Surabaya (beritajatim.com) – Texas masih berkabung atas peristiwa penembakan brutal oleh Salvador Ramos. Remaja 18 tahun itu mengamuk dan selama 90 menit memberondong Sekolah Dasar Robb di Kota Uvalde dengan peluru dan menewaskan 19 anak tak berdosa.
Saat penembakan massal terjadi, salah satu siswi, Miah Cerillo, menggunakan kecerdasannya untuk bertahan hidup. Gadis 11 tahun itu melumuri tubuhnya dengan darah temannya lalu berpura-pura mati.
Dikutip dari Indiatimes.com, Miah terlambat satu jam ke sekolah karena punya janji dengan dokter hari itu. Tapi harinya dengan cepat berubah setelah penembak tiba di sekolahnya.
Dengan taktik pertahanan diri itu, Miah dan seorang temannya yang juga selamat menggunakan ponsel guru mereka yang tewas untuk meminta bantuan polisi. Kesaksiannya itu adalah laporan pertama yang muncul dari Robb Elementari School Uvalde.
Meski Miah dan satu temannya itu sudah melakukan taktik bertahan hidup death camouflage ini, sayangnya temannya itu tidak selamat. Identitas teman sekelasnya yang meninggal belum terungkap.
Miah menceritakan kepada wartawan lokal bagaimana pertama kali Ramos masuk ke ruang kelasnya. Saat itu Ramos melakukan kontak mata dengan gurunya dan kemudian mengucapkan “Selamat Malam” lalu menembak mati guru itu.
Setelah itu, Ramos memberondong ruang kelas itu dengan tembakan dari senapan semi-otomatisnya. Miah menambahkan dalam kesaksiannya, Ramos lalu pergi ke ruang kelas lain.
Anak-anak menjerit ketakutan ketika Ramos menembaki mereka, sebelum mulai memainkan musik yang keras dan sedih. Di situlah Miah dan temannya mengambil ponsel gurunya dan menelepon 911 untuk meminta bantuan.
Dalam peristiwa itu, Miah yang terluka di kepala dan bahunya, sangat takut pria bersenjata itu akan kembali. Sehingga dia mencelupkan tangannya ke darah seorang teman yang sudah meninggal dan mengoleskannya pada tubuhnya sendiri. Dia kemudian hanya diam berbaring sampai bantuan akhirnya datang.
Ibu Miah, Abigale Veloz, telah membuat halaman GoFundMe untuk membantu membayar bantuan medis dan psikologis yang dibutuhkan putrinya setelah pembantaian tersebut.
“Kelasnya salah satu ruangan utama yang jadi sasaran,” kata Veloz di laman GoFundMe.
“Dia akan membutuhkan banyak bantuan dengan semua trauma yang dia alami,” imbuhnya.
“Putri saya adalah (seorang) orang yang luar biasa dan merupakan saudara perempuan yang sangat baik untuk saudara-saudaranya.”
Pada Jumat (27/5/2022) sore waktu setempat, pendanaan tersebut telah mengumpulkan lebih dari US$270 ribu, jauh di atas target awalnya sebesar US$10 ribu.
Bibi dari gadis 11 tahun itupun membahas taktik bertahan hidup yang digunakan oleh keponakannya. Dia mengatakan kepada wartawan lokal bahwa,
“Miah mendapat darah dan mengoleskannya pada dirinya sendiri untuk berpura-pura bahwa dia sudah mati,” katanya. “Adik ipar saya mengatakan bahwa [Miah] melihat temannya berlumuran darah, dan dia mendapat darah dan mengoleskannya pada dirinya sendiri,” kata dia.
Bibinya mengatakan anak berusia 11 tahun itu terluka dalam penembakan itu tetapi dia sekarang telah pulih dan keluar dari rumah sakit. Bibinya mengungkapkan bahwa Miah sedang berjuang untuk pulih dari trauma dan kematian teman-teman sekelasnya.
Saudara perempuannya yang duduk di kelas dua juga terguncang akibat serangan itu. Namun, sebagai keluarga, ia menyebutkan bahwa seluruh keluarga besarnya akan membantu kakak adik itu untuk mengatasi traumanya. (adg/beq)






