Malang (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (FK Unisma) mengukuhkan 26 dokter baru dengan tingkat kelulusan 100 persen pada prosesi Baiat Dokter Muslim Periode 44, Sabtu (24/1/2026). Prestasi gemilang ini semakin istimewa dengan lahirnya dokter termuda sepanjang sejarah fakultas, yakni dr. Muchammad Jousyah Andhira Satriyo yang baru berusia 21 tahun.
Jousyah berhasil menyandang gelar profesi dokter setelah sebelumnya menempuh jalur akselerasi dan masuk bangku perkuliahan di usia 15 tahun. Meski lulus di usia yang sangat dini, ia tetap menjalani masa pendidikan klinis dan akademik selama enam setengah tahun sesuai standar ketat fakultas.
Dekan FK Unisma, dr. Rahma Triliana, M.Kes, PhD, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi para mahasiswa angkatan 2019 dan peserta retaker yang lulus sempurna. Pencapaian ini menambah daftar panjang rekor FK Unisma yang telah meraih kelulusan 100 persen sebanyak 22 kali dari 26 periode ujian nasional.
“Alhamdulillah, dari 26 anak yang dibaiat, semuanya lulus UKMPPD 100 persen. Ini menjadikan rekor kami mencapai 22 kali lulus 100 persen dari total 26 kali periode ujian UKMPPD di bawah kepemimpinan kami,” ujar dr. Rahma.
Kelulusan periode ini dinilai penuh perjuangan karena adanya kendala teknis pada sistem server ujian nasional serta perubahan struktur kepanitiaan di tingkat pusat. Dr. Rahma menyebutkan bahwa para peserta harus menghadapi situasi sulit akibat gangguan akses sistem yang sempat menghambat jalannya ujian kompetensi tersebut.
“Anak-anak ini ‘berdarah-darah’ saat ujian, harus reload berulang kali. Karena nilai nasional belum keluar, kami belum mengetahui nilai CBT maupun OSCE secara rinci, sehingga penentuan lulusan terbaik kali ini murni didasarkan pada IPK,” jelasnya.

Pihak fakultas menegaskan bahwa keputusan untuk tetap melantik para dokter baru didasarkan pada kepastian status kelulusan yang sudah terverifikasi 100 persen. Hal ini dilakukan guna menjamin kepastian masa depan para lulusan agar bisa segera mengabdikan diri kepada masyarakat tanpa terhambat urusan administrasi nilai detail.
Dekan juga menitipkan pesan mendalam agar para dokter baru senantiasa mengedepankan sisi kemanusiaan dan empati dalam menjalankan praktik medis. Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus dibarengi dengan kemampuan memanusiakan pasien sebagai sesama manusia.
“Jadilah manusia. Kalau dokter tidak bisa mengerti rasanya menjadi manusia, tidak bisa memanusiakan manusia lain, ia akan menjadi orang asing,” pesannya dengan nada haru di hadapan para wisudawan.
Wakil Rektor 1 Unisma, dr. Hj. Erna Sulistyowati, M.Kes., Ph.D., menambahkan bahwa prestasi FK ini merupakan pilar penting dalam mewujudkan visi World Class University. Capaian akademik yang konsisten diharapkan mampu memperkuat posisi Unisma di kancah internasional pada periode 2027-2031 mendatang.
Saat ini Unisma juga telah dipercaya menjadi salah satu dari 30 universitas di Indonesia yang mengelola beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Inisiatif ini membuka peluang luas bagi mahasiswa mancanegara untuk menempuh studi di 17 program studi unggulan yang tersedia di kampus tersebut.
Dr. Erna berharap para lulusan dokter muslim Unisma memiliki daya saing global namun tetap menjaga jati diri yang berakhlakul karimah. Dengan integrasi teknologi kesehatan modern dan nilai spiritual, dokter lulusan Unisma diharapkan mampu beradaptasi dengan tantangan medis masa depan. [dan/beq]






