Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur mengumumkan laporan terbaru dari Asset and Liability Committee (ALCo) Regional Jatim yang mencakup data realisasi hingga 30 Juni 2023. Salah satu sorotan dalam laporan tersebut adalah terkait kondisi perkembangan ekonomi daerah.
Taukhid, Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jatim, menjelaskan tentang tingkat inflasi pada bulan Juni 2023. Berdasarkan data, tingkat inflasi bulan Juni 2023 mencapai 4,59% (year-on-year), 1,45% (year-to-date), dan 0,10% (month-to-month). Dalam rincian tersebut, dari 11 kelompok pengeluaran, dua kelompok mengalami deflasi, yaitu Transportasi (-0,51%) dan Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (-0,06%), sementara sembilan kelompok lainnya mengalami inflasi.
“Salah satu kelompok pengeluaran dengan inflasi tertinggi pada bulan Juni 2023 adalah Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 0,38% (month-to-month). Jika dilihat berdasarkan klasifikasi Komponen Bahan Makanan (BaMa) dan Energi, Komponen BaMa mengalami inflasi sebesar 0,34% (month-to-month), 3,40% (year-on-year), dan 3,20% (year-to-date), sementara Komponen Energi mengalami inflasi sebesar 12,80% (year-on-year), namun mengalami deflasi baik month-to-month sebesar 0,78% maupun year-to-date sebesar 1,28%,” papar Taukhid, Senin (31/7/2023).
Dari keseluruhan kondisi ekonomi Regional Jatim pada Triwulan II 2023 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Beberapa indikator yang mengalami pertumbuhan positif adalah IKK (Indeks Kesejahteraan Kota) pada Juni 2023 yang tumbuh sebesar 1,90% dibandingkan dengan Maret 2023, dan IPR (Indeks Pembangunan Regional) pada Juni 2023 juga tumbuh sebesar 2,71% dibandingkan Maret 2023.
“Inflasi yang menunjukkan tren penurunan pada Bulan Juni 2023 sebesar 4,59% (year-on-year) dibandingkan Maret 2023 yang mencapai 6,13%,” tambahnya.
BACA JUGA:
Selesaikan Masalah Keuangan, Wagub Emil Dukung Rekomitmen TLRHP
Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap US Dollar dan Indeks Manufaktur Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia tetap dalam fase ekspansif. Meskipun terjadi perlambatan pada perdagangan luar negeri dengan menyusutnya ekspor sebesar 10,39% (quarter-to-quarter) dan pertumbuhan impor hanya sebesar 1,63% (quarter-to-quarter).
Penerapan kebijakan fiskal di Jatim pada Triwulan II 2023 juga menunjukkan perkembangan yang sangat positif baik pada sisi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dengan pertumbuhan Belanja Negara sebesar 15,77% (quarter-to-quarter) maupun pada sisi APBD Konsolidasian (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Konsolidasian) dengan pertumbuhan Belanja Daerah sebesar 67,29%.
“Dengan demikian, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jatim pada Triwulan II 2023 mencapai 2,54% (quarter-to-quarter), 5,10% (year-on-year), dan 5,02% (cumulative-to-cumulative), mencatatkan peningkatan sebesar 50,0% dibandingkan bulan sebelumnya,” jelasnya.
BACA JUGA:
Inflasi Kota Malang Terendah, Ini Kata Pakar Keuangan
Dengan kondisi ekonomi yang menunjukkan tren positif ini, diharapkan ekonomi Jawa Timur akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat di wilayah tersebut. [ipl/but]






