Malang (beritajatim.com) – Ramai di jagat media sosial TikTok terkait desain toga baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang dinilai netizen mirip kostum kesenian bantengan, akhirnya mendapat respons resmi. Kampus putih resmi membatalkan penggunaan perlengkapan wisuda versi terbaru itu untuk Wisuda Periode ke-122 Tahun 2026.
Sebagai langkah solutif, UMM langsung membuka layanan penukaran bagi seluruh calon wisudawan yang terlanjur menerima atribut tersebut. Melalui surat pemberitahuan resmi dari Panitia Wisuda UMM, manajemen universitas mengakui adanya ketidaksesuaian yang fatal antara hasil produksi massal dengan rancangan awal.
Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menegaskan bahwa langkah penarikan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral institusi terhadap kualitas dan marwah kampus. Menurutnya, pihak rektorat dan jajaran pimpinan sejak awal menginginkan adanya penyegaran visual pada atribut kelulusan tersebut.
“Sebenarnya arahan dari para rektor memang harus kita lewati. Toga yang kita gunakan saat ini kan posisinya sudah sangat lama sekali dipakai. Kami di level pimpinan kemarin memikirkan dan merencanakan adanya penyegaran desain toga yang akan digunakan agar lebih fresh dan menarik,” ujar Tatag saat dikonfirmasi, Selasa (7/7/2026) di tengah seremonial wisuda.

Tatag membeberkan bahwa proses internal perencanaan desain hingga penentuan warna sejatinya sudah disepakati bersama. Namun, saat hasil produksi dari pihak vendor selesai, kualitasnya ternyata jauh dari ekspektasi dan sampel awal yang diajukan kepada pimpinan.
“Memang yang terjadi adalah apa yang sudah kita sepakati terkait desain, warna, dan bahan itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang pertama kita contohkan. Karena ketidaksesuaian itu, saat dicoba dibagikan kepada calon wisudawan, muncul respons yang masif,” imbuhnya.
Ia menambahkan, kegaduhan di media sosial, termasuk analogi netizen yang menyamakan toga tersebut dengan kostum kesenian bantengan, menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi UMM. Rektor UMM pun mendengarkan dinamika ini dengan bijaksana dan langsung menginstruksikan pembatalan.
“Pak Rektor mendengarkan dengan bijaksana, beliau memutuskan bahwa ini adalah bagian dari tanggung jawab UMM. Maka seluruh toga yang kemarin dibagikan untuk kegiatan ini kita tarik semua, dan kita sementara kembali menggunakan toga lama. Kami mengakui ada kesalahan desain, bahan, dan warna. UMM ini kampus besar, kalau kualitasnya seperti itu ya kita tidak berkenan memaksakannya,” urai Tatag.
Hingga saat ini, proses pengembalian terus dikebut oleh pihak panitia. Dari total 971 wisudawan yang terdaftar untuk periode wisuda tanggal 7 hingga 9 Juli 2026, ratusan atribut sudah berhasil ditukarkan kembali ke biro kemahasiswaan.
Meskipun terjadi insiden salah produksi pada periode ini, Tatag memastikan rencana penyegaran desain toga UMM tidak akan dihentikan total. Kampus tetap mengagendakan perubahan desain di masa mendatang dengan pengawasan kualitas yang jauh lebih ketat agar mampu memberikan kesan kelulusan yang lebih bermakna dan membanggakan bagi para lulusan serta orang tua.
“Posisi saat ini, dari kemarin sudah sekitar 460 toga yang kembali ke kami. Kami targetkan hari ini dan besok untuk wisudawan tanggal 9 semuanya sudah selesai kembali ke desain lama. Seluruh pembiayaan logistik penarikan ini ditanggung penuh oleh universitas,” pungkasnya. (dan/but)






