Pamekasan (beritajatim.com) – Fenomena perundungan di lingkungan pendidikan Indonesia kembali menjadi sorotan, termasuk di dalam pesantren yang selama ini dikenal sebagai pusat pembentukan karakter dan spiritualitas.
Sebuah kajian terbaru mengungkap dinamika yang lebih kompleks di balik praktik tersebut, khususnya di kalangan santri Madura dalam program akselerasi pembelajaran kitab kuning.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Prof Dr Achmad Muhlis MA dalam Orasi ilmiah Pengukuhan Guru Besar di Auditorium UIN Madura, Jl Raya Panglegur KM 4 Tlanakan, Pamekasan, Sabtu (2/5/2026).
Dalam penelitiannya, ia menemukan fenomena perundungan tidak semata-mata merupakan perilaku negatif yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari gejala sosial yang lebih dalam, yakni dalam bentuk resistensi terhadap perubahan sistem pembelajaran.
Program akselerasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi belajar justru memunculkan ketegangan epistemologis antara pendekatan modern yang serba cepat dengan tradisi pesantren yang menekankan kesabaran, keberkahan (barokah), dan pendalaman makna.
Dalam kultur hierarkis khas Madura, resistensi tersebut jarang muncul secara terbuka. Sebaliknya, ia hadir dalam bentuk *hidden resistance* (perlawanan tersembunyi) yang salah satunya termanifestasi melalui praktik perundungan antar santri. Meski tampak destruktif, fenomena ini tidak selalu berujung pada perpecahan sosial.
“Justru di sinilah menariknya, perundungan dalam konteks ini bisa menjadi sinyal adanya kegelisahan kolektif yang, jika dikelola dengan tepat, dapat berubah menjadi energi reflektif,” kata Prof Dr Achmad Muhlis.
Kajian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pesantren tidak bersifat statis. Di tengah konflik yang muncul, terjadi proses transformasi nilai yang signifikan—dari kepatuhan pasif menuju kepatuhan kritis. Santri mulai tidak hanya menerima tradisi, tetapi juga mengolah dan mendialogkannya dengan tuntutan zaman.
“Hasilnya adalah model pembelajaran integratif yang memadukan akselerasi modern dengan metode tradisional seperti *sorogan dan bandongan*. Lebih dari itu, lahir pula konsep-konsep nilai baru yang disebut sebagai nilai transformatif,” ungkap Guru Besar Bidang Sosiologi Pendidikan Islam.
Di antara nilai baru yang disebut sebagai nilai transformasi, meliputi ikhlas aktif; keikhlasan yang disertai kesadaran dan partisipasi, tawadhu dialogis; kerendahan hati yang terbuka terhadap diskusi, barokah epistemik; keberkahan yang lahir dari proses pencarian ilmu yang bermakna, serta ta’dzim partisipatif; penghormatan kepada guru yang bersifat aktif dan reflektif.
“Transformasi ini memperlihatkan bahwa pesantren mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Konflik yang awalnya tampak sebagai ancaman justru menjadi pintu masuk bagi inovasi pendidikan berbasis kearifan lokal,” tegas pria yang juga tercatat sebagai Direktur Utama IBS Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan.
Ketua Senat UIN Madura tersebut, juga menegaskan studi tersebut tidak hanya menyoroti sisi gelap praktik perundungan, tetapi juga membuka perspektif baru dalam sosiologi pendidikan Islam: bahwa konflik pembelajaran. “Jika dipahami secara kontekstual, dapat menjadi katalis bagi perubahan nilai spiritual yang berkelanjutan,” ungkapnya.
“Oleh karena itu kami ingin menyimpulkan bahwa pesantren pada akhirnya akan kembali menegaskan posisinya sebagai institusi hidup yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus berdialog dengan modernitas,” pungkasnya. [pin/ted]






