Surabaya (beritajatim)- Diabetes selama ini identik dengan penyakit orang tua. Namun, kenyataannya kini semakin banyak anak muda yang justru menjadi penderita.
Anak muda yang hidup di perkotaan cenderung lebih mudah terkena penyakit diabetes. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan gaya hidup keseharian.
Meski penyakit ini tidak menular, tetapi penyakit ini tidak hanya menyerang fisik, melainkan juga mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Mulai dari penurunan energi, konsentrasi yang mudah terganggu, hingga risiko komplikasi serius seperti kerusakan ginjal, jantung, bahkan penglihatan.
Ironisnya, banyak anak muda tidak menyadari bahwa kebiasaan kecil sehari-hari dapat mempengaruhi kesehatan dan memicu penyakit diabetes. Gaya hidup serba instan, hobi nongkrong sambil menyeruput minuman manis, hingga jarang bergerak karena sibuk dengan gadget membuat generasi sekarang rentan terkena diabetes bahkan di usia belasan atau dua puluhan tahun.
Gaya Hidup Serba Instan
Di era modern seperti sekarang, kehidupan menjadi jauh lebih mudah berkat hadirnya berbagai teknologi canggih. Kendaraan modern membuat perjalanan terasa praktis dan cepat, sementara aneka makanan instan semakin digemari karena dianggap efisien.
Masyarakat, khususnya di perkotaan, cenderung memiliki keterbatasan waktu sehingga lebih sering mengandalkan teknologi dan produk instan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun sayangnya, kepraktisan ini sering diikuti dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan instan atau cepat saji yang tinggi kalori, gula, dan lemak, sehingga tanpa disadari menumpuk risiko bagi kesehatan.
Kebiasaan Konsumsi Makanan Manis
Kopi susu, boba, hingga minuman kekinian dengan aneka topping manis seakan sudah menjadi bagian dari gaya hidup sosial. Meski terasa menyenangkan, minuman tersebut mengandung kadar gula tinggi yang berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus. Ketika kebiasaan ini berlangsung rutin, tubuh rentan mengalami lonjakan gula darah yang menjadi pintu masuk diabetes di usia muda.
Ketergantungan Gadget
Banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, baik untuk belajar, bekerja, maupun hiburan. Pola hidup sedentari ini membuat tubuh minim aktivitas fisik, sehingga metabolisme melambat dan risiko obesitas meningkat. Jika dibiarkan, kombinasi kurang gerak, pola makan instan, serta konsumsi gula berlebih menjadi bom waktu yang memicu diabetes lebih cepat dari yang dibayangkan.
Dalam konteks generasi muda, risiko diabetes menjadi semakin berbahaya karena komplikasi bisa muncul lebih cepat dan langsung mempengaruhi produktivitas sejak usia produktif.
Oleh sebab itu, edukasi tentang gizi seimbang, pembatasan konsumsi gula, serta peningkatan aktivitas fisik harus dijadikan prioritas. Dengan kesadaran dan perubahan sederhana, generasi muda dapat menjaga kesehatan sekaligus memastikan masa depan yang lebih cerah tanpa dibayangi diabetes.
[Erlina Damayanti]






