Makassar (beritajatim.com) – Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, bukan hanya tentang keindahan alam. Ini adalah kisah perjuangan, pelestarian, dan mimpi besar masyarakat adat yang kini bersinar lewat energi matahari dan harmoni dengan hutan.
Menase Fami masih ingat betul saat ia bersama empat marga kampungnya menggelar upacara adat di lahan yang selama puluhan tahun dianggap sakral. Di sinilah awal perjalanan Kampung Adat Malasigi menuju perubahan dimulai. Tempat itu bukan tanah biasa — di bawah aliran Sungai Klaluguk, tersembunyi mata air panas yang selama ini hanya disakralkan oleh masyarakat adat.
Namun hari ini, di tempat yang sama, berdiri tegak panel surya. Dari energi matahari, kampung ini menyala — secara harfiah dan maknawi. Tidak hanya lampu yang menyala, tapi juga harapan dan martabat warga.
“Jujur saja, kami khawatir kalau alam kami di Papua itu akan berubah jadi perkebunan sawit. Jadi ini cara kami mempertahankan ekosistem yang ada dengan mengemasnya menjadi desa adat,” tutur Menase saat berbagi kisah di hadapan ratusan jurnalis dalam Media Gathering Pertamina Hulu Energi Regional Indonesia Timur, Senin (23/6/2025) di Hotel Claro Makassar.
Transformasi ini bukan terjadi begitu saja. Perjalanan itu ditenagai oleh kolaborasi: antara semangat warga dan dukungan Pertamina EP Papua Field melalui program CSR bernama Local Hero. Tujuannya jelas: mendukung kemandirian masyarakat dengan pendekatan keberlanjutan.
Harmoni dengan Alam, Hidup dari Hutan
Hari ini, Kampung Adat Malasigi berdiri sebagai contoh ekowisata berbasis energi baru terbarukan (EBT). Kampung ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan dan udara bersih. Ia menyimpan cerita tentang 5 jenis burung Cendrawasih endemik Papua yang beterbangan bebas: Cendrawasih Raja, Mati-kawat, Kecil, Belah-rotan, dan Toowa Cemerlang. Di balik hutan tropisnya, terhampar pula kerajinan tangan dari mama-mama Papua, tarian adat, hingga pemandian air panas alami.
“Waktu kami buka lahan itu, kami lihat ada lima jenis Cendrawasih. Itu jadi penguat keyakinan bahwa kami harus melestarikan kawasan ini,” ungkap Menase dengan mata berbinar.
Tak hanya wisata alam, warga kini mampu mengelola potensi ekonomi dari hutan secara lestari: memanen hasil hutan non-kayu, memproduksi kerajinan lokal, dan menjadikan kawasan itu tujuan wisata berkelanjutan. Semua tanpa menebang, apalagi menggusur hutan.
Terangi Harapan, Jaga Masa Depan
Peran Pertamina EP Papua tidak sekadar mendatangkan teknologi. Melalui program Local Hero, mereka menanamkan kesadaran kolektif: bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan lingkungan. Justru, keberlanjutan lah yang menjadi fondasi pertumbuhan.
“Program ini sejalan dengan komitmen kami untuk mendukung SDGs, terutama dalam aspek ketahanan energi dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Rahmat Drajat, Manager Comrel dan CID Regional Indonesia Timur.
Kampung Adat Malasigi pun panen penghargaan. Pada 2024, mereka dinobatkan sebagai Juara 1 Desa Wisata Rintisan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) oleh Kementerian Pariwisata. Penghargaan lain datang dari Istana, hingga pengakuan sebagai pemuda pelopor bidang lingkungan dan pariwisata.
Kini, nama Kampung Adat Malasigi bukan hanya bergaung di Sorong, tapi hingga ke media sosial dan kanal YouTube. Mereka mempromosikan potensi kampungnya secara mandiri. Wisatawan lokal dan mancanegara pun mulai berdatangan. Dari ujung timur Indonesia, mereka menjemput inspirasi — bahwa pelestarian dan kemajuan bisa berjalan seiring.
Warisan untuk Anak Cucu
Kisah Kampung Adat Malasigi adalah potret kecil dari harapan besar Papua. Tentang bagaimana menjaga warisan leluhur tidak berarti menolak perubahan, melainkan mengelolanya dengan bijak. Di tangan warga, energi surya tidak hanya menyalakan lampu, tapi juga martabat.
Dan ketika malam tiba di Malasigi, cahaya panel surya yang bersinar lembut bukan hanya menerangi rumah — tapi juga masa depan yang sedang dirajut oleh mereka yang percaya bahwa perubahan sejati dimulai dari kampung sendiri. [dya/beq]






