Jombang (beritajatim.com) – Sore itu, Jumat (20/6/2025), langit Kecamatan Ploso berselimut mendung tipis. Di Gang Buntu, Desa Rejoagung, ratusan warga berkumpul, membentuk lautan manusia yang larut dalam hening penuh harap.
Tak sekadar kirab, ini adalah napak tilas yang membuka kembali lembaran sejarah yang selama ini nyaris terpinggirkan—sejarah tentang kelahiran Putera Sang Fajar, Soekarno, yang diyakini lahir dari rahim bumi Ploso, Jombang.
Ratusan pasang kaki mulai melangkah pelan dari titik nol Bung Karno—sebuah rumah sederhana di Gang Buntu, yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Proklamator RI pada 6 Juni 1902. Di sinilah kirab dimulai, diiringi lantunan doa dan mata yang berbinar oleh kebanggaan.
Tak sekadar kirab, tapi juga panggung teatrikal digelar. Seorang perempuan berpakaian putih, melambangkan Ibu Pertiwi, seolah menggambarkan proses kelahiran Bung Karno ke dunia. Ia mengejan dalam simbolik perjuangan, lalu lahirlah bayi lelaki yang kelak mengguncang penjajahan dan memimpin bangsanya menuju gerbang kemerdekaan.
Adegan itu menggugah. Banyak mata yang berkaca-kaca. Ada yang terisak pelan. Sejarah, ternyata, bukan hanya tentang teks dan data. Ia hidup. Ia terasa.
Barisan kirab kemudian bergerak menuju Sekolah Ongko Loro, tempat ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodiharjo, pernah mengabdi sebagai guru. Di sanalah nilai-nilai pendidikan ditanamkan sejak dini.
Kirab lalu berlanjut ke Sekolah Desa, tempat Soekarno kecil belajar membaca dunia. Langkah kaki berlanjut lagi ke Pondok Pesantren Kedungturi, tempat Bung Karno kecil mengaji, menyerap nilai-nilai spiritual yang kelak mewarnai pidato dan perjuangannya. Kirab berakhir di Kantor Desa Losari, menyempurnakan perjalanan spiritual dan historis itu.
Dalam kirab ini, Camat Ploso, Tridoyo Purnomo, memainkan peran sebagai Soekarno. Dengan baju safari putih dan peci hitam, ia berjalan di depan rombongan. Wajahnya tenang, tapi dalam dadanya berkobar semangat untuk mengangkat kembali nama Ploso dalam peta sejarah nasional.
“Kirab ini adalah bentuk penghormatan kita kepada Sang Proklamator,” ucap Camat Tridoyo, berdiri di depan warga. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini, sembari mengingatkan peserta untuk tetap menjaga keselamatan sepanjang perjalanan.

Yang paling menggugah adalah pernyataan dari pegiat sejarah, Arif Yulianto, atau yang akrab disapa Cak Arif. Dengan penuh keyakinan, ia menyampaikan hasil riset yang menguatkan bahwa Bung Karno memang lahir di Ploso.
“Data-data terbaru yang kami kumpulkan semakin mengerucut. Bung Karno lahir di Desa Rejoagung, Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902,” tegasnya.
Sebagai anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang, Cak Arif bahkan menyebut bahwa pada tahun 2024 lalu, TACB telah mengeluarkan surat rekomendasi agar rumah kelahiran Bung Karno di Ploso ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.
“Oleh karena itu, kami berharap Bupati Jombang segera menetapkannya agar situs ini bisa dilestarikan,” pungkasnya.
Hari mulai gelap ketika kirab usai. Namun semangat warga Ploso tak redup. Mereka tak sekadar mengiringi nama besar Bung Karno, tapi juga menegakkan kembali jati diri desa kecil ini sebagai saksi kelahiran pemimpin besar bangsa.
Dari Gang Buntu di Desa Rejoagung, cerita besar ini dimulai—dan hari itu, Ploso membuktikan bahwa sejarah tak pernah mati, hanya menunggu untuk dibangkitkan kembali oleh rakyatnya sendiri. [suf]






