Surabaya (beritajatim.com) – Tim dosen dari Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) dan Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya menghadirkan inovasi teknologi berupa mesin robot motif batik untuk membantu Industri Rumah Tangga (IRT) Batik Namiroh di Sidoarjo.
Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, sekaligus mengatasi berbagai kendala yang dihadapi para perajin.
Kegiatan PKM yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek 2025 ini berlangsung dari 9 Juni hingga 17 September 2025 di Kelurahan Lemahputro, Sidoarjo.
Tim pelaksana diketuai oleh Dr. Yoosita Aulia (Unitomo) dengan anggota Dr. Dian Ferriswara (Unitomo) dan Maula Nafi (Untag), serta melibatkan tiga mahasiswa Unitomo. Antara lain Emylia Mukmillah, Adista Ratih Cahyani Ramadhan, dan Rizqi Lailatul Hasanah.
Menurut Yoosita Aulia, IRT Batik Namiroh menghadapi sejumlah permasalahan, seperti keterbatasan motif yang didominasi batik tradisional Madura, kondisi ruang produksi yang kurang tertata, serta keterbatasan kapasitas produksi.
“Dari hasil survei, ruang produksi terlihat kumuh, peletakan alat masih berantakan, dan layout ruang belum tertata dengan baik,” jelasnya, Selasa (16/9/2025).
Masalah lainnya, seperti yang disampaikan Dian Ferriswara, adalah lemahnya branding produk dan pengemasan yang seadanya, sehingga menurunkan nilai jual. Jumlah perajin yang aktif pun hanya 9 dari total 25 orang, menyebabkan kapasitas produksi rendah dan proses pengerjaan masih mengandalkan cara manual.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim PKM menciptakan sebuah mesin robot portabel berukuran 60 x 100 cm yang mampu menggambar pola batik secara cepat.
“Jika secara manual dibutuhkan hingga tiga minggu untuk menyelesaikan satu pola, mesin ini dapat menyelesaikannya hanya dalam tiga jam,” ungkap Yoosita.
Maula Nafi menambahkan, penggunaan mesin ini dapat menghemat waktu produksi hingga satu bulan. “Produksi yang sebelumnya empat bulan bisa selesai dalam tiga bulan. Meskipun berbasis teknologi, proses manual tetap dipertahankan untuk menjaga nilai historis batik,” tuturnya.
Inovasi ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga diklaim mampu meningkatkan produksi hingga 40 persen, menghemat penggunaan malam (lilin batik), dan menjaga kualitas produk tetap konsisten.
Sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, tim PKM menghibahkan satu unit mesin robot batik kepada IRT Batik Namiroh. Hibah ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para perajin untuk berkreasi dengan motif yang lebih beragam, termasuk membuat logo instansi yang sebelumnya sulit dikerjakan secara manual.
Yoosita Aulia menyampaikan apresiasi kepada DPPM Kemdiktisaintek atas dukungan pendanaan program ini. “Kami berharap alat ini bisa mendorong para perajin muda di Kelurahan Lemahputro agar terus melestarikan seni batik dengan dukungan inovasi teknologi yang ramah lingkungan,” tutupnya. [ipl/beq]






