembari membawa pesawat tempur mainan, selalu menyanyikan chant berjudul Ten German Bombers yang bercerita tentang kehebatan angkatan udara mereka dalam menghalau pesawat-pesawat Jerman pada Perang Dunia II.
There were ten German bombers in the air
There were ten German bombers in the air
There were ten German bombers, ten German bombers
And the RAF from England shot one down
And the RAF from England shot one down
And the RAF from England, the RAF from England
And the RAF from England shot one down
Masalahnya, dalam urusan sepak bola pun, Inggris kini tertinggal. Gemerlap Liga Primer Inggris yang menyedot bintang-bintang sepak bola dunia tak berbanding lurus dengan prestasi tim nasional Tiga Singa. Ujung-ujungnya luka sejarah itu semakin dalam dan tak juga mengering.
Tears for heroes dressed in grey.
No plans for final day.
Stay in bed, drift away
Ditulis oleh dua komedian, lirik lagu ‘Three Lions’ jelas kisah tentang sejarah lara ketimbang tawa. [wir]






