Bojonegoro (beritajatim.com) – Dampak adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, pendapatan driver ojek online (Ojol) di Kabupaten Bojonegoro turun. Kenaikan tarif yang ditetapkan belum mampu menutup biaya operasional.
Salah seorang driver ojek online (Ojol) di Kabupaten Bojonegoro Niswatin mengatakan, meski per 11 September 2022 lalu Kemenhub telah menaikkan tarif angkutan Ojol, namun hal itu belum memenuhi kebutuhan untuk operasional sehari-hari.
“Pendapatan berkurang. Seumpama biasanya setiap hari hanya Rp30 ribu untuk dana BBM dan sekarang bisa mencapai Rp50 ribu, bahkan lebih,” ujarnya, Rabu (14/9/2022).
Sedangkan, lanjut Niswatin, perolehan order sendiri belum tentu bertambah, bahkan bisa berkurang karena adanya kenaikan harga sejumlah makanan dampak kenaikan harga BBM. “Bahkan lebih sedikit karena konsumen juga berkurang akibat kenaikan harga makanan,” terangnya.
Selain kerugian materi, driver perempuan itu juga mengungkapkan mengalami kerugian waktu dan tenaga. Sebelum kenaikan harga BBM, dia mengaku bisa pulang sekitar pukul 21.00 WIB, tetapi setelah kenaikan harga BBM subsidi harus pulang lebih lama untuk mengejar order.
“Setelah BBM naik harus pulang lebih lama dibandingkan dengan sebelum kenaikan BBM karena harus bisa memperoleh pendapatan yang sesuai dengan sebelum kenaikan BBM,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”harga-bbm-naik”]
Sekadar diketahui, tarif ojol terbaru untuk wilayah Jawa yakni, tarif batas bawah yang ditetapkan naik dari Rp1.850 menjadi Rp2.000 dan tarif batas atas naik dari Rp2.300 menjadi Rp2.500. Tarif minimal ditetapkan sebesar Rp8.000 sampai Rp10 ribu.
Salah seorang warga Desa Pacul, Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro Dian mengatakan, dampak kenaikan harga BBM berpengaruh pada banyak sektor. Termasuk harga makanan dan tarif ojek online (Ojol). “Kalau ada waktu, lebih memilih untuk beli sendiri, dibanding menggunakan jasa ojek,” katanya. [lus/but]






