Surabaya (beritajatim.com) – Belakangan ini Kementerian Kesehatan RI menemukan adanya peningkatan resistensi antibiotik pada bakteri jenis Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae dapat menyebabkan kematian.
Menanggapi hal itu, Dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) Dr Fauna Herawati mengajak agar masyarakat dan tenaga kesehatan untuk menggunakan antibiotik dengan rasional.
Fauna menjelaskan, antibiotik bekerja dengan cara menghambat perkembangan bakteri. Namun, jika digunakan sembarangan, bakteri bisa bermutasi dan menjadi kebal terhadap antibiotik.
“Ketika kita mengkonsumsi antibiotik tertentu, bakteri bisa bermutasi sehingga strukturnya tidak cocok lagi. Itulah sebabnya saat kita sakit oleh bakteri yang kuat, antibiotik yang sudah dikonsumsi tidak bisa diberikan lagi,” kata Fauna, Selasa (26/11/2024).
Oleh karena itu, menurut Fauna, antibiotik hanya perlu diberikan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus. Penyakit virus biasanya akan sembuh dengan sendirinya dalam 3-5 hari tanpa antibiotik.
Fauna menekankan pentingnya kolaborasi antara tenaga medis dan kesadaran masyarakat dalam mengontrol resistensi antibiotik. Riwayat penggunaan antibiotik dan diagnosis yang tepat sangat membantu dalam memilih antibiotik yang efektif.
Penelitiannya pada tahun 2020 menunjukkan bahwa meskipun masyarakat tahu tentang bahaya bakteri kebal antibiotik, banyak yang tetap mengkonsumsinya tanpa resep karena merasa antibiotik bisa mempercepat kesembuhan, meskipun sebenarnya tubuh mereka sudah sembuh dengan sendirinya.
Jika penggunaan antibiotik tidak diawasi, kata dia, resistensi dapat membuat pengobatan infeksi bakteri menjadi lebih sulit. “Jika terus terjadi, kita khawatir pilihan antibiotik akan semakin terbatas,” kata Fauna. [ipl/suf]






