Sampang (beritajatim.com) – Hingga Mei 2023, petani garam di Kabupaten Sampang masih mempersiapkan perlengkapan dan belum mulai melakukan proses produksi. Hal itu dikarenakan faktor peralihan dari musim hujan ke kemarau membuat cuaca tidak menentu.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan dan Budidaya, Dinas Perikanan Sampang, M Mahfud mengatakan, produksi garam bisa dilakukan ketika memasuki musim kemarau.
Sedangkan petani garam tidak berani memaksakan produksi di tengah musim kemarau basah seperti saat ini. Karena hal itu berakibat produksi garam tidak akan maksimal bahkan bisa gagal. “Sebagian wilayah Madura khususnya di Sampang masih terjadi hujan, sehingga para petani belum sepenuhnya memulai produksi garam,” terangnya, Kamis (11/5/2023).
BACA JUGA:
Petani Garam di Sampang Butuh Pelabuhan Bongkar Muat
Pria yang akrab disapa Mahfud ini menjelaskan, produksi garam hanya bisa dilakukan oleh petani saat murni musim kemarau dan tidak terjadi hujan di pertengahan kemarau. Yang nantinya menghasilkan garam dengan kualitas tinggi.
“Namun musim kemarau basah saat ini justru berakibat pada menurunnya kualitas garam dan harga garam terancam anjlok,” imbuhnya.
Terpisah, Sukron pemilik lahan garam di Desa Disanah, Kecamatan Sreseh, Sampang, juga mengakui bahwa sampai saat ini masih terjadi hujan. Sehingga, ia belum bisa memulai produksi garam. “Kita masih menunggu musim kemarau benar-benar datang. Tanpa ada hujan, sebab kalau masih terjadi hujan akan berpengaruh pada kualitas garam,” tandasnya. [sar/suf]






