Ringkasan Berita:
- Universitas Bhayangkara Surabaya mewisuda 207 lulusan program sarjana dan magister pada Rabu (17/6/2026).
- Rektor memastikan seluruh lulusan telah memenuhi standar akademik dan memiliki nomor ijazah resmi dari Kemendiktisaintek.
- Wakapolda Jatim mengajak lulusan menjadi pemecah masalah, adaptif terhadap teknologi, dan menjaga kondusivitas melalui semangat Jogo Jatim.
- LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur menegaskan lulusan perguruan tinggi harus menjadi agen perubahan di era kolaborasi.
Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya mewisuda sebanyak 207 mahasiswa program sarjana dan magister dalam prosesi wisuda yang digelar di Gedung Graha Ubhara, Rabu (17/6/2026). Para lulusan diharapkan tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi juga mampu bersaing di dunia kerja, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Rektor Ubhara Surabaya, Irjen Pol (Purn) Anton Setiadji memastikan seluruh wisudawan telah memenuhi standar akademik dan terdaftar secara resmi di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
“Sebanyak 207 wisudawan yang lulus ini adalah bentuk tanggung jawab kampus kepada negara. Mereka sudah memiliki PIN dan nomor ijazah resmi,” kata Anton.
Ia mengingatkan para lulusan agar tidak cepat merasa puas setelah meraih gelar akademik. Menurutnya, tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika mereka memasuki dunia kerja dan terjun langsung ke tengah masyarakat.
“Terus tingkatkan kemampuan dan jangan sombong. Kalian harus punya daya saing kuat untuk masuk dunia kerja atau bahkan membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Prosesi wisuda turut dihadiri Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur (Wakapolda Jatim), Brigjen Pol Pasma Royce. Dalam sambutannya, ia menyoroti dinamika geopolitik global yang berdampak pada kondisi ekonomi maupun stabilitas sosial di Indonesia.
“Saudara tidak boleh hanya menonton. Kalian harus menjadi pemecah masalah di tengah berbagai tantangan dan krisis yang melanda saat ini,” tutur Pasma.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas daerah. Karena itu, ia mengajak para wisudawan ikut menjaga situasi kondusif melalui semangat Jogo Jatim yang selama ini menjadi salah satu upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Lulusan Ubhara harus adaptif terhadap teknologi. Kalian adalah benteng masyarakat untuk menangkal hoaks dan menjaga tegaknya aturan hukum,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Dyah Sawitri, menilai lulusan perguruan tinggi harus mampu menjadi agen perubahan di tengah perkembangan zaman yang berlangsung sangat cepat.
“Zaman sekarang adalah eranya komunikasi dan kolaborasi. Tidak ada lagi orang yang bisa bekerja sendiri dengan sukses,” ungkap Dyah.
Ia berharap para sarjana baru mampu membaca peluang, membangun kolaborasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kompetensi yang dimiliki.
“Jadilah agen perubahan yang nyata. Kalian harus mampu memberikan efek lanjutan yang baik bagi kehidupan masyarakat luas,” tambahnya. [ipl/beq]






