Bondowoso (beritajatim.com) – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso menyoroti fenomena perilaku menyimpang di kalangan remaja.
Berdasarkan data terbaru dari Pokja TB dan HIV AIDS Bondowoso, dari total 1.500 pengidap HIV/AIDS, 729 di antaranya berasal dari kelompok lelaki sesama lelaki (LSL).
Kepala Dinsos P3AKB Kabupaten Bondowoso, Anisatul Hamidah, mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena sosial yang berkembang di kalangan remaja.
“Fenomena ini sebenarnya sudah kita baca bersama. Kita waktu itu sudah berkumpul, dari Dinsos, Dispendik, Dinkes, serta tim pendampingan. Saat data disampaikan, semuanya kaget karena ternyata sudah sejauh itu,” ujar Anisatul kepada BeritaJatim.com, Senin (3/3/2025).
Sebagai tindak lanjut, Dinsos P3AKB bersama tim melakukan rapat koordinasi dengan forum anak, duta genre, serta Pusat Informasi dan Konseling Remaja (Pik R). Dari diskusi tersebut, terungkap bahwa keresahan serupa juga dirasakan oleh remaja sendiri.
Untuk menangani hal ini, Dinsos P3AKB terus menggencarkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) dan Sekolah Madrasah Kependudukan. Program ini tidak hanya berfokus pada pendewasaan usia perkawinan, tetapi juga dikolaborasikan dengan program Sekolah Sehat.
Dalam skema pendampingan, duta kependudukan di setiap kelas bertugas mengidentifikasi rekan-rekan yang menunjukkan perilaku menyimpang dan memberikan edukasi.
“Kami tidak boleh diam. Beberapa anak yang mengalami permasalahan bahkan sudah kami fasilitasi untuk bertemu dengan psikolog,” kata Anisatul.
Untuk menjaga kerahasiaan, konsultasi dilakukan secara daring melalui chat WhatsApp atau telepon. “Jika mereka sudah siap secara mental, barulah dilakukan pertemuan langsung,” jelasnya.
Anisatul juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis teman sebaya. Menurutnya, remaja lebih nyaman berbagi cerita kepada teman sebaya dibandingkan dengan guru Bimbingan Konseling (BK). Oleh karena itu, ia berharap lembaga pendidikan dapat mengembangkan sistem pendampingan berbasis komunitas di dalam kelas.
“Kalau hanya melapor ke guru BK, seringkali anak yang bermasalah justru merasa dikucilkan atau bahkan di-bully. Maka dari itu, pendekatan melalui teman sebaya sangat penting,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti tren perilaku remaja berdasarkan survei informal selama sesi capacity building. Dari kebiasaan merokok hingga gaya pacaran, banyak siswa yang memiliki pandangan lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya.
“Saya pernah bertanya kepada mereka, jika ada 100 siswa laki-laki, berapa yang merokok? Jawabannya cukup mengejutkan. Begitu juga dengan gaya pacaran remaja saat ini. Bahkan ketika saya menanyakan apakah ada teman yang memiliki ketertarikan dengan sesama jenis, beberapa dari mereka mengakuinya, namun takut untuk menegur atau menasihati,” ungkapnya.
Sebelumnya, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bondowoso kian mengkhawatirkan, terutama karena telah menyebar ke kalangan pelajar. Menyikapi hal ini, Komisi IV DPRD Bondowoso berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan berbagai pihak terkait guna mencari solusi.
Sekretaris Komisi IV DPRD Bondowoso, Abdul Majid, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu surat resmi dari Pokja TB HIV Bondowoso sebelum melaksanakan RDP.
“Kami menunggu surat resmi dari Pokja TB HIV Bondowoso untuk selanjutnya menggelar RDP bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan lainnya,” ujar Majid kepada BeritaJatim.com, Minggu (2/3/2025).
Majid menambahkan bahwa pihaknya ingin mendalami data penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Bondowoso yang telah mencapai ribuan kasus.
“Kami ingin dalam RDP itu bisa menelusuri lebih dalam data HIV, sejauh mana penyebarannya, serta bagaimana pencegahan dan penanganannya ke depan,” katanya.
Ketua Pokja TB dan HIV Bondowoso, Funky Indraayu Shanti, sebelumnya mengungkapkan bahwa virus HIV telah menjangkit pelajar. Sejak November 2023, pihaknya mulai melakukan edukasi ke sekolah-sekolah tingkat SMA untuk menekan angka penyebaran.
“Sudah ada anak sekolah yang terdeteksi positif HIV. Karena itu, kami mulai melakukan edukasi ke sekolah-sekolah,” ujar Funky.
Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu kasus terbaru berasal dari kelompok LSL. Temuan ini bermula saat Pokja melakukan pendekatan dan screening terhadap seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun pada Mei 2023. Hasilnya, pemuda tersebut dinyatakan positif HIV.
“Tahun 2024 saja, ada penambahan kasus sekitar 84 hingga 92 orang, dan hampir 50 persen di antaranya berasal dari kelompok LSL,” jelasnya.
Funky menegaskan bahwa peningkatan kasus ini harus menjadi perhatian lintas sektor. Ia menilai keterlibatan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan sangat penting dalam penanganan masalah ini.
“Kami sebenarnya sudah berencana untuk melakukan hearing dengan Komisi IV DPRD Bondowoso, tapi hingga kini responsnya masih kurang,” katanya.
Selain itu, Funky juga mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki data mengenai lokasi tempat nongkrong kelompok LSL dan lesbian di Bondowoso. Namun, penanganan terhadap kelompok tersebut terkendala aturan.
“Aturannya, penertiban dilakukan oleh Satpol PP. Kita ini susah dalam pendekatan karena sudah ada Peraturan Bupati (Perbup). Tahun lalu, data kami mencatat ada 729 LSL di Bondowoso, baik yang positif maupun negatif HIV,” bebernya.
Secara keseluruhan, jumlah kasus HIV di Bondowoso telah mencapai sekitar 1.500 orang. Funky menilai kondisi ini sudah dalam tahap darurat, terutama karena telah menyentuh kalangan pelajar.
“Ketika kami melakukan pendampingan, kami juga menelusuri siapa saja yang bergaul dengan pasien positif HIV. Ini penting untuk memutus rantai penyebaran,” pungkasnya. [awi/beq]






