Singapura (beritajatim.com) – Dua tim muda Indonesia, HydroPlus Strikers (U-14) dan MilkLife Shakers (U-12), berhasil mencatatkan prestasi membanggakan sebagai runner-up dalam debut internasional mereka di turnamen JSSL Singapore 7’s 2025. Berlaga di ajang sepak bola usia dini terbesar se-Asia, keduanya menembus partai final yang digelar di The Arena, Singapura. Meski kalah dari tim tuan rumah, penampilan impresif para pemain menuai pujian dari berbagai pihak.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, menyebut capaian ini sangat positif untuk evaluasi dan pengembangan ke depan. “Tujuan utama kami memang untuk mengukur kemampuan dan mental bertanding anak-anak. Capaian ini menjadi bekal berharga untuk langkah lebih besar,” ujarnya.
Head Coach Timo Scheunemann menambahkan, meski ada kekurangan karena pengalaman internasional pertama, performa dan semangat juang para pemain patut diapresiasi. “Mereka menunjukkan mental sebagai atlet sejati. Saya optimistis ke depan mereka bisa tampil lebih matang,” katanya.
Dalam fase grup, HydroPlus Strikers meraih 21 poin dari sembilan laga tanpa kekalahan, mencetak 18 gol dan hanya kebobolan dua. Sementara MilkLife Shakers tampil sempurna di grup U-12, menyapu bersih tujuh kemenangan, mencetak 28 gol tanpa kebobolan.

Langkah HydroPlus Strikers terhenti di final usai kalah 0-2 dari Lion City Sailors, meski sempat menang dramatis 1-0 atas NDC A di semifinal lewat gol Kesya A.M. Nian. Bek Kazumi Z.A. Nurlan mengaku faktor ukuran lapangan jadi tantangan tersendiri, namun ia tetap bangga atas pencapaian tim.
MilkLife Shakers juga tampil dominan di fase gugur dengan kemenangan 3-0 atas Lion City Sailors dan Singapore FC. Sayangnya, gol tunggal dari NDC A di final memupus harapan mereka juara. “Kami tidak takut lawan yang posturnya lebih besar. Justru ini jadi motivasi,” kata Locita Waranggani Olah Nismara, kiper andalan tim.
Usai turnamen, para pemain berkesempatan berwisata ke ikon-ikon Singapura seperti Marina Bay Sands, Merlion Park, dan Universal Studios. Capaian dua tim ini tak lepas dari peran tim pelatih dan manajemen, termasuk Timo Scheunemann, Asep Sunarya, Maya Susmita, Yayat Hidayat, dan Edi Supriyanto. [can/beq]






