Surabaya (beritajatim.com) – Konsep kerja jarak jauh alias remote working makin populer di Indonesia, tren yang awalnya melejit saat pandemi dan terus berlanjut hingga kini. Tapi, bagaimana sih pandangan dari sisi psikologi?
Dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), Dr. Artiawati, Psikolog., membeberkan penjelasannya.
Menurut Ketua Program Doktor Psikologi Ubaya ini, remote working, yang dalam konteks psikologi industri disebut flexible working hours, punya beberapa kelebihan. Yang paling utama adalah otonomi dalam mengatur jam kerja sendiri.
“Remote working itu baik sepanjang orangnya bisa mengelola diri dan pekerjaan dengan baik. Seseorang akan termotivasi untuk bekerja apabila ia memiliki otonomi untuk mengatur ritme kerja. Pekerjaan remote memungkinkan hal itu,” katanya, Sabtu (4/10/2025).
Meski menawarkan kebebasan, pekerja remote juga menghadapi tantangan serius. Dua masalah utamanya adalah situasi rumah yang kurang ideal dan perasaan kesepian karena jarang bertemu teman kerja.
Untuk mengatasi situasi rumah yang ‘gaduh’, Artiawati menyarankan pekerja untuk punya ruang kerja khusus dan melakukan komunikasi aktif dengan anggota keluarga di rumah.
“Misalnya, kita bilang ke orang di rumah kalau jam 7-9 pagi jangan diganggu dulu karena mau fokus bekerja. Bisa juga diberi pemberitahuan apabila sedang rapat online dan perlu waktu sendiri. Semua itu dikomunikasikan,” jelasnya.
Selain itu, agar pekerja tidak merasa terisolasi, perusahaan disarankan sesekali mengadakan pertemuan tatap muka, semacam “kopi darat”. Selain membangun kedekatan emosional, pertemuan langsung juga bisa meminimalkan kesalahpahaman yang sering terjadi dalam komunikasi online.
Artiawati mengakui remote working memang efektif dan efisien dari segi anggaran dan fasilitas bagi perusahaan. Namun, ia menekankan bahwa perusahaan tetap perlu melakukan monitoring pekerjaan yang wajar dan sesuai kesepakatan.
Memberikan fasilitas yang mendukung psikologis pekerja juga perlu dipertimbangkan agar karyawan bisa bekerja maksimal.
“Perusahaan harus bisa memetakan karyawan yang dirasa kompeten dan memiliki pengelolaan ritme kerja yang baik dalam menjalankan remote working,” pungkasnya.
Ini menandakan bahwa sukses atau tidaknya remote working sangat bergantung pada kemandirian dan kompetensi individu yang dipilih perusahaan.
Bagaimana, setuju dengan tips dari psikolog ini? [ipl/ted]






