Surabaya (beritajatim.com) – Lebih dari separuh peserta skrining kesehatan gratis di Puskesmas Made, Surabaya, Sabtu (23/8/2028), terindikasi diabetes setelah hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah acak di atas 200 mg/dl.
Kegiatan ini digelar Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (FK UC) dengan melibatkan sekitar 100 peserta, mayoritas kader PKK dan masyarakat berisiko tinggi diabetes.
“Banyak orang tidak tahu dirinya sudah memiliki tanda diabetes. Padahal deteksi dini sangat penting agar tidak jatuh pada komplikasi,” ujar Dosen sekaligus Wakil Dekan FK UC, dr. Florence Pribadi, M.Si.
Florence menambahkan, pola hidup modern menyebabkan kasus diabetes kini semakin sering ditemukan pada usia muda. Karena itu, edukasi bagi ibu rumah tangga dinilai strategis. “Kalau ibu sehat, keluarga juga sehat,” ujarnya.
Anggota tim, dr. Maria Jessica Rachman, M.Si., mengingatkan bahwa diabetes yang tidak terkendali berisiko memicu komplikasi serius, mulai dari retinopati hingga luka gangren yang bisa berujung amputasi.
Ia mendorong masyarakat untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan sejak usia 18 tahun, minimal setahun sekali. “Manfaatkan program pemeriksaan kesehatan gratis pemerintah,” katanya.
Kegiatan ini juga dihadiri akademisi dari International Islamic University Malaysia (IIUM). Prof. Dr. Mohd. Aznan Bin Md. Aris menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk pencegahan diabetes.
“Isu diabetes adalah tantangan regional. Edukasi berbasis komunitas harus diperkuat agar masyarakat benar-benar mencegah sejak awal,” katanya.
Assoc. Prof. Dr. Maizura Binti Mohd. Zainudin menambahkan, pendekatan praktis dengan contoh bahan makanan sehari-hari lebih mudah dipahami warga dibanding sekadar paparan teori.
Menurutnya, pencegahan memang tidak instan, tetapi dampaknya akan besar jika dilakukan konsisten. “Memang tidak instan. Tapi kalau sedikit demi sedikit dilakukan terus-menerus, dampaknya akan besar,” jelasnya.

Ketua tim pengabdian masyarakat FK UC, dr. dr. Salmon Charles Siahaan, SpOG, menyebut warga sangat antusias mengikuti kegiatan. Ia berharap perubahan kecil dalam pola hidup bisa memberi dampak besar dalam mencegah diabetes serta membangun komunitas sehat dan mandiri.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 8,2 juta warga telah menjalani skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari jumlah itu, 5,9 persen terdeteksi diabetes, dan satu dari 10 orang berusia di atas 40 tahun terdiagnosis penyakit ini.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan 11,7 persen penduduk usia 15 tahun ke atas terindikasi diabetes berdasarkan pemeriksaan gula darah. [ipl/suf]






