Ponorogo (beritajatim.com) – Kepergian Prof. KH. Amal Fathullah Zarkasyi tak sekadar meninggalkan duka, tetapi juga jejak panjang keteladanan. Di mata Din Syamsuddin, mantan Ketua PP Muhammadiyah, almarhum bukan hanya pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), melainkan sosok ulama pembelajar yang tak pernah menuntaskan pencarian ilmunya hingga akhir hayat.
Wafatnya salah satu Pimpinan PMDG itu membuat kawasan kediaman di komplek pondok di Desa Gontor Kecamatan Mlarak Ponorogo, sejak Sabtu (3/1/2026) sore dipadati ribuan santri dan pelayat. Suasana hening menyelimuti kompleks pondok. Lantunan ayat suci Alquran bergema bergantian.
Bagi keluarga besar Gontor, kepergian almarhum, bukan sekadar perpisahan, melainkan momen menundukkan kepala pada perjalanan hidup seorang guru yang telah menunaikan baktinya.
Din Syamsudin yang juga merupakan keponakan almarhum, menegaskan wafatnya Prof. Amal Fathullah Zarkasyi merupakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi alumni PMDG yang tersebar di Indonesia hingga mancanegara.
“Memang beliau sudah cukup lama mengalami sakit, kita berharap sakit yang beliau derita ini sesuai hadist bisa meluluhkan dosa-dosanya,” ungkap Din Syamsudin, Minggu (4/12/2026).
Namun, di balik duka itu, Din melihat warisan paling berharga yang ditinggalkan almarhum adalah etos keilmuan. Menurutnya, Prof. Amal Fathullah Zarkasyi merupakan figur yang menjadikan belajar sebagai napas hidup.
Semangat itu telah tumbuh sejak usia belia. Setelah menamatkan pendidikan sarjana di Institut Darussalam Gontor, almarhum melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya hingga meraih gelar Doktorandus (Drs). Alih-alih berhenti, almarhum justru terus melangkah, menempuh perjalanan intelektual lintas negara.
“Semangat belajar beliau sejak SD sangat tinggi, setelah selesai meraih gelar Drs beliau langsung meneruskan kembali belajar dengan pergi ke Mesir, Pakistan hingga Malaysia,” tutur mantan Ketua MPR tersebut.
Bagi Din Syamsuddin, perjalanan akademik itu bukan sekadar pencarian gelar, melainkan wujud kesetiaan almarhum pada nilai dasar Gontor. Yakniilmu harus terus diperjuangkan, di mana pun dan kapan pun. Hingga akhirnya, dedikasi panjang itu mengantarkan Prof. Amal Fathullah Zarkasyi meraih gelar Profesor. Dimana itu sebuah pencapaian yang diraih bukan dengan jalan singkat, melainkan ketekunan bertahun-tahun.
Tak hanya di dunia akademik, almarhum juga aktif berkhidmat di ruang publik. Dia tercatat terlibat dalam berbagai organisasi keilmuan dan keumatan, seperti Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Aktivitas itu memperlihatkan wajah ulama yang tak berjarak dengan realitas, sekaligus intelektual yang tetap berpijak pada nilai-nilai pesantren. Din berharap, keteladanan almarhum tidak berhenti sebagai kisah duka, melainkan menjadi cermin bagi generasi penerus.
“Sosok almarhum KH. Amal Fatkhullah Zarkasyi dapat menjadi suri tauladan bagi para santri, alumni dan seluruh masyarakat,” katanya.
Jenazah Prof. KH. Amal Fathullah Zarkasyi pukul 8.30 WIB disalatkan di Masjid Jami Pondok Gontor oleh ribuan santri, alumni dan masyarakat. Namun, bagi mereka yang pernah belajar, mendengar, dan menyerap nilai-nilai hidupnya, sosok almarhum tak benar-benar pergi. Almarhum, tetap hadir dalam ingatan, sebagai guru, ulama, dan pembelajar sejati. [end/suf]






