Magetan (beritajatim.com) – Hujan deras yang terus mengguyur wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dalam dua pekan terakhir mengakibatkan kerusakan parah pada tanaman sayuran milik petani.
Berbagai jenis tanaman seperti tomat, seledri, selada, dan cabai mengalami penurunan kualitas dan produktivitas.
Kondisi tanaman tomat di Kecamatan Plaosan menunjukkan kerusakan signifikan. Tanaman yang sebelumnya telah enam kali panen kini mengalami daun keriting dan mati akibat cuaca ekstrem.
Akibatnya, hasil panen tomat menurun drastis hingga 50%, dari rata-rata 5 kuintal per panen menjadi hanya 2,25 kuintal per lahan seluas 750 meter persegi.
Meski harga tomat di tingkat petani saat ini meningkat menjadi Rp12.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp5.000–Rp6.000 per kilogram, kerusakan ini tetap membuat petani merugi.
Tidak hanya tomat, tanaman selada dan seledri juga terdampak curah hujan tinggi. Petani melaporkan banyak tanaman selada yang rusak, sementara seledri mengalami busuk meski harga di tingkat petani naik menjadi Rp10.000 per kilogram dari sebelumnya Rp5.000 per kilogram.
Tanaman cabai juga tidak luput dari dampak buruk hujan deras. Banyak cabai yang busuk meski petani telah berusaha melakukan berbagai langkah antisipasi. Hingga kini, upaya tersebut belum membuahkan hasil optimal.
Subarno, salah satu petani di Magetan, mengungkapkan bahwa tingginya curah hujan membuat sebagian besar tanaman mereka rusak. “Hujan ini membuat tanaman tomat rusak, banyak yang busuk. Meski harga jual naik menjadi Rp12.000, kami tetap merugi,” katanya, Senin (09/12/2024)
Wagiman, petani lainnya, menambahkan, “Harganya memang naik, tapi tanaman kami banyak yang mati akibat hujan terus-menerus.”
Kondisi ini memaksa sebagian besar petani sayur di Magetan merugi karena biaya perawatan yang mereka keluarkan tidak sebanding dengan hasil panen. Jika cuaca ekstrem terus berlanjut, para petani tidak memiliki pilihan lain selain mengganti tanaman mereka dengan jenis sayuran yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem. [fiq/ted]






