Pacitan (beritajatim.com) – Puluhan siswa di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan, diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi menu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (9/4/2026). Sejumlah anak dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, hingga sakit perut, dan sebagian harus mendapatkan perawatan medis.
Dugaan keracunan ini mencuat setelah banyak wali murid mengeluhkan kondisi anak mereka yang mendadak sakit. Informasi awal beredar di media sosial.
Dalam aduannya, salah satu kerabat korban menyampaikan kekecewaan karena belum ada kejelasan tanggung jawab maupun klarifikasi dari pengelola dapur MBG di wilayah Tegalombo.
“Saya contohkan keponakan saya sendiri yang saat ini sedang dirawat inap di RSU Medical Mandiri Pacitan. Siswa kelas 5 SDN 1 Gedangan, Tegalombo. Bagaimana tindakan selanjutnya?” tulis pelapor.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah wali murid SD di wilayah tersebut. Mereka menduga menu MBG yang dikonsumsi anak-anak tidak layak, sehingga memicu gejala keracunan seperti pusing dan muntah.
Kepala Desa Ngreco, Susilo Hadi, mengungkapkan kejadian ini mulai terungkap saat banyak ketua RT datang terlambat dalam rapat desa pada Jumat (10/4). Setelah ditelusuri, keterlambatan itu karena para orang tua tengah mengantar anak mereka ke fasilitas kesehatan.
“Saya tanya, ternyata banyak yang sedang mengantar anaknya ke puskesmas. Keluhannya sama, muntah-muntah dan sakit perut setelah makan MBG,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Program MBG diketahui menyasar siswa SD dan TK di wilayah Tegalombo. Namun dampaknya cukup luas. Tidak hanya siswa SD, sejumlah anak TK juga dilaporkan absen usai pembagian makanan.
Sejumlah warga menduga sumber keracunan berasal dari buah melon yang terasa kecut atau saus tahu dalam menu makanan. “Ada yang bilang buah melonnya kecut, ada juga yang menduga dari saus tahu. Tapi yang jelas, setelah makan itu mereka langsung muntah,” imbuh Susilo.
Berdasarkan data sementara, sedikitnya 12 siswa dari jenjang TK hingga SMP harus menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas Pembantu Tegalombo dan RSU Medical Mandiri, sejak 9 hingga 10 April 2026.
Para siswa tersebut berasal dari beberapa desa, di antaranya Kebondalem, Gedangan, Ngreco, Kemuning, dan Tegalombo. Gejala yang dialami relatif seragam, yakni mual, muntah, sakit perut, hingga diare.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kejadian tersebut maupun langkah penanganan lanjutan dari program MBG di wilayah Tegalombo. (tri/kun)






