Jember (beritajatim.com) – Nama Wisata Kampung Belgia di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mulai dikenal publik. Maka nama itu perlu dipertahankan sebagai bagian dari penjenemaan pariwisata daerah unggulan Jember.
Keinginan agar nama Wisata Kampung Belgia dipertahankan meluncur dari Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto, dalam rapat dengar pendapat dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, di gedung parlemen, Sabtu (22/11/2025) sore.
Saat ini salah satu andalan sektor pariwisata di Jember adalah pariwisata perkebunan atau eco plantation tourism. “Tolong kawasan wisata di Kebun Sumberwadung saya pikir lebih baik namanya tetap Kampung Belgia, karena lebih menarik,” kata Candra.
Wisata Kampung Belgia terletak di Kebun Sumberwadung, Desa Harjomulyo Kecamatan Silo, yang berada di dalam kawasan Perusahaan Daerah Perkebunan Kahyangan milik Pemerintah Kabupaten Jember.
Situs resmi PDP Kahyangan menyebut ‘Wisata Kampung Belgia adalah harta karun agrikultur peninggalan warga Belgia yang bekerja di perkebunan pada masa kolonial Belanda. Lokasinya, berada di tengah hutan karet Sumberwadung. Selain tanaman perkebunan, terdapat rumah-rumah, pabrik, dan infrastruktur yang sudah berusia lebih dari satu abad’.
Wisata Kampung Belgia diresmikan Bupati Hendy Siswanto, 15 September 2024. Titik berat destinasi ini adalah kawasan nostalgia. “Di sana bangunan-bangunannya masih asli tanpa ada perubahan, masih terjaga dan lestari sampai saat ini, kecuali atap sudah ada perubahan,” kata Eko Wahyu Setyabudi, Ketua Kelompok Sadar Wisata Kampung Belgia, 16 Oktober 2025.
Setelah diresmikan Bupati Hendy, menurut Wahyu, wisatawan mulai berdatangan. Sebagian dengan menumpang bus Jelita (Jelajah Keliling Kota) milik Dinas Perhubungan Jember. Angkutan Wisata Jember yang dikelola mandiri oleh sejumlah pengemudi angkutan kota juga mulai menjadikan Kampung Belgia sebagai destinasi andalan
“Sempat ada wisatawan asing, dari Belgia pada 2024. Dia mendengar di Kabupaten Jember masih ada bangunan peninggalan zaman Belgia dan dia tertarik. Akhirnya dia datang ke sana memastikan kebenaran tersebut,” kata Wahyu.
Menurut Wahyu, warga Belgia itu mengapresiasi kelestarian bangunan kuno di sana. “Beliau berencana akan kembali lagi bersama keluarga nantinya,” katanya.
Selain menghadirkan narasi sejarah Kampung Belgia, menurut Wahyu, pokdarwis juga memberdayakan pelaku usaha mikro kecil menengah lokal. Warga lokal dilibatkan untuk menyiapkan rumah-rumah mereka sebagai tempat tinggal dan beristirahat buat wisatawan yang datang.
Wahyu berharap Wisata Kampung Belgia bisa dikembangkan menjadi ikon pariwisata sejarah oleh Bupati Muhammad Fawait. Namun belakangan, dia mendapat informasi bahwa nama Wisata Kampung Belgia diubah menjadi Wisata Edukasi Kebun Sumberwadung.
Wahyu menampik perubahan nama ini. Dia berharap nama Wisata Kampung Belgia dipertahankan. “Nama ini adalah nama yang sangat unik, yang bisa menjadikan seseorang penasaran seperti apa sih Kampung Belgia. Berbeda dengan nama Wisata Edukasi Kebun Sumberwadung,” katanya.
Nyoman Aribowo, anggota Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah (TP3D) Kabupaten Jember yang menangani sektor wisata, mengatakan, wisata kebun di kawasan PDP Kahyangan mulai dikembangkan untuk kepentingan edukasi pelajar.
“Itu belum prioritas, tapi menjadi semacam opsi bagi anak-anak untuk berwisata tanpa perlu keluar Jember,” kata Nyoman kepada Beritajatim.com, 29 Oktober 2025.
Menurut Nyoman, konsep edukasi Kebun Gunung Pasang ini sudah dinikmati wisatawan dari Spanyol. “Ada sembilan trip wisata wisatawan Spanyol,” katanya.
Sementara untuk Wisata Kampung Belgia, menurut Nyoman, belum digarap kembali. Namun rencananya akan digarap juga dengan konsep wisata edukasi sebagaimana Kebun Gunungpasang. “Sama konsep tapi beda unggulannya. Kalau Gunungpasang adalah tanaman kopi, sementara Sumberadung dominan karet,” katanya.
Perubahan konsep ini berimplikasi pada perubahan nama dari Wisata Kampung Belgia menjadi Wisata Edukasi Kebun Sumberwadung. “Konsep wisata edukasi berbeda dengan konsep wisata non edukasi,” kata Nyoman.
“Kalau wisata edukasi, yang datang adalah kelompok masyarakat atau kelompok anak sekolah, satu atau dua kelas. “Begitu datang. mereka langsung dihandle tour leader-nya. Nanti dibimbing dan diarahkan untuk memperoleh informasi seputar komoditas kebun. Dipandu sampai selesai secara bersamaan,” kata Nyoman.
Pokdarwis yang sudah terbentuk, menurut Nyoman, akan berposisi sebagai tour leader. “Dengan konsep wisata edukasi, objek yang potensinya terbatas tetap bisa terjual,” katanya.
Wahyu berharap Wisata Kampung Belgia bisa menjadi bagian dari destinasi tur wisata yang diselenggarakan Pemkab Jember tanpa mengubah nama. “Saat ini Wisata Kampung Belgia stagnan, tidak ada aktivitas. Padahal banyak yang menghubungi saya via WA untuk menanyakan. Cuma saya tidak berani menawarkan langsung, karena khawatir saat mereka datang kami belum siap,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember Bobby Arie Sandi mengakui nama Wisata Kampung Belgia lebih menjual. “Kemarin kami didatangi produser film horor yang mengajukan beberapa nama lokasi untuk syuting film horor. Salah satunya di Kampung Belgia” katanya. [wir]






