Jember (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjadi satu dari sekian nama yang menjadi nominator calon wakil presiden mendampingi Anies Rasyid Baswedan dalam pemilihan umum tahun depan. Bagaimana respons Khofifah?
Saat ditanya wartawan usai acara pembukaan LKS (Lomba Kompetensi Siswa) SMK ke-XXXI Tingkat Provinsi Jawa Timur 2023, di Gedung Olahraga Politeknik Jember, Kabupaten Jember, Selasa (23/5/2023), Khofifah enggan menanggapi.
“Oalah, rek, rek. Wis, wis, wis,” kata perempuan berjilbab itu sembari tesenyum.
Informasi soal masuknya nama Khofifah ini diungkapkan Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Sohibul Iman, sebagaimana dilansir cnnindonesia.com, Selasa (23/5/2023). “Ya mungkin ada Mas AHY, ada Kang Aher. Kemudian dari Nasdem kan menyodorkan Ibu Khofifah. Iya (sudah diusulkan ke Anies) kan tadi yang ada di meja koalisi,” katanya.
Muhammad Iqbal, pengamat komunikasi politik Universitas Jember, memahami faktor partai ‘kepincut’ dengan Khofifah. “Nama Khofifah sesuai artinya dalam bahasa Arab yaitu ‘gesit, lincah, dan dicintai’, telah membuat banyak partai politik maupun para bakal calon presiden terpikat,” katanya.
“Kegesitan dan kelincahan Gubernur Jawa Timur yang juga pemimpin NU dalam organ Muslimat ini tampak dalam kapasitas dan prestasinya, yang membuat Provinsi Jawa Timur menjadi provinsi tersukses kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta,” tambah Iqbal.
Kegesitan dan kelincahan Khofifah juha terlihat saat menjadi Menteri Sosial. “Keluwesannya merawat modal sosial kultural perempuan NU benar-benar nyata. Dia adalah sosok yang pantas dan sarat kapasitas. Maka tak heran jika nama Khofifah menjadi incaran nominasi poros kubu capres Prabowo dan Anies Baswedan,” kata Iqbal.
Menurut Iqbal, jawaban singkat Khofifah saat ditanya wartawan sarat makna mendalam dan akurat. “Artinya, akurat dan tepat untuk menjawab diplomatis karena mempertimbangkan situasi politik kekuasaan,” katanya.
Dengan jawaban itu, Iqbal menilai, Khofifah berharap media dan publik tidak perlu keburu membawa-bawa namanya dalam pusaran kontestasi pilpres. “Boleh jadi dia mengharapkan awak media menyudahi pertanyaan politik praktis macam itu. Lalu memberi ruang lebih leluasa bagi dirinya untuk kembali fokus bekerja saja sebagai Gubernur Jawa Timur. Bukan terseret dalam pusaran pencapresan yang kian saling adu tempur,” katanya.
Senentara itu, Moch. Eksan, penulis buku Kerikil di Balik Sepatu Anies, mengatakan, banyak yang berharap Anies bisa berpasangan dengan Khofifah. “Namun semua kembali kepada keduanya. Bila dua tokoh ini bisa berpasangan, maka ini sangat seksi. Peluang untuk pemenangan sangat besar,” katanya.
Dalam pandangan Eksan, Anies dan Khofifah punya gagasan, rekam jejak dan karya yang bagus. “Keduanya bukan sekadar punya kemampuan tehnokratis, tapi aktivis yang tumbuh dan berkembang dalam dunia pergerakan sejak belia sampai sekarang,” jelas dosen Universitas PGRI Argopuro Jember ini.
Dari aspek elektoral, Anies-Khofifah merupakan kombinasi dua lumbung suara terbesar di Pulau Jawa. “Anies lahir di Kuningan Jawa Barat. Khofifah lahir di Surabaya. Di Jabar terdapat 35,9 juta atau 17,4 persen pemilih. Di Jatim terdapat 32,5 juta atau 15,3 persen pemilih. Di pulau Jawa ini terdapat 113 juta atau 54,7 persen pemilih dari 205,8 juta pemilih dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS),” kata Eksan.
“Dengan demikian, pasangan ini, diyakini akan merajai Pulau Jawa. Anies adalah capres yang paling diterima di luar Jawa sehingga berpeluang untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya di luar Jawa,” lanjut Eksan.
Selain dari aspek latar belakang sosial politik, pasangan Anies-Khofifah akan merepresentasikan perjuangan untuk mengarusutamakan gender dalam kebijakan dan alokasi anggaran. “Data demografis menyebutkan bahwa penduduk perempuan lebih banyak dari penduduk laki-laki. Dari 273 juta penduduk Indonesia, perempuan sebanyak 138 juta atau 50,5 persen. Sementara laki-laki sebanyak 135 juta atau 49,5 persen,” kata Eksan. [wir]






