Surabaya (beritajatim.com) – Penelitian terbaru mengenai ancaman sampah plastik semakin menunjukkan potensi mengkhawatirkan yang dapat merusak kesehatan manusia secara serius.
Partikel ini diketahui mampu merasuk ke dalam sel darah hingga berpotensi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti jantung koroner, stroke, aritmia, dan gagal jantung.
Merespons ancaman tersebut, peneliti Ecological Observation and Wetland Conservation (ECOTON) bersama Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya membedah 14 hasil studi terbaru mengenai dampak bahan kimia plastik.
Kajian mendalam ini mencakup biomonitoring pada pekerja pengelola sampah perempuan yang berisiko tinggi serta studi eksperimental pada hewan untuk memahami mekanisme kerusakan di dalam tubuh.
Hasilnya mengonfirmasi adanya keterkaitan erat antara paparan bahan kimia aditif seperti bisfenol, ftalat, hingga PFAS dengan berbagai indikator gangguan kesehatan kronis.
Selain zat kimia, paparan mikroplastik jenis polietilena yang umum ditemukan pada kemasan harian terbukti dapat memicu peradangan jaringan mata dan mengganggu hormon stres.
Studi tersebut juga menyoroti penurunan fungsi kognitif, perubahan jaringan tulang, hingga gangguan pada sistem reproduksi akibat akumulasi partikel plastik.
Para peneliti menjelaskan bahwa zat berbahaya ini menyusup ke tubuh melalui dua mekanisme utama: pelepasan zat sintetis ke lingkungan dan masuknya partikel fisik mikroplastik ke sistem biologis.
Peneliti ECOTON, Rafika, menjelaskan bahwa senyawa ftalat yang berfungsi sebagai pelentur plastik sangat mudah terlepas karena tidak terikat kuat secara kimiawi.
Pelepasan racun ini akan semakin masif saat plastik terpapar panas, sinar matahari, atau mengalami degradasi menjadi partikel yang lebih kecil.
“Plastik yang terpapar panas, sinar matahari, atau mengalami degradasi menjadi mikroplastik akan lebih mudah melepaskan bahan kimia tersebut,” ujar Rafika dalam kegiatan Seminar “Expose Temuan Bahan Kimia Racun Plastik dalam Darah” di Kampus Katolik Widya Mandala Surabaya, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan bahaya ketika mikroplastik masuk melalui makanan atau minuman. Menurutnya, partikel tersebut akan melepaskan kembali beban kimianya tepat di dalam saluran pencernaan manusia.
Kehadiran mikroorganisme di dalam usus bahkan dapat mempercepat proses pelepasan racun yang mengganggu keseimbangan mikrobiota serta sistem metabolisme tubuh.
“Mikroorganisme yang hidup di dalam usus bahkan dapat mempercepat proses pelepasan tersebut. Paparan bahan kimia ini berpotensi mengganggu keseimbangan mikrobiota usus yang berperan penting dalam sistem pencernaan, metabolisme, dan daya tahan tubuh,” tambahnya.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Yudhiakuari Sincihu turut menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap jalur paparan ini yang sering kali tidak terlihat dalam aktivitas sehari-hari.
Di tingkat sel, interaksi mikroplastik dapat memicu stres oksidatif yang menghasilkan radikal bebas perusak DNA, protein, dan membran sel.
“Paparan jangka panjang terhadap bahan kimia tersebut dapat mengganggu mekanisme perbaikan DNA, memicu perubahan ekspresi gen, serta meningkatkan proliferasi sel yang tidak terkontrol. Selain itu, peradangan kronis yang berlangsung lama juga dapat menciptakan lingkungan biologis yang mendukung perkembangan sel kanker,” jelasnya.
Menghadapi risiko ini, Dr. Yudhiakuari menyarankan pendekatan menyeluruh yang mengintegrasikan pengurangan plastik sekali pakai dengan penguatan riset toksikologi.
Langkah strategis juga harus mencakup penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) dan penetapan baku mutu mikroplastik yang lebih ketat oleh pemerintah.
Senda dengan Dr. Yudhiakuari, Prigi Arisandi dari ECOTON menambahkan bahwa hasil temuan ilmiah ini harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang sederhana agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Ia menekankan, Edukasi yang membumi diharapkan mampu mengubah perilaku kolektif, sehingga isu plastik tidak lagi dipandang hanya sebagai masalah lingkungan, tetapi masalah nyawa.
“Dengan cara ini masyarakat dapat memahami bahwa masalah plastik bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan, sehingga mendorong perubahan perilaku untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.
Mewakili generasi muda, Sofi Peneliti ECOTON menyuarakan harapan akan terwujudnya masa depan bebas racun di mana makanan, air, dan udara benar-benar aman dari kontaminasi kimia.
”Generasi muda berharap adanya toxic-free future, masa depan yang lebih bebas dari bahan kimia berbahaya. Kami ingin hidup di lingkungan dengan makanan, air, dan udara yang lebih aman dari kontaminasi bahan kimia plastik,” ungkapnya.
Selain seminar ilmiah, kegiatan ini juga menghadirkan pameran hasil penelitian yang menampilkan berbagai informasi mengenai dampak plastik terhadap kesehatan manusia serta pentingnya upaya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Sebagai penutup Laksamana Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto SpPD, MMRS selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menjelaskan “Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog ilmiah lintas sektor yang melibatkan peneliti, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, dan media untuk mendorong lahirnya kebijakan perlindungan kesehatan masyarakat dari paparan bahan kimia berbahaya dalam plastik”. (rma/ian)






