Surabaya (beritajatim.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026 akan tetap tangguh dan terakselerasi di tengah tantangan ketidakpastian global. Optimisme ini didasarkan pada performa konsumsi rumah tangga yang kuat, terkendalinya inflasi, serta momentum pergeseran hari besar keagamaan nasional (HBKN).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Jawa Timur (KPw BI Jatim), Ibrahim memprakirakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur tahun 2026 akan tumbuh dalam kisaran 4,9% hingga 5,7% (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar 5,33%.
Meskipun ekonomi dunia diprediksi hanya tumbuh sekitar 3,3% pada tahun 2025, Jawa Timur sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di Indonesia menunjukkan tren pemulihan yang konsisten.
“Tantangan internasional memang semakin pasti dengan siklus gejolak yang lebih cepat, terutama terkait fragmentasi ekonomi global. Namun, potensi output kita masih tinggi. Kita sedang mengoptimalkan scarring effect pasca-pandemi agar kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih tinggi,” ungkap Ibrahim, dalam Media Briefing di kantor BI Jawa Timur, Senin (9/2/2026).
Beberapa indikator kunci yang memperkuat optimisme BI Jatim antara lain:
* Prompt Manufacturing Index (PMI): Indikator industri pengolahan berada di atas ambang batas 50%, menandakan fase ekspansi dan optimisme di kalangan pelaku usaha.
* Konsumsi Rumah Tangga: Sektor ini menyumbang sekitar 60% ekonomi Jatim. Dukungan bansos dari pemerintah, subsidi transportasi, serta terkendalinya harga energi menjadi bantalan daya beli masyarakat.
* Sistem Pembayaran: Transaksi non-tunai dan penggunaan QRIS yang terus meningkat menunjukkan aktivitas ritel yang semakin modern dan efisien.
Bank Indonesia memastikan inflasi Jawa Timur pada 2026 akan tetap terjaga pada rentang sasaran 2,5% ± 1%. Per Januari 2026, inflasi Jatim tercatat sebesar 3,29%, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,55%.
Menghadapi momentum Ramadan dan Idulfitri yang diprediksi jatuh sepenuhnya pada triwulan I-2026 (sekitar Maret), BI Jatim akan meluncurkan program SRAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Idul Fitri) pada 19 Februari mendatang.
“Melalui SRAMBI, kami memastikan ketersediaan pasokan uang rupiah dalam jumlah yang cukup, denominasi yang sesuai, dan kualitas yang baik untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat yang melonjak selama Ramadan dan Idulfitri,” jelasnya.
Ke depan, pembangunan ekonomi Jawa Timur akan difokuskan pada integrasi empat sektor utama: Industri, Pertanian, Pariwisata, dan Kelautan. Fokus pada hilirisasi dan konektivitas logistik ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi 38 kabupaten/kota di Jawa Timur.[rea]






