Surabaya (beritajatim.com) – Fatchur Roji, mahasiswa UM Surabaya ini memiliki segudang prestasi. Ia merupakan atlet panjang tebing yang pernah memperoleh 87 emas sejak dia duduk di bangku SD pada 2007 silam.
Roji kini telah diwisuda. Diketahui, ia merupakan mahasiswa penerima beasiswa atlet UM Surabaya dan mengambil jurusan Manajemen. Ia bercerita bahwa dirinya mulai menekuni panjat tebing sejak berusia 11 tahun.
Sebenarnya, dia tidak ada cita-cita menjadi seorang atlet. Roji hanya menyukai panjat tebing dan ketinggian. “Ternyata itu memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan saya sekarang,” ungkap Roji, Sabtu (3/5/2023).
Prestasi Roji semakin melejit saat dirinya duduk di bangku SMP. Kala itu, ia tekun berlatih di lapangan panjat tebing milik KONI. Nah, untuk bisa berlatih di sana, Roji harus naik angkot karena saat itu memang belum ada ojek online. Itu ia lakukan selama enam tahun setelah pulang sekolah.
“Saya dari 8 bersaudara, pekerjaan orang tua wiraswasta, untuk mendapatkan segala sesuatu yang saya inginkan, saya tidak bisa mendaptkannya dengan mudah, jadi saya harus bekerja keras. Waktu itu memilih angkot karena harganya yang relatif murah dan bisa dijangkau oleh anak sekolah,” bebernya.
Berkat ketekunannya itu, Roji mampu mendapatkan prestasi hingga level internasional. Sebagai contoh, tahun 2019 ia berhasil masuk semifinal 8 besar speed world record putra di ajang IFSC Climbing World Cup Chongqing China. Kemudian juara 2 umum perorangan putra di Rock Domain Thailand.
Sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara, Roji merasa senang tidak bergantung finansial kepada keluarga dan saudaranya. Bahkan, dari kejuaraan yang dimenangkan ia berhasil membantu dan menyokong ekonomi keluarga.
BACA JUGA:
UM Surabaya Bakal Fasilitasi Mahasiswa Singapore Polytechnic
“Lewat panjat tebing inilah saya mendapatakan banyak keuntungan. Tidak hanya uang, lewat panjat tebing pula saya bisa mendapatkan kemudahan akses mendapatkan beasiswa pendidikan,” katanya.
Roji juga bersyukur dengan jalan yang dipilihnya, ternyata berdampak besar bagi dirinya dan orang sekitar. “Menurut saya ini adalah salah satu hasil dari jeri payah selama 6 tahun pindah dari satu angkot ke angkot yang lain. Sekarang sudah ketemu enaknya,” tandasnya. [ipl/kun]






