Jombang (beritajatim.com) – Asap tipis mulai membubung di sudut-sudut asrama Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Rabu (27/5/2026). Aroma daging bakar perlahan memenuhi udara siang. Di tengah keramaian itu, Ikmal (13) melangkah sambil membawa nampan berisi tusukan daging yang siap dibakar.
Tubuh santri kecil itu dibalut kaos sederhana dan sarung yang dililit seadanya. Wajahnya tampak sumringah. Sesekali ia tersenyum kepada teman-temannya yang sudah menunggu di dekat bara api.
Di hadapan mereka, arang disusun memanjang. Api disulut perlahan hingga menyala besar, lalu meredup menyisakan bara merah menyala. Di atas bara itulah tusukan-tusukan daging mulai dipanggang.
Suara gemeretak arang bercampur tawa para santri. Aroma sate yang menguar seakan menjadi penanda bahwa Hari Raya Iduladha di Tebuireng bukan hanya tentang kurban, tetapi juga tentang kebersamaan yang dirawat turun-temurun.
Ikmal tampak menikmati momen itu. Maklum, tahun ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti tradisi bakar sate berjamaah di pesantren legendaris yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari tersebut.
“Saya baru pertama kali ikut bakar sate berjamaah. Karena saya baru menjadi santri Tebuireng satu tahun ini,” ujar siswa kelas VII Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah (MTs SS) Tebuireng asal Kecamatan Dlanggu Mojokerto.
Tak jauh dari Ikmal, suasana serupa juga terlihat di halaman asrama lain. Nizam (14) bersama sekitar 20 teman sekamarnya sibuk mengelilingi tungku sederhana dari arang. Tangannya cekatan membolak-balik daging di atas bara agar matang merata.
Sementara santri lain mengipasi bara menggunakan kipas bambu. Sebagian lagi meracik bumbu, mencelupkan tusukan sate ke dalam campuran rempah, lalu menyerahkannya kepada teman yang bertugas memanggang.

Kerja sama itu berlangsung tanpa komando. Semua bergerak spontan. Semua larut dalam kegembiraan yang sama. “Daging sate sudah siap untuk dinikmati,” seru Nizam hampir bersamaan dengan tawa teman-temannya.
Tradisi bakar sate berjamaah memang telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perayaan Iduladha di Tebuireng. Pengurus pesantren, H Lukman Hakim, mengatakan tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut dia, setiap kamar atau asrama mendapatkan jatah empat kilogram daging kurban dari panitia. Daging itulah yang kemudian diolah dan dinikmati bersama oleh para santri.
“Di Tebuireng ada sekitar 80 asrama. Masing-masing asrama berisi sekitar 20 santri. Setiap asrama mendapatkan empat kilogram daging,” ujarnya.
Bagi para santri, tradisi ini bukan sekadar pesta sate. Ada nilai kebersamaan, gotong royong, hingga keikhlasan yang ditanamkan melalui momen sederhana tersebut.
Mereka belajar berbagi. Belajar memasak bersama. Belajar menikmati kebahagiaan tanpa memandang asal daerah maupun latar belakang. “Ini akan menjadi kenangan tersendiri ketika mereka lulus dari Tebuireng,” kata Lukman, alumni Tebuireng asal Banten.
Pada Iduladha 1447 Hijriah tahun ini, Pondok Pesantren Tebuireng menyembelih 35 ekor sapi kurban. Hewan kurban itu berasal dari berbagai pihak, mulai dari Presiden RI Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hingga Kapolda Jawa Timur Nanang Avianto.
Namun di antara puluhan sapi kurban itu, ada sesuatu yang jauh lebih hangat dari sekadar daging yang dibagikan.
Yakni kebersamaan para santri yang duduk melingkar di sekitar bara api, menikmati sate bersama-sama, sambil menertawakan hal-hal sederhana yang kelak akan mereka rindukan ketika meninggalkan Tebuireng. [suf]






