Mojokerto (beritajatim.com) – Unik, kreatif, telaten dan rasa ingin tahu yang tinggi, mungkin kata itulah yang cocok menggambarkan sosok Givrina Windasari. Perempuan 40 tahun ini menyulap kawat tembaga yang oleh sebagian orang dianggap tak ada kaitannya dengan seni justru menjadi barang seni menarik dan menghasilkan cuan.
Alumni Fakultas Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya itu bahkan rela berhenti bekerja untuk fokus menggeluti dunia kerajinan kawat tembaga. Ia mampu membuat kreasi aksesoris menarik dari bahan kawat tembaga mulai dari cincin, gelang, kalung, choker, anting, bros konektor, dan masih banyak lagi.
Di rumah sekaligus galery Pipiholic Art miliknya, di Jalan Merbabu Raya No 25 Perumahan Kedundung Indah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto inilah ia mengembangkan usaha. Tak hanya memproduksi asesoris dari bahan kawat tembaga dan berbagai bahan lain, ia juga membuka kelas pelatihan offline maupun online.
“Gegara pandemi sedikit kegiatan pameran atau bazzar jadi beralih buka kelas online untuk kerajinan kawat dan keterusan sampai sekarang. Kalau yang hari Kamis itu, buka belajar gratis di rumah mbak tapi karena kadang sok sibuk, jadi ya ndak ngiklan, jadi ya kelasnya skip, he he he,” kelakarnya, Selasa (28/2/2023).
Istri dari Kurdi (42) ini memulai usahanya sejak tahun 2010-an. Ia mengaku ada teman yang mengajarkannya kerajinan tangan dari bahan kain flanel. Namun ketertarikan akan kerajinan asesoris perlahan-lahan tumbuh saat ia diajak pergi ke toko bahan material jahit dan craft aksesoris.

“Sejak kecil saya menyukai kegiatan DIY (Do It Yourself) gitu jadi saya pun iseng ikut-ikutan mainan flanel. Nah pas pertama kalinya ikut temen ke toko penjual bahan material jahit dan craft aksesoris, saya pun tertarik sama kerajinan membuat aksesoris, tapi masih aksesoris dengan material yang sudah jadi tinggal merangkai saja,” katanya.
Tidak sampai satu bulan menggeluti usaha asesoris berbahan kain flanel, ibu dari Lituhayu (5) ini beralih ke aksesoris ronce bahan jadi. Asesoris dengan bahan ronce tersebut hanya bertahan sekitar 3-4 bulanan sambil belajar kerajinan dari kawat tembaga yang bertahan hingga kini.
“Awal main kawat saya pakai kawat monel tapi karena super keras saya lanjut ke tembaga, beli kawat tembaganya di galangan (toko listrik besar, red) yang saat itu harga tembaga masih Rp 10 ribuan 1 ons-nya. Kenapa kawat tembaga? Saya ada ganjalan hati karena material jadi ini berbahan logam besi atau alumunium,” ujarnya.

Dimana bahan besi tersebut cepat dan mudah sekali berkarat. Sehingga ia kemudian mulai berselancar di dunia maya mencari material yang lebih awet dan harganya tidak terlalu mahal. Sementara material jadi berbahan stainless dan lainnya, menurutnya harganya masih cukup tinggi.
“Nah dari situ pencarian saya kok nyasar ke aksesoris dari kawat. Kawat tembaga yang notabene adalah kawat listrik enamel atau kawat email dinamo yang banyak dipakai di perlistrikan ini harganya masih sangat terjangkau dan karena kepo maka saya pun banyak-banyak mencari tahu dari media online dan buku-buku yang ada di toko buku dan lainnya,” urainya.
Ia mempelajari semuanya dari internet, dimana pada tahun itu media YouTube belum banyak tutorial-tutorial free karena sebagian besar tutorial adalah milik orang luar negeri dan berbayar. Sehingga iapun kemudian memutuskan untuk mempelajarinya sendiri secara otodidak, hanya dari melihat foto hasil jadi dan trial eror sendiri cara membuatnya.
“Karena saya rasa kepo yang tinggi maka semangat saya tinggi untuk trial error belajar sendiri. Mindset saya justru karena tidak banyak yang tahu maka makin semangat karena nggak banyak saingan, he he he. Saya justru sebel kalau pake sesuatu yang udah kebanyakan orang pake,” lanjutnya.

Untuk berani menjual hasil kerajinan kawat tembaga, ia mengaku termasuk orang yang nekat. Karena tidak menunggu minggu atau bulan, setiap selesai membuat kerajinan asesoris kawat tembaga, ia langsung uploud di media sosial. Saat itu ia menjual cincin kawat dengan bahan tambahan kristal ceko dengan harga mulai Rp 10 ribuan.
