Ponorogo (beritajatim.com) – Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Ajang budaya yang menjadi bagian rangkaian perayaan Grebeg Suro itu, berhasil masuk dalam daftar 10 event terbaik di Indonesia dalam Kharisma Event Nusantara. Bahkan melampaui sejumlah agenda budaya ternama seperti Pesta Kesenian Bali dan Gandrung Sewu Banyuwangi.
Pengakuan tersebut disampaikan Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, saat menghadiri penutupan Grebeg Suro di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo, Senin (15/6/2026) lalu. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa Reog Ponorogo semakin mendapat tempat dalam peta pariwisata dan budaya nasional, bahkan dunia.
“Festival Nasional Reog Ponorogo berhasil masuk dalam 10 event terbaik di Indonesia. Ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa dan patut dibanggakan oleh masyarakat Ponorogo,” kata Dwi Marhen.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya menunjukkan kuatnya daya tarik budaya Ponorogo. Lebih dari itu, FNRP juga dinilai mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan sektor pariwisata yang saat ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia.
Dwi menjelaskan, sektor pariwisata saat ini menjadi penyumbang devisa terbesar ketiga nasional setelah komoditas kelapa sawit, minyak, dan batu bara. Karena itu, event budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan, memiliki peran penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.
Tidak hanya dari sisi pelestarian budaya, Grebeg Suro dan FNRP juga dinilai memberikan dampak ekonomi yang besar. Ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut merasakan manfaat dari meningkatnya aktivitas ekonomi selama penyelenggaraan event tahunan tersebut.
“Dari informasi yang kami terima, di antara berbagai event yang terselenggara di Jawa Timur, Reog Ponorogo memiliki multiplier effect ekonomi nomor dua, setelah Jember Fashion Carnaval karena melibatkan ribuan UMKM dan seluruh elemen masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menegaskan bahwa keberhasilan FNRP harus menjadi energi untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya leluhur. Menurutnya, Reog Ponorogo tidak cukup hanya dipertahankan keberadaannya, tetapi juga harus terus diwariskan kepada generasi muda.
“Warisan budaya leluhur tidak hanya lestari, tetapi juga harus tumbuh dan dicintai generasi penerus bangsa,” kata Lisdyarita.
Dia menilai rangkaian Grebeg Suro tahun ini berhasil menghadirkan manfaat yang luas bagi masyarakat. Selain menjadi ruang ekspresi budaya, kegiatan tersebut juga menjadi penggerak ekonomi daerah yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Lisdyarita turut memberikan apresiasi kepada para peserta yang berprestasi dalam Festival Reog Remaja (FRR) maupun Festival Nasional Reog Ponorogo. Bunda Rita berharap semangat para seniman dan pelaku budaya terus terjaga demi masa depan kesenian Reog Ponorogo.
“Selamat kepada para peserta yang berhasil meraih penghargaan. Bagi yang belum berhasil, jangan berkecil hati, karena partisipasi yang diberikan merupakan wujud nyata kecintaan terhadap kesenian Reog Ponorogo,” pungkasnya. [end/aje]






