Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto melelang sebilah keris dan sebuah batu rubi dalam penutupan acara pameran dan bursa barang antik yang digelar Paguyuban Antik Jember, di alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (16/7/2023) malam.
Hendy mendapat kehormatan membuka pelelangan barang antik setelah berpidato. Mulanya, ia melelang sebuah batu rubi. Penawaran awal adalah Rp 500 ribu. Barang itu terjual Rp 2,5 juta kepada Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Jember Kasih Fajarini yang juga istri Hendy.
Berbeda dengan lelang batu rubi, lelang keris berjalan lebih alot. “Ini pusaka Nagaraja. Ada sebelas luk (lekukan) sabuk inten dengan pamor melati,” kata Hendy.
Ada lebih dari lima kali penawaran yang muncul. Bahkan dosen Universitas Jember yang juga doktor ilmu komunikasi Muhammad Iqbal yang lebih terbiasa membeli buku daripada membeli keris pun ikut menawar.
Keris itu akhirnya terjual kepada Hendro Soelistijono, seorang dokter yang menjabat Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Jember dengan harga Rp 5 juta. Sebelum menawar, ia sempat maju dan meminta izin untuk melihat dari dekat keris tersebut. “Saya melihat keindahan pamornya. Kita bisa melihat (usia) tua sebuah keris dari pamornya,” katanya usai acara lelang.
Keris Nagaraja adalah keris kedua yang dimilikinya. “Sebelumnya keris biasa saja. Kita harus menyelamatkan benda-benda pusaka Indonesia. Koleksi itu penting agar (benda-benda pusaka) tidak lari ke luar negeri,” kata Hendro.
Acara pameran dan bursa barang antik ini digelar pada 14-16 Juli 2023 dan diikuti seratus orang pelapak yang menjual sejumlah barang antik, mulai dari pusaka keris, tombak, batu akik, batu permata, dan lain-lain. “Ini adalah bagian dari penguatan budaya. Budaya sangat penting kita lestarikan. Melestarikan barang antik adalah bagian dari bagaimana kita mencintai negeri ini,” kata Hendy.
Hendy mengingatkan, bahwa Jember pada masa lampau memiliki sebuah kerajaan bernama Sadeng. “Kita ngomong masa depan negeri kita. Festival hari ini adalah bagian dari penguatan. Packaging untuk mempertahankan itu, agar anak cucu kita senang melestarikannya juga,” katanya.
Selain urusan pelestarian budaya, Hendy mengatakan, pameran tersebut juga berdampak secara ekonomi. “Saat ini kita perlu Jember kuat dan mandiri. Sudah saatnya kita berdiri di atas kaki sendiri,” katanya.
Alasan itu yang membuat Hendy mengizinkan alun-alun digunakan menjadi lokasi berdagang pedagang kaki lima dan usaha mikro kecil menengah. “Ada yang bertanya kok alun-alun seperti pasar? Ya memang seperti pasar. Kita baru saja melewati pandemi Covid. Saya bisa saha bilang jangan berjualan di alun-alun biar alun-alun tetap mulus. Tapi kita perlu penguatan ekonomi. Setelah itu baru Jember kita tata,” katanya. [wir]