“Habis bikin saya post di medsos, kalau ada yang pengen ya langsung saya buatin dan kebetulan saat itu pun saya lagi jadi pengangguran. Jadi saya sering kepoin beberapa tempat seperti Klinik UMKM di jalan menuju Bandara Juanda itu dulu. Ada gedung pamer UMKM Jatim, nah saya dulu sering main ke sana, dan kenalan sama teman UMKM Surabaya,” ceritanya.
Karena saat itu, sekitar tahun 2010-2013 ia bekerja di salah satu pabrik di kawasan industri Rungkut dan kos di Surabaya. Dari situ ia kemudian diajak untuk ikut pameran UMKM di mall-mall yang ada di ibukota Provinsi Jawa Timur tersebut. Namun setelah akhirnya yakin dengan usaha asesoris yang ditekuninya, ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja.
“Tahun 2010-2013 saya masih di Surabaya, sebelum kenal aksesoris ini saya bekerja di sebuah pabrik kuteks di Rungkut. Iya tahun 2001 saya kuliah di Fakultas Farmasi Universitas Widya Mandala Surabaya, hahaha. Mlenceng jauh ya tapi sejak punya jalan jualan akhirnya stop cari kerja, keterusan main kawat dan jualan,” ceritanya.
Ia pun melanjutkan ceritanya. Di tahun 2010 sampai Desember 2012, hampir setiap bulan ada pameran di mall-mall Surabaya. Karena seringnya ikut pameran dan bisa menjual aksesoris sehingga sekitar bulan Juli 2010 ia berhenti bekerja dan awal tahun 2013 ia kembali pulang kampung di Mojokerto.
“Awal 2013 balik Mojokerto. Sejak ibu saya pensiun (Kepala Puskesmas Pembantu, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, red) nggak ada kegiatan jadi sakit-sakitaan dan bete, akhirnya saya pindah Mojokerto memulai merintis dari nol. Awal turun Mojokerto ini saya buka toko bahan kerajinan craft, dan sejak itu pula saya selalu buka kelas free setiap hari Kamis,” tuturnya.
Ia mengaku sejak masih di Surabaya, jika ada event pameran ia juga sambil buka kelas membuat asesoris cincin dari kawat tembaga. Di Kota Mojokerto, saat itu belum ada mall sehingga minim event pameran sehingga ia harus memutar otak untuk mengenalkan asesoris dengan bahan kawat tembaga tersebut.
“Iya putar otak gimana caranya babat alas dan mengenalkan keunikan si kawat ini di tengah gempuran aksesoris pabrikan China yang murmer banget. Ditambah lagi aksesoris kawat, harga yang saya bandrol juga lumayan tinggi, jadi kudu pake trik jualan agar orang nih tahu nilai lebihnya. Uniknya karena semua material dibuat sendiri,” paparnya.
Dia bisa memastikan setiap produk yang dihasilkan tidak sama persis antara satu dengan yang lainnya. Ditambah cara pembuatan juga lebih rumit dan bisa lebih ditonjolkan seni dan kerajinannya. Untuk bahan sendiri, ia mengaku tidak kesulitan karena di Mojokerto juga ada.
“Alhamdulillah di Mojokerto ada setelah survei di beberapa tempat dan menanyai para tukang servis dinamo ha ha ha. Kenapa buka kelas? Sebenarnya ini tricky sih, karena main kawat ini nggak gampang ya, jadi yang belajar ini pun nggak 100 persen pada akhirnya bisa, ha ha ha,” kelakarnya lagi.

Karena kebanyakan menyerah dan tidak meneruskan karena kurang telaten, meski diakui juga ada yang akhirnya suka dan keterusan mengembangkan kerajinan asesoris kawat tembaga tersebut. Di tahun 2015, ia menikah dan ikut suami di Jakarta hingga tahun 2017 sehingga galery yang ada di Mojokerto tutup.
“Nah di Jakarta ini saya sedikit-sedikit mulai membuka kursusan offline, karena bahan bahan juga masih di Mojokerto, cuma sedikit yang saya bawa ke Jakarta. Saya buka kelas karena itu uang paling gampang dilakukan di kota orang he he he. Saya juga nebeng ke temen ikut pameran meski nggak sering. Ikut kelas inkubasi marketplace jadi mulai melek sosmed,” ujarnya.
Tahun 2018, ia balik Mojokerto karena melahirkan dan memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Namun lantaran saat di Jakarta ia mengembangkan usahanya dengan branding di Instagram sehingga saat ia kembali ke kampung halamannya justru semakin banyak yang menanyakan kelas belajar.
“Tahun 2013, saya sempat menjadi pengurus di MCC sekarang Kopwan Kriya Usaha. Bertemu teman-teman di grup FB, pada akhirnya membuat komunitas craft Mojokerto, didalamnya ada berbagai macam craft, dan alhamdulillah komunitas ini sampai sekarang eksis luar biasa di Mojokerto. Sekarang ada galeri di MPP dan Sunrise Mall,” imbuhnya.
