Jakarta (beritajatim.com) – Andai saja Piala Dunia 2018 menampilkan 48 tim dengan delapan slot untuk Asia, mungkin Harry Redknapp, pelatih senir Inggris, akan membawa Yordania mencatat sejarah lebih awal.
Namun, itu hanyalah spekulasi. Kini, delapan tahun setelah masa jabatan singkat Redknapp, Yordania benar-benar mewujudkan impian: mereka lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Pada Maret 2016, Redknapp ditunjuk untuk dua laga kualifikasi melawan Bangladesh dan Australia. Ia mencatat kemenangan telak 8-0 atas Bangladesh, namun kemudian kalah 5-1 dari Australia. Perjalanan singkatnya pun berakhir, karena Yordania gagal melaju ke babak ketiga kualifikasi.
Sebelumnya, Ray Wilkins juga sempat memegang kendali pada 2014, membawa Frank Stapleton sebagai asistennya. Namun, setelah gagal lolos dari fase grup Piala Asia 2015, kontraknya tidak diperpanjang.
Kedua pelatih asal Inggris itu direkrut oleh Pangeran Ali bin al-Hussein, presiden federasi yang saat itu juga menantang Sepp Blatter dalam pemilihan presiden FIFA.
“Saya tidak punya tongkat ajaib. Jika saya bisa memberi tambahan lima persen untuk membuat perbedaan, itu sudah cukup,” kata Redknapp saat itu, dilansir dari Guardian.
Tapi seperti sejarah mencatat, lima persen itu tak cukup membawa Yordania ke Piala Dunia.
Kini, kesuksesan itu datang bukan dari pelatih Eropa, melainkan dari Afrika Utara. Hussein Ammouta, pelatih asal Maroko yang ditunjuk pada Juni 2023, membawa perubahan besar.
Dalam perhelatan Piala Asia 2023, Yordania mengejutkan banyak pihak dengan menembus final, termasuk kemenangan atas Korea Selatan di semifinal. Mereka akhirnya kalah dari Qatar, namun penampilan mereka mencuri perhatian.
Gaya permainan Yordania di bawah Ammouta cerdas dan disiplin. Mereka tidak mendominasi penguasaan bola, tapi mematikan dalam serangan balik.
Nama-nama seperti Yazan Al-Naimat dan Musa Al-Tamari dari klub Prancis Rennes menjadi tumpuan lini depan. Keduanya menjadi simbol dari generasi baru sepak bola Yordania yang kini bersinar.
Namun, pada Juni 2024, Ammouta mengundurkan diri dengan alasan keluarga. Keputusannya sempat memicu kontroversi ketika ia kemudian menerima tawaran melatih klub UEA, Al Jazira, dan bahkan hampir mengambil alih tim nasional Irak yang jadi rival utama Yordania dalam perebutan tiket otomatis Piala Dunia. Pada akhirnya, Ammouta menolak tawaran itu.
Penggantinya, Jamal Sellami — juga dari Maroko — menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ia memastikan tempat Yordania di Piala Dunia 2026 setelah menang 3-0 atas Oman dan menahan imbang Irak dalam pertandingan terakhir grup.
Pesta besar pun berlangsung di seluruh negeri. Bendera Yordania berkibar dari jendela mobil, papan iklan menyampaikan ucapan selamat, dan masyarakat mulai bermimpi.
Mereka membicarakan kemungkinan bertemu Brasil, Argentina, Portugal, Spanyol — bahkan Inggris.
Jika pertemuan dengan Inggris benar-benar terjadi di Piala Dunia 2026, mungkin saat itulah Redknapp dan Wilkins kembali menjadi topik pembicaraan.
Untuk sekarang, mereka tetap bagian dari cerita masa lalu, sementara Yordania menatap masa depan yang lebih cerah di panggung terbesar sepak bola dunia. [faw/aje]






