Mojokerto (beritajatim.com) – Budayawan asal Jombang Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun melantunkan ‘Salawat Jibril’ untuk melepas sahabatnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, turun dari panggung. Salawat yang dibarengi iringan gamelan Kiai Kanjeng itu juga diikuti ribuan jamaah Maiyah yang hadir di Pondok Segoro Agung Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, Senin malam (26/12/2022).
Namun di ujung panggung Prabowo menghentikan langkah kakinya. Dia berdiri tegap menghadap ribuah jamaah yang hadir. Menhan lalu melepas peci hitam yang bertengger di kepalanya. Peci itu diberikan ke pedagang asongan yang ada di barisan depan. Prabowo juga melepas jam tangan, lalu diberikan kepada pedagang lainnya.
Prabowo tidak puas hanya itu. Dia melepas baju safari warna coklat muda yang membalut tubuhnya. Lagi-lagi, pakaian tersebut diberikan kepada orang yang ada di barisan depan. Jadilah mantan Danjen Kopassus ini hanya mengenakan kaus oblong warna hitam. Rambut di kepalanya juga dibiarkan tanpa peci. Prabowo kemudian turun dari panggung. Dia meninggalkan panggung ‘Sinau Bareng Mbah Nun dan Kiai Kanjeng’. Yakni, acara yang digelar BKKBN dengan tema pemberantasan stunting.
Dalam acara itu, awalnya Cak Nun mengucapkan selamat datang untuk Prabowo Subianto. Mereka kemudian duduk lesehan di atas panggung. “Beliau ini sahabat saya yang sudah sangat lama. Beliau sahabat yang sampai saat ini saya belum paham. Nanti beliau akan menjadi pembicara dalam forum ini,” ujar Cak Nun sembari menunjuk Prabowo yang duduk di sebelahnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”cak-nun”]
Di panggung itu pula keduanya nampak akrab. Di tengah suguhan lagu yang dimainkan oleh Kiai Kanjeng, tak jarang Prabowo membisiki Mbah Nun. Lalu saling tersenyum. Seiring dengan itu, kawasan Trowulan dan sekitarnya diguyur hujan deras. Namun demikian, ribuah jamaah Maiyah tidak bergeser dari tempat duduknya. Mereka menikmati ‘Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng’ di bawah guyuran hujan.
Dalam situasi seperti itu, Cak Nun justru bergeser ke bibir panggung. Menyapa jamaah lebih dekat. Sehingga sama-sama terpercik air hujan. “Saya sengaja maju. Biar kita kehujanan bersama. Kehujanan atu tidak, kalau Mbah dan cucunya bisa bersama, itu membuat bahagia,” lanjut pria kelahiran Desa Mentoro Kecamatan Sumobito Kabupaten Jombang ini.
Hal itulah yang membuat Prabowo kagum. Itu diungkapkan Prabowo saat menyampaikan sambutan di atas panggung. Menurut Prabowo, dirinya sudah lama ingin bertemu Cak Nun. Karena Cak Nun merupakan sahabat lamanya. Namun keduanya sama-sama sibuk sehingga lama tidak bertemu.
[berita-terkait number=”2″ tag=”prabowo-subianto”]
“Cak Nun banyak kegiatan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Saya juga banyak kegiatan. Sehingga kami lama tidak bertemua. Dalam kondisi itu saya mendapatkan undangan untuk hadir di sini. Kebetulan saya sedang berada di Jawa Timur. Maka saya sangat bangga bisa hadir. Saya merasa sangat dihormati. Apalagi tempatnya di Trowulan. Sebuah tempat yang pernah menjadi ibu kota imperium Majapahit. Trowulan adalah pusat peradaban,” ujar Prabowo yang disambut tepuk tangan.
Prabowo beberapa kali mengungkapkan bahwa antara dirinya dengan Cak Nun adalah sahabat lama. Bagi Prabowo, Cak Nun bukan sekadar kiai, tapi juga intelektual dan cendikiawan. Sudah begitu, suami dari Novia Kolopaking ini juga memiliki keberpihakan terhadap rakyat. Cak Nun, kata Prabowo, adalah sosok yang berani. Ceramah-ceramahnya sering membuat penguasa terkejut-kejut. “Cak Nun tidak berubah. Tetap seperti dulu. Begitulah beliau. Saya hormat dan kagum kepada Cak Nun. Alhamdulilah hari ini bisa bertemu,” lanjut Prabowo.
“Luar biasa rakyat Trwoulan ini. Saya hormat, saya sampai malu. Saya mantan tentara kok malah di bawah tenda. Begitu juga Cak Nun, (beliau) memang pemimpin rakyat. Begitu hujan, bukannya mundur, tapi malah maju. Jadi kalau beliau di tentara, minimal pangkatnya bintang tiga. Masak melebihi aku,” kata Prabowo yang disambut tawa hadirin.
Penampilan Prabowo di atas panggung tersebut diakhiri dengan kegembiraan dan kebersamaan. Menhan yang juga Capres 2014 dan 2019 ini bernyanyi bersama. Mulai dari lagu ‘Maju Tak Gentar’ hingga lagu era kekinian. Tidak jarang, tubuh Prabowo bergerak mengikuti alunan musik.
“Teman-teman sekalian. Kita semua malam ini menerima beliau (Prabowo) tidak dengan kebenaran atau kebaikan. Tapi dengan kebijaksanaan. Kita menerima beliau dengan hati kerkayatan, hati kebangsaan, dan hati ibu pertiwi yang lama kita lupakan,” kata Cak Nun sebelum melepas Prabowo dengan iringan ‘Salawat Jibril’. [suf]