Namanya pun sekalian di kenal di kalangan pelaku usaha di Mojokerto, juga dikenal di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur karena sering ikut seleksi kegiatan Jatim. Di tahun 2021, MCC yang di dalamnya semua kerajinan ada sehingga terlibat kelas inkubasi program Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari.
“Iya, salah satu pengajar wirenya (inkubasi Diskopukmperindag Kota Mojokerto, red). Di MCC yang pegang wire ada 3 nama, jadi 3 ini yang jadi tutor aksesoris wire. Enaknya bisnis kerajinan ini sebenernya karena bahannya nggak gampang basi dan karena bisnis fashion itu berkembang terus, biar bertahan ya kudu update terus,” akunya.
Menurutnya, kerajinan asesoris kawat tembaga tidak mengenal musim namun pandemi diakui terjadi penurunan penjualan aksesoris fashion. Sehingga ia juga mulai banyak berkreasi ke aksesoris masker dan mulai belajar menjadi konten kreator YouTube serta makin memperbanyak membuka kelas belajar yang berbayar.
“Karena yang laris adalah kelas belajar online, namun karena sejak akhir 2021 kemarin asisten produksi saya resign, dan sampai sekarang belum dapat asisten produksi baru lagi jadi saya nggak berani terima pesanan souvenir. Takut nggak kekejar ngerjain sendiri karena aksesoris kawat ini bikinnya kan effort banget ya, kadang rumit juga,” lanjutnya.
Sehingga untuk pesanan souvenir dibatasi jumlah dan tenggat waktunya pun panjang. Menurutnya untuk produk kawat tembaga yang sederhana bisa sampai 250 an, namun untuk yang rumit sampai 100-an saja. Untuk kelas online cukup banyak diminati dengan 100 sampai 200 pendaftar di setiap kelas.
“Biasanya pendaftar 100 an atau pernah sampai 200 an tapi yang lolos sampai akhir hanya 50-80 an saja. Paling jauh diikuti TKW di Hongkong, untuk penjualan kirim ke luar negeri belum pernah males pengirimannya. Kalau dibeli dan dibawa ke Perancis dan Eropa sudah pernah. Untuk kelas offline untuk Mojokerto, buka by request saja untuk materi berat-berat, yang gratis biasanya bikin aksesoris simpel-simpel,” lugasnya.
Materi yang berat seperti menikat batu tanpa lubang atau desain khusus. Ia juga membuka kelas free khusus basic secara online dan juga ada program yang diadakan hanya setahun sekali setiap awal tahun. Ia memberinya nama program sedekah ilmu yang sudah berlangsung sejak tahun 2018 sehingga saat ini sudah angkatan ke-6.
“Untuk mendapatkan ilmu dari kelas tersebut di luar jadwal berbayar Rp 500 ribu. Karena kelas yang tahunan itu ada syarat keseriusan dan akan dieliminasi jika tidak mengerjakan tugas. Ya hasil garapannya sudah sesuai yang ditugaskan atau belum, jika tidak mengerjakan 2 kali tugas berturut-turut akan kena eliminasi. Belajarnya 2 bulanan,” teranganya.
Bagi peserta yang lolos akan dapat bonus tutorial dan masuk ke dalam grup support khusus alumni kelas Pipiholic. Sejak angkatan ke 4, ia mengaku sudah punya asisten untuk kelas tersebut, asistennya online juga. Satu di Bogor dan satu di Jakarta. Kelas online di FB grup karena materi cukup banyak dan agar memudahkan mengevaluasi hasilnya.
“Iya asisten produksi dan kelas, berbeda karena asisten mengajar online harus online juga, sementara untuk produksi harus bisa standby setiap hari ke rumah. Untuk IG kelas belajar di @pipiholicart.id, IG katalog @pipiholicart.jewelry. Setahun terakhir lagi seneng jualan di Tik-tok. Untuk asesoris kawat tembaga, ada yang perpaduan manik kaca, batu-batuan dan kristal,” urainya.
Ia mematok harga hasil kerajinannya mulai Rp 7 ribu sampai Rp 750 ribu tergantung material, lama pembuatan, desain, kerumitan, effort pembuatan. Ia mengaku banyak jualan di online, hampir 80 persen penjualan dilakukan secara online jika tidak sedang ikut pameran dan 50-50 jika lagi banyak pameran atau bazaar. Namun sejak pandemi Covid-19, penjualan tidak sebanyak saat sebelum pandemi.
“Sebenarnya sudah mulai ada lagi tapi saya masih pilih-pilih event karena faktor cuaca dan anak. Karena saya ada balita dan suami kerja di Surabaya, pulang seminggu sekali, dua kali jadi jualannya mengikuti jadwal momong sih. Yang masih konsisten hanya di kelas belajar aja,” pungkasnya. [tin/but]







